Jakarta – Beberapa waktu lalu, tepatnya tanggal 4 September 2014, rumahukm.tv melakukan liputan langsung untuk rekan UKM yaitu Tahu Petis Yudhistira. Wieke Anggarini selaku pemilik dari Tahu Petis Yudhistira menyambut kru kami dengan hangat untuk melakukan wawancara sekaligus liputan proses produksi yang dilakukan Tahu Petis Yudhistira.
Wieke Anggarini yang akrab kami sapa mba Wieke menuturkan banyak hal mulai dari ide awal mendirikan usaha sampai pengamatannya terhadap persiapan UKM Indonesia jelang memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA/AEC). Usaha Tahu Petis Yudhistira ini sendiri dimulai oleh Wieke tahun 2006 yang mana hingga saat ini sudah ada belasan gerai yang tersebar di Jakarta dan Jogjakarta.
Latar belakang Wieke mendirikan usaha Tahu Petis ini adalah rasa kepeduliannya untuk mengangkat citra dari jajanan tradisional khas kampung halamannya di Semarang yang biasa ditemui di jajanan kaki lima ini untuk tampil lebih modern. Maka dari itu Wieke ingin lebih mempopulerkan Tahu Petis di ibukota Jakarta dengan konsep yang lebih modern. Saat awal berdirinya Tahu Petis Yudhistira, Wieke melakukan berbagai cara dalam hal pemasaran, baik itu melalui brosur, internet, dan media sosisal.
Selain rasa kepeduliannya terhadap jajanan tradisional Semarang tersebut, ada satu hal lagi yang melatar belakangi Wieke untuk mendirikan usaha ini, yaitu ingin punya waktu lebih banyak bersama keluarga. Sebelum mendirikan Tahu Petis Yudhistira, Wieke bekerja di perusahaan multinasional. Karena ingin berkeluarga dan mengalokasikan waktu lebih banyak untuk keluarga, mba Wieke memberanikan diri untuk menekuni usaha ini dan turut andil mendukung perekonomian keluarga.
Semarang telah dikenal dengan berbagai oleh-oleh khasnya seperti Lumpia, Bandeng, dan Wingko Babat, namun Tahu Petis tidak begitu populer. Wieke melihat hal itu sebagai peluang untuk berinovasi menaikkan citra dari Tahu Petis di Jakarta. Tahu petis menarik untuk digarap karena di Jakarta tempat berkumpul berbagai lapisan masyarakat. Produk tahu petis ini bisa tampil dengan tampilan representatif tidak hanya sebagai jajanan kaki lima.
Usaha Tahu Petis ini diawali dengan modal sendiri, tidak terlalu besar sekitar 3 juta Rupiah digunakan untuk membuka gerai/rombong sederhana di kawasan Tebet. Seiring berjalannya waktu, tempat berjualan Tahu Petis Yudhistira ini sempat pindah ke berbagai tempat seperti Pasar Santa, ITC Kuningan, dan yang paling bergengsi adalah di Food Court Plaza Indonesia tahun 2007-2011.
Dalam menjalankan usaha ini, Wieke sempat mengalami jatuh bangun sampai akhirnya pada tahun 2008 yang menjadi turning point bagi Tahu Petis Yudhistira. Tahun 2008, Wieke Anggarini menjadi pemenang kontes Wirausaha yang diadakan majalah top tanah air Femina. Berkat gelar tersebut, Tahu Petis Yudhistira mendapatkan banyak liputan dari berbagai media dan juga tawaran bekerja sama.
Tahun 2010 Tahu Petis Yudhistira membuka peluang untuk kemitraan masih untuk area Jakarta. Responnya cukup baik saat itu, karena resppon baik itulah Wieke juga terus belajar bagaimana mengembangkan usahanya dengan sistem kemitraan.
Selain berusaha mendalami ilmu membangun sistem kemitraan, Wieke juga terus berupaya untuk menghadirkan kemasan Tahu Petis Yudhistira di dalam jaringan ritel modern. Bak gayung bersambut, saat ini berbagai produk Tahu Petis Yudhistira telah hadir di beberapa haringan ritel modern seperti All Fresh, Total Buah, dan Toko oleh-oleh di Semarang. Tahu Petis Yudhistira saat ini telah berkembang dengan membangun jaringan kemitraan. Banyak tantangan dalam menemukan mitra yang bersungguh-sungguh mengembangkan usaha ini.
Dalam hal proses produksi, Tahu petis ini menggunakan tahu khusus yaitu tahu pong, apabila digoreng hasilnya tidak padat, tapi berongga di dalamnya, dan diisi dengan petis. Untuk tahu ada rekanan sesama UKM yang memproduksi tahu khusus untuk kami, untuk petis didatangkan langsung dari kota asalnya. Untuk kriteria bahan ada standar, untuk tahu kita pilih yang fresh, daya tahan tahu sangat diperhatikan. Dalam bermitra juga sudah ada SOP yang jelas, standar penyimpanan, standar penyajian.
Seiring dengan berjalannya waktu ada pengembangan produk. Mengkhususkan sebagai produsen petis, lahir berbagai produk berbahan dasar petis, seperti Kerupuk Petis Yudhistira, Kerupuk berbahan dasar singkong yang diolah bersama bumbu petis menghasilkan rasa kerupuk yang unik dengan sensasi rasa pedas dalam setiap “kriukkannya”. Kita juga menghadirkan makanan khas semarang, lumpia semarang.
Sejauh ini ada 4 produk yang ditawarkan ke pasar, di antaranya adalah Tahu Petis, Petis Yudhistira (Petis Udang Siap Saji), Kerupuk Petis Yudhistira, dan Lumpia Semarang. “Untuk selanjutnya sedang diriset satu produk lagi yaitu jajanan khas semarang, untuk selanjutnya tunggu tanggal mainnya” ujar Wieke menegnai produk terbarunya yang akan segera diluncurkan.
Berbicara tentang AFTA, Wieke menyadari betul sekarang terutama di Jakarta sudah banyak diserbu banyak prduk asing, baik itu di ritel maupun di berbagai tempat belanja kelas menengah ke atas sudah dibanjiri produk asing. Maka dari itu sebagai UKM harus bergerak untuk produktif menghasilkan produk berkualitas.
Di akhir wawancara Wieke juga sempat menggucapkan terima kasih kepada BukanAkademi dan RumahUKM yang menjadi partner bagi Tahu Petis Yudhistira untuk bersama-sama merapatkan barisan dalam mengahdapi serbuan produk asing dan menjadikan brand kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
Untuk melihat lebih jelas bagaimana proses produksi Tahu Petis Yudhistira terutama urusan dapurnya, anda bisa langsung klik rumahukm.tv
Tahu Petis Yudhistira:
Jl. Gamprit II Ujung Gg. H. Nasan No.107 RT/RW. 006/014,
Jatiwaringin, Pondok Gede Bekasi – 17411
Telp: 021-68016690
Twitter: @juraganpetis
Website: www.tahupetis.com




























