
Jakarta – Pengurangan tingkat kemiskinan merupakan tantangan serius yang dihadapi Indonesia. Tantangan ini tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada pemerintah. Semua pihak harus memiliki itikad untuk terus bekerja dan bekerja. Demikian dikatakan pendiri sekaligus Ketua Umum Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Dewi Motik Pramono di Jakarta, Rabu (25/3).
“Saya ini praktis, saya tidak akan menyesal dengan kondisi di Tanah Air kita sekarang. Apa kita mau kecewa terus. Bagi, saya, kerja dan terus bekerja,” kata Dewi.
Beberapa waktu lalu, saat berbicara dalam forum internasional Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), ia juga turut memaparkan bahwa salah satu jalan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan adalah membangun kemandirian masyarakat dan membuka lapangan kerja. Kemandirian masyarakat erat kaitannya dengan motivasi setiap elemen masyarakat untuk terus bekerja dan berkarya. Sementara, penciptaan lapangan kerja dapat dilakukan secara bersama-sama antara pemerintah dengan swasta atau dunia usaha.
“Di PBB saya katakan way out kemiskinan itu lapangan kerja, masyarakat harus mandiri,” tuturnya.
Salah satu cara membuka dan menciptakan lapangan kerja, lanjut Dewi, adalah mengembangkan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di tengah-tengah masyarakat.
“Seluruh manusia, punya kemampuan untuk menjadi entrepreneur. Way out saya sejak 40 tahun lalu dengan mendirikan berbagai macam organisasi tujuannya tidak lain agar orang punya kemandirian, ciptakan lapangan kerja,” tuturnya.
Hal senada dikatakan Ketua Umum Induk Koperasi Wanita Pengusaha Indonesia (INKOWAPI) Sharmila. Ia mengapresiasi upaya Ketua Umum IWAPI yang selama ini gigih mendorong pengembangan UMKM di Tanah Air. Bahkan, beberapa waktu lalu, tepatnya 19 Maret 2015, Ketua Umum IWAPI meraih penghargaan untuk kategori kepemimpinan di bidang sosial untuk UKM dan Koperasi dari PBB. Pada 24 Maret lalu, menerima penghargaan Asian Woman Entrepneur Network yang diserahkan Perdana Menteri Vietnam.
Berdasarkan data yang dihimpun INKOWAPI, kata Sharmila, sektor UMKM yang berjumlah lebih dari 52 juta unit di Indonesia mampu memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian nasional, yakni 56,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), 97 persen penyerapan lapangan kerja dan pengentasan kemiskinan dan sekitar 60 persen pelaku UMKM adalah perempuan.
“Sebab itulah INKOWAPI mengusulkan kepada pemerintah untuk dilakukan Gerakan Entrepreneurship Perempuan Indonesia melalui program Satu Juta UMKM Naik Kelas,” tutur Sharmila.
Pengembangan UMKM ke depan, tambahnya, juga harus seiring dengan pengembangan koperasi di Tanah Air sebagai soko guru perekonomian nasional. Pasalnya, di tengah pesatnya pertumbuhan UMKM, pertumbuhan koperasi masih tampak tertinggal.
“INKOWAPI mengharapkan kerja sama kepada pemerintah untuk meningkatkan program-program pelatihan koperasi, termasuk menggalakkan kegiatan Jambore Coopreneur yang selaku dilaksanakan INKOWAPI setiap tahunnya,” ujarnya.
Sumber: Suara Pembaruan
























