Tempe Mulai Mendunia, Waspada Diklaim Malaysia

0
1914
Ilustrasi tempe. (Foto: masakanlezat.com)

Diajukannya tempe sebagai warisan dunia Intangible Cultural Heritage of Humanity ke Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) karena potensi tempe yang salah satunya mendorong ekonomi kerakyatan.

PENELITI tempe yang juga Guru Besar IPB Prof Made Astawan MS mengatakan, saat ini saja tempe sudah mampu meningkatkan ekonomi kerakyatan. Dijadikannya tempe sebagai warisan budaya Indonesia, tentu akan lebih mendorong peningkatan status tempe, seperti halnya batik. “Masyarakat mulai sadar dan menyukai konsumsi tempe,” kata Made kepada wartawan dalam acara press conference rencana pengajuan tempe sebagai Intangible Cultural Heritage of Humanity ke UNESCO di Bogor, Selasa.

Dewasa ini potensi pasar tempe tidak hanya skala domestik tetapi sudah merambah pasar internasional. Terlebih, diberlakukannya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) akan memperbesar pasar tempe dari 250 juta orang menjadi 625 juta.

Tidak hanya itu, lanjut dia, tempe saat ini sudah dikenal di 20 negara. Selain karena nilai gizi dan khasiatnya untuk kesehatan, sudah menjadi gaya hidup masyarakat vegetarian. “Total 500 juta vegetarian di dunia. Ini terdapat di India sekitar 350 juta, USA 20 juta, dan Eropa 20 juta orang,” katanya.

Penilaian orang terhadap tempe sebagai pangan inferior merupakan cerita lama. Tempe memiliki nilai gizi dan potensi baik untuk kesehatan masyarakat.

Tempe diproduksi berdasarkan daerah. Ada tempe Malang, tempe Pekalongan, dan tempe Jogjakarta. Umumnya, diproduksi tradisional di skala UKM. Oleh karena itu, ada aturan tidak diizinkan membuat usaha tempe skala besar karena bisa mematikan UKM.

“Tempe setiap tahun terus mengalami perubahan mulai dari bungkusnya. Zaman dulu dari daun jati, batang pisang, dan sekarang sudah era plastik. Ini bagian dari sentuhan teknologi tetapi tidak meninggalkan hakikat sebagai pangan tradisional,” katanya.

Dengan perkembangan teknologi pengolahan, tempe saat ini siap menuju pasar dunia. Dari Jawa menuju Prancis, Australia, Jepang, Meksiko bahkan sudah tersedia di Vietnam. “Tempe akan menjadi milik dunia. Jangan sampai diklaim orang lain,” katanya.

Menurut Made, beberapa negara sudah mencoba memproduksi tempe, salah satunya Jepang. Bahkan, kemasan produk tempe di luar negeri jauh lebih bagus dibanding dalam negeri. Saat ini, Malaysia sedang gencar melakukan penelitian tentang tempe. Beberapa penelitinya datang ke Rumah Tempe Indonesia di Bogor.

“Ada salah satu penelitian mengangkat judul “Malaysia Tempe”. Ini tidak saya izinkan,” katanya. Formulasi tempe dibuat sejak zaman nenek moyang, sangat mengagumkan. Potensinya dapat meningkatkan kualitas, lebih mudah dicerna, dan diserap tubuh. Kandungan vitamin tempe juga beragam, mulai B-1, B-2, B-3, pantotena. Begitu juga senyawa biotif yang banyak dicari para vegetarian.

“Apa yang tidak ada di kedelai, kandungan gizi dan proteinnya ada di tempe,” ujarnya. Saat ini terdapat lebih 100 ribu produsen tempe tersebar di berbagai provinsi di Indonesia. Konsumsi tempe memberikan kontribusi minimal 10 persen dari total protein hewani, sementara telur 1,25 persen, daging 3,15 persen dan sereal sekitar 6 persen (Hardinsyah 2014). Data BPS (2012) menunjukkan, konsumsi tempe masyarakat Indonesia rata-rata mencapai tujuh kilogram per kapita per tahun.

“Dengan memproduksi tempe 10 sampai 20 kg per hari, bisa membantu perajin tempe. Ini keuntungan ekonomi. Apalagi, ada tradisi pengrajin tempe di Pekalongan mewariskan keterampilan membuat tempe kepada kerabat dengan melatih mereka. Setelah mahir, mereka akan membuat pasar baru di daerah lain dan ini terus berlangsung,” katanya.

Sumber: kaltimpost.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here