rumahukm.com “Brand harus konsisten.” Setuju. Tapi konsisten tidak berarti semua konten harus terlihat sama, memakai kalimat yang sama, atau mengikuti template yang sama terus-menerus. Apalagi satu brand sekarang bisa hadir di Instagram, TikTok, Threads, LinkedIn, website, WhatsApp, event, sampai toko fisik. Kalau semuanya dibuat persis sama, yang muncul malah terasa kaku.
Aaker membicarakan brand identity, sementara Keller menjelaskan bagaimana berbagai pengalaman dan touchpoint ikut membentuk pengetahuan customer terhadap sebuah brand. Artinya, konsistensi brand lebih luas daripada warna, font, dan logo. Yang perlu konsisten adalah karakter dan asosiasinya. Cara brand berpikir, berbicara, merespons, dan memperlakukan orang.
Seperti manusia, konteks boleh mengubah cara bicara tanpa mengubah siapa dirinya. Serius ketika sedang bekerja, santai ketika bercanda, lebih lembut ketika berbicara dengan anak. Brand juga boleh punya gaya berbeda di platform yang berbeda. Yang penting, orang tetap bisa merasakan, “Ini memang gaya mereka.”
Jadi ukuran konsistensi bukan apakah semua konten terlihat identik. Ukurannya justru ketika logo belum muncul pun orang sudah bisa mengenali siapa yang sedang bicara. Konten boleh berubah. Format boleh berubah. Platform boleh berubah. Tren boleh berubah. Karakter brand yang membuat semuanya terasa berasal dari orang yang sama, itulah yang perlu dijaga.
Belajar branding selengkapnya di Kitab BBB. Kamu bisa membeli di lynk.id/pakbi.
Penulis: Mayangwangi


























