rumahukm.com Pertama, coba akui ini terlebih dulu: branding dan marketing sering dianggap sebagai dua istilah yang bisa saling menggantikan, alias sama. Betul?
Padahal, keduanya memiliki fungsi yang berbeda.
Dalam berbagai kesempatan, Pak Bi menjelaskan bahwa marketing bertugas menciptakan transaksi, sedangkan branding membangun alasan mengapa transaksi itu terus berulang. Marketing membuat orang membeli. Branding membuat orang kembali. Perbedaannya mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar bagi keberlangsungan sebuah bisnis.
Bayangkan ada dua coffee shop yang sama-sama menjual kopi berkualitas. Keduanya memasang iklan, membuat promo, dan aktif di media sosial. Namun setelah beberapa bulan, salah satunya mulai memiliki customer tetap yang datang tanpa menunggu promo, sementara yang lain harus terus mengeluarkan budget iklan agar tetap ramai.
Di sini, kita tidak lagi bicara soal rasa kopinya, tapi ternyata yang membedakan adalah “brand”.
Menurut Pak Bi, brand adalah persepsi yang hidup di benak manusia. Apa yang langsung muncul di pikiran ketika seseorang mendengar nama sebuah merk, itulah brand. Persepsi tersebut terbentuk dari pengalaman, komunikasi, pelayanan, kualitas produk, hingga nilai yang terus disampaikan secara konsisten. Di sinilah branding bekerja. Branding membuat sebuah produk memiliki makna, bukan sekadar fungsi.
Seseorang membeli kopi bukan hanya karena ingin ngopi. Ada yang datang karena suasananya terasa seperti rumah, ada yang memilih karena merasa merk tersebut mencerminkan gaya hidupnya, ada pula yang rela membayar lebih mahal karena percaya terhadap kualitas dan pengalaman yang ditawarkan. Semua keputusan itu lahir dari branding.
Penulis: Mayangwangi


























