Banda Aceh – Indonesia dikenal memiliki beberapa jenis tanaman kopi dan hingga kini biji kopi dari Indonesia dikenal memiliki rasa dan aroma yang unik dan banyak digemari bangsa-bangsa di seluruh dunia. Bahkan salah satu jenis biji kopi dari Indonesia yaitu Kopi Aceh Gayo pernah dinobatkan sebagai kopi terbaik nomor satu dunia. Negara tujuan ekspor terbesar ke negara AS (58.308 ton) diikuti dengan Jepang (41,234 ton), Jerman (37,977 ton), Italia (29,745 ton), dan Malaysia (29,136 ton).
Pengembangan industri pengolahan kopi di dalam negeri memiliki prospek yang sangat baik, mengingat konsumsi kopi masyarakat Indonesia rata-rata baru mencapai 1,2 kg perkapita/tahun dibanding dengan negara-negara pengimpor kopi seperti USA 4,3 kg, Jepang 3,4 kg, Austria 7,6 kg, Belgia 8,0 kg, Norwegia 10,6 kg dan Finlandia 11,4 kg perkapita/tahun.
Sehubungan dengan hal tersebut dan dalam rangka pemberdayaan koperasi melalui penguatan sistem bisnis koperasi, maka Kementerian Koperasi dan UKM melakukan kegiatan Bimbingan Teknis Penguatan Sistem Bisnis Koperasi di Bidang Pengolahan Kopi di Banda Aceh. Beberapa permasalahan yang dihadapi koperasi dalam unit usaha pengolahan kopi antara lain, pertama, pajak bagi produk kopi yang terasa berat bagi petani anggota koperasi, karena di setiap titik kumpul. Kedua, masih rendahnya kemampuan koperasi untuk berinovasi dan berkreatifitas untuk menciptakan produk turunan (diversifikasi produk) dari kopi. Ketiga, pembiayaan untuk produksi dari hulu ke hilir dan kurangnya informasi pasar. Keempat, teknologi tepat guna untuk meningkatkan kualitas dan nilai produksi. Kelima, besarnya biaya pembuatan sertifikat dari pihak LN.
Bimtek ini diikuti 50 orang peserta terdiri dari pengurus, anggota dan pendamping koperasi, serta pembina koperasi, yang berasal dari Kabupaten Aceh Tenggara dan Kabupaten Bener Meriah. “Dipilihnya provinsi Aceh sebagai tempat dilaksanakan Bimtek karena Kementerian Koperasi dan UKM ingin meningkatkan produksi Kopi Gayo yang sudah terkenal di dunia, khususnya di Kabupaten Aceh Tenggara dan Kabupaten
Bener Meriah yang terkenal penghasil Kopi Gayo”, kata Deputi Bidang Produksi Kemenkop dan UKM I Wayan Dipta, di Banda Aceh, beberapa waktu lalu.
Menurut Wayan Dipta, terdapat 21 koperasi di dua kabupaten tersebut yang sudah memiliki Network of Asia Pasifik Producer Indonesia (NAPP-Indonesia) dan terdapat dua koperasi yang sudah melaksanakan ekspor secara langsung yaitu KBQ Babburayan dan Gayo Linge Organik.
“Untuk mendapatkan mutu kopi yang tinggi, baik mutu fisik biji (berdasarkan SNI 01-2907-2008) maupun mutu citra rasa (berdasarkan organoleptik/Uji rasa) sangat ditentukan oleh kegiatan Un Farm maupun Of Farm”, imbuh dia.
Di samping itu, lanjut Wayan, supaya produksi kopi para petani anggota koperasi dapat diekspor, maka minimal harus memiliki tiga sertifikat yang dikeluarkan oleh pihak luar (importir LN), yaitu Sertifikat Organik, Sertifikat Fair Trade dan Sertifikat Rain Forest.
“Nah, tujuan dilaksanakan kegiatan Bimtek ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing usaha koperasi dan UKM dalam pengolahan kopi, khususnya mengoptimalkan peran kelembagaan koperasi, sehingga terjalinnya sinergi program antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan para pelaku usaha pengolahan kopi”, pungkas Wayan Dipta.
Sumber: Harianterbit.com


























