rumahukm.com Threads memang terasa sederhana. Kamu cuma harus menulis, posting, lalu buat interaksi. Justru karena itu, banyak orang akhirnya membahas terlalu banyak hal. Hari ini bisnis, besok lifestyle, lusa ikut tren. Aktif, iya. Tapi setelah beberapa waktu, muncul pertanyaan: orang mengenal kita sebagai apa?
Dalam ilmu branding Pak Bi, beliau sering membahas pentingnya positioning, yakni bagaimana sebuah brand menempati “laci” tertentu di benak manusia. Prinsip ini juga berlaku untuk personal branding. Kamu tidak harus hanya membahas satu topik, tetapi perlu punya benang merah yang membuat orang tahu apa yang bisa mereka harapkan darimu. Audiens tidak akan mengingat semua postingan, mereka akan mengingat kesan yang paling sering muncul.
Threads juga bukan ruang untuk broadcasting, namun sudah menjadi ruang interaksi. Meta menyebut replies menyumbang hampir setengah dari views di Threads. Jadi, jangan hanya sibuk membuat posting sendiri, terlibatlah membaca, merespon, berdiskusi, dan memberikan perspektif. Karena cara kamu ikut ngobrol juga menjadi bagian dari personal branding.
Marty Neumeier melihat brand sebagai gut feeling, sementara David Aaker membahas brand associations, yaitu hal-hal yang melekat dalam ingatan audiens. Dalam personal branding, prinsipnya sederhana: kalau ingin dikenal karena sesuatu, bangun percakapan di territory tersebut secara konsisten. Tidak harus selalu berupa tips. Observasi, opini, cerita, pengalaman, dan cara kamu merespons orang juga ikut membentuk persepsi.
Jadi sebelum bertanya hari ini mau posting apa, coba tanyakan, kalau orang membaca Threads-mu misalnya selama tiga bulan, kamu ingin mereka mengenalmu sebagai siapa? Karena personal branding tidak lagi tentang seberapa sering kamu muncul, tapi apa yang “tertinggal” setelah kamu muncul. Kalau kamu sedang membangun personal brand dan ingin memahami fondasi branding dengan lebih terstruktur, Kitab BBB bisa jadi tempat untuk mulai belajar. Sudah punya?
Penulis: Mayangwangi


























