JAKARTA – Ketatnya persaingan produksi batik dari mancanegara dikhawatirkan mengancam produk serupa dari dalam negeri, terutama yang diproduksi usaha kecil dan menengah (UKM). Karenanya, desainer, pelaku usaha dan konsumen terus berkarya sesuai dengan posisinya masing-masing sehingga batik Indonesia tetap kuat menghadapi persaingan global.
Menteri Perindustrian Saleh Husin mengungkapkan sejumlah negara lain kini gencar memproduksi batik. Saleh memperingatkan apabila tren tersebut tak ditanggapi secara serius oleh produsen di dalam negeri, dikhawatirkan pasar batik nusantara akan didominasi asing.
“Saat ini yang perlu kita waspadai ialah persaingan dengan Malaysia, Tiongkok dan Singapura yang juga memproduksi batik. Untuk itu selain memperkuat produksi dan mengembangkan dari sisi industri, pilihan konsumen membeli batik Indonesia merupakan langkah nyata untuk memenangkan persaingan dengan batik luar,” ungkapnya melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (20/5).
Seperti diketahui, sepanjang 2015, nilai eskpor batik Indonesia mencapai sekitar 156 juta dollar AS atau setara dengan 2,1 triliun rupiah, meningkat 10 persen dari tahun sebelumnya. Selain memperkuat produksi dan pasar dalam negeri, Menperin mengatakan pemerintah terus mendorong ekspor batik, khususnya ke pasar utama, Jepang, Amerika Serikat dan Eropa. “Diharapkan, pasar ekspor terus meningkat,”pungkasnya.
Sumber: Koran-Jakarta.com

























