Ketika Produk Bisa Ditiru, Apa yang Sebenarnya Harus Dipertahankan Brand?

0
14
Ketika Produk Bisa Ditiru, Apa yang Sebenarnya Harus Dipertahankan Brand?

rumahukm.com Produk bisa ditiru, fitur bisa diduplikasi, packaging bisa dibuat mirip, harga bisa diturunkan, campaign yang sukses pun bisa muncul dalam versi lain. Di tengah kondisi seperti ini, pertanyaannya menjadi semakin penting: kalau produknya bisa ditiru, apa yang membuat customer tetap memilih brand yang sama?

Simon Sinek membicarakan why, Marty Neumeier tentang gut feeling, sementara Pak Bi banyak menekankan Brand DNA dan positioning. Benang merahnya ada pada makna. Orang tidak selalu membeli produk hanya karena fungsi. Mereka membeli rasa percaya, pengalaman, identitas, kenyamanan, bahkan perasaan bahwa sebuah brand “mengerti mereka”. Dua coffee shop sama-sama menjual kopi, tetapi satu bisa menjadi tempat meeting, yang lain menjadi tempat pulang setelah hari yang melelahkan.

Aaker memasukkan brand loyalty sebagai salah satu bagian penting dari brand equity. Loyalitas tidak muncul hanya karena produknya bagus, namun tumbuh dari pengalaman yang berulang dan hubungan yang semakin kuat. Karena itu, ketika kompetitor datang dengan produk serupa, customer belum tentu berpindah. Ada sesuatu yang sudah terbentuk lebih dulu: rasa familiar, kepercayaan, kebiasaan, dan pengalaman bersama brand.

Jadi ketika kompetitor meniru produk, pertanyaannya tidak selalu harus, “Bagaimana membuat produk yang lebih sulit ditiru?” Ada pertanyaan lain yang sama pentingnya: “Apa yang membuat orang tetap memilih kita ketika pilihan lain tersedia?” Karena seperti yang sudah dijelaskan tadi, produk bisa dibuat ulang, packaging bisa disalin, campaign bisa diadaptasi, tetapi hubungan yang sudah bertahun-tahun hidup di kepala dan hati customer tidak bisa dicopy-paste begitu saja.

 

Penulis: Mayangwangi

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here