BALIKPAPAN punya keanekaragaman soal menu jajanan atau makanan khas. Begitu juga dengan cendera mata. Melihat potensi tersebut, Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Balikpapan tak ingin kota ini tertinggal dengan daerah lain. Menggelar Festival Penganan dan Cendera Mata Khas Balikpapan adalah solusinya.
Kemarin (11/9), festival gagasan Disperindagkop Balikpapan tersebut dibuka Wali Kota Balikpapan Rizal Effendi, di e-Walk Balikpapan SuperBlock. Rizal mengatakan, festival ini sangat mengapresiasi semua pihak yang menggagas pelaksanaan pameran penganan dan cendera mata, yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan usaha kecil menengah (UKM).
Pameran seperti ini sangat diperlukan sebagai sarana promosi bagi hasil karya dan produk UKM, sekaligus menjadi motivasi bagi para peminat dan pelaku dunia usaha lainnya untuk ikut mengembangkan diri dalam usaha yang digelutinya.
“Kegiatan ini merupakan ajang pelatihan untuk mereka. Agar ke depan mereka dapat menjadi mutu internasional, mutu yang bisa dijual ke luar, tentunya masih harus dibenahi. Sangat penting, apalagi Balikpapan mengarah ke kota manis, perlu penghasil produk camilan dan cendera mata yang khas. Untuk rasa sudah bagus, hanya membenahi kemasan agar terlihat lebih menarik,” harapnya.
UKM di Balikpapan, lanjut dia, memiliki peran strategis dalam menunjang perekonomian daerah. UKM dipandang sebagai pelopor penggerak ekonomi kerakyatan dan penguatan ketahanan ekonomi nasional. “Saya senang warga semangat mengikuti pameran ini. Inginnya tahun depan lebih meriah daripada tahun sebelumnya, ya setahun dua kali diadakan,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana Doortje Sorta Marpaung mengatakan, para UKM dijaring dari seluruh Balikpapan. Panitia pun ikut serta menyebarkan info dari berbagai macam, mulai media cetak, brosur, website, dan sosial media. Sekitar 130 produk UKM berpartisipasi.
Dia menuturkan, masih banyak pelaku usaha pemula yang masih perlu diberikan arahan. “Festival ini sudah dianggap bagus dan masih terus dikembangkan. Harus benahi ke depannya. Ada Badan Standardisasi Nasional (BSN) di Samarinda, untuk melakukan pengarahan dan pembelajaran,” ungkap Kepala Disperindagkop Balikpapan ini.
Dalam situasi melemahnya ekonomi di Indonesia, UKM masih bertahan. Doortje menyebut, pendataan UKM pada 2012 hingga semester satu pada 2015, ada 18.000 UKM yang tersebar di Kota Minyak.
Sumber: Kaltimpost.co.id

























