Bisnismu Sedang Berupaya Menjadi “Semanusia” Mungkin, Manusia Seperti Apa?

0
6
Bisnismu Sedang Berupaya Menjadi “Semanusia” Mungkin, Manusia Seperti Apa?

rumahukm.com Sudah pernah menyimak utas-utas Threads? Brand saling nimbrung, roasting, membuat jokes, pakai bahasa slang, bahkan ikut masuk ke dalam percakapan yang sebenarnya tidak ada hubungannya dengan produk mereka. Semua ingin terlihat relatable. Semua ingin terasa dekat. Tapi di tengah keramaian itu, ada satu risiko yang sering tidak disadari: ketika brand terlalu sibuk terlihat human, ia justru bisa kehilangan karakter brand-nya sendiri.

Memang, komunikasi yang santai bisa membuat brand terasa lebih dekat. Tetapi humanisasi bukan berarti setiap brand harus bicara seperti pengguna Threads. Aaker menjelaskan brand personality sebagai karakter manusia yang diasosiasikan konsumen terhadap sebuah brand. Artinya, personality bukan sekadar gaya bahasa yang sedang populer. Ia harus punya karakter, pola, dan konsistensi. Kalau brand-mu selama ini elegan dan thoughtful, lalu mendadak ikut roasting hanya karena sedang ramai, audiens bisa merasakan ada yang tidak natural.

Contohnya sederhana. Brand yang memang playful, berani, dan dekat dengan kultur internet mungkin akan terasa natural ketika bercanda atau saling roasting dengan brand lain. Tetapi brand di kategori yang lebih sensitif tentu punya ruang yang berbeda. Kasus Kafani di Threads, misalnya, memunculkan perdebatan setelah penggunaan humor yang dianggap sebagian pihak melewati batas sensitivitas. Ini menunjukkan bahwa gaya komunikasi yang berhasil untuk satu brand belum tentu cocok untuk brand lainnya.

Pak Bi sering mengingatkan bahwa brand harus punya karakter yang jelas dan hidup di benak manusia. Jadi sebelum bertanya tentang tren apa yang harus kita ikuti hari ini, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah, kalau brand kita benar-benar manusia, dia orang yang seperti apa, cara bicaranya bagaimana, apa yang membuatnya tertarik, apa yang membuatnya tidak nyaman, kapan dia bercanda dan kapan dia memilih diam? Justru dari batas-batas itulah karakter brand mulai terasa.

Karena pada akhirnya, “human brand” bukan lagi brand yang paling ramai ikut bercanda. Human brand adalah brand yang terasa punya manusia di baliknya. Threads boleh berubah setiap hari. Meme boleh berganti setiap jam. Tapi brand tetap perlu punya suara sendiri. Jadi sebelum ikut nimbrung, pastikan dulu: ini memang suara brand kita, atau kita cuma FOMO tak berdasar?

Mau belajar membangun brand personality yang terasa manusia, relevan dengan kultur, tapi tetap punya karakter? Pelajari ilmunya di Kitab BBB karya Pak Bi.

 

 

Penulis: Mayangwangi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here