Soetopo dan Soepijatun, Pasutri Pahlawan Ekonomi Peracik Jamu

0
726
GIGIH: Soepijatun memperlihatkan jamu yang dibuat bersama Soetopo. (Foto: Rista R. Cahayaningrum/Jawa Pos/JawaPos.com)

Terpikat Rebusan Temulawak dan Daun Bambu Kuning

Berawal dari keinginan menyembuhkan penyakit sang anak, Soetopo dan Soepijatun meracik jamu sendiri. Kini, usaha pasangan suami istri (pasutri) itu berkembang pesat. Mereka bahkan mampu membuka lapangan kerja bagi warga Ploso, Tambaksari.

SOETOPO sibuk menuangkan rebusan jamu ke dalam botol-botol 600 mililiter. Dia tidak sendiri. Soepijatun, istrinya, membantu menutup botol yang telah terisi jamu, lalu mengepresnya.

”Supaya tidak tumpah saat dikirim-kirim,” kata Soetopo. Sudah 20 tahun Soetopo dan Soepijatun menggeluti dunia jamu.

Awalnya, tidak terpikir dalam benak mereka untuk mendirikan usaha kecil dan menengah (UKM) jamu. Semua berawal pada 1994. Kala itu, putra pertama mereka mengidap penyakit hepatitis B.

Dokter mengatakan bahwa sang anak bisa sembuh jika menjalani pengobatan medis selama tiga sampai empat bulan. Soetopo dan Soepijatun tentu mengelus dada.

”Uang dari mana untuk merawat selama itu,” ujar Soepijatun.

Hingga akhirnya, Soepijatun bertemu dengan warga Tionghoa yang kerabatnya dirawat di RS TNI-AU Soemitro. Dia menyarankan Soepijatun agar membuat ramuan untuk anaknya.

”Kami praktikkan juga saran itu. Alhamdulillah, dalam waktu sembilan hari, anak saya sembuh dan bisa keluar dari rumah sakit,” kata perempuan kelahiran 1958 itu.

Ramuan yang diberikan Soepijatun kepada putranya adalah rebusan temulawak dan daun bambu kuning. Sang dokter awalnya tidak percaya dengan keanehan yang dialami putra Soetopo dan Soepijatun.

Bagaimana tidak, hepatitis B bisa sembuh dalam waktu kurang dari satu bulan. Untuk membuktikan bahwa anak Soepijatun benar-benar sembuh, pihak rumah sakit sampai dua kali melakukan cek darah.

”Dan, hasilnya sudah negatif,” ucap ibu tiga anak tersebut.

Girang dengan khasiat temulawak, Soepijatun dan Soetopo memproduksi masal ramuan tersebut. Awalnya, mereka hanya menawarkan ke rekan kerja Soepijatun.

Saat itu dia bekerja di PT HM Sampoerna Tbk. Dia menjual jamu itu Rp 500 per botol. Ternyata, jamu buatan mereka cukup diminati.

Akhirnya mereka membuat ramuan lain. Di antaranya, sinom, beras kencur, dan kunir asem. Resepnya mereka ambil dari buku. Ternyata, jamu buatan Soepijatun dan Soetopo laris.

”Karena banyak pesanan, kami tekuni sampai saat ini,” kata Soepijatun.

Saat ini UKM jamu milik Soepijatun dan Soetopo terus berkembang. Dalam sehari, mereka mengolah minimal 10 kilogram untuk masing-masing bahan jamu.

Sebab, jumlah pesanan jamu Soepijatun dan Soetopo mencapai 16 karton per hari. Tiap karton terdiri atas 24 botol berukuran 600 mililiter.

Belakangan, Soepijatun kewalahan untuk membuat jamu sendiri. Dia pun memberdayakan sejumlah warga Kelurahan Ploso, Tambaksari, untuk membantu membuat jamu.

”Ada yang bertugas mengupas bahan-bahan. Ada juga yang merebus,” ujarnya. Selain meringankan pekerjaan Soepijatun dan Soetopo, hal tersebut bisa memberdayakan masyarakat sekitar tempat tinggal mereka.

Atas kegigihan mengembangkan UKM dan membuka lapangan pekerjaan bagi orang lain, Soetopo dan Soepijatun mendapat sejumlah penghargaan.

Di antaranya, piagam penghargaan Karya Cipta Adi Nugraha Kategori Industri Kecil pada 2014 dari gubernur.

Selain itu, Soetopo dan Soepijatun dinobatkan sebagai pahlawan ekonomi oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini.

Sumber: Jawapos.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here