Bulan Maret lalu, Pak Bi dundang untuk berbicara di Workshop Pengembangan Koperasi dan UMKM: OVOP sebagai Senjata Ekonomi Desa di Semarang. Karena seminarnya baru hari Senin, Pak Bi dan Bu Dwita pun keliling Semarang ditemani oleh teman-teman UKM. Sekalian reunian 😀
Inilah beberapa kuliner Semarang yang mereka sambangi di sana:
Pertama, mereka mengunjungi Soto Bangkong di Jl. Brigjen Katamso 1, Semarang. Katanya, ini yang asli.

Soto Bangkong berdiri sejak tahun 1950-an. Awalnya, soto dijajakan dengan dipikul menggunakan angkring bambu. Pak Sholeh, pendiri Soto Bangkong, menjajakannya dengan berjalan kaki. Usaha dirintis lebih dari 60 tahun olehnya. Bangkong berarti katak, banyak orang yang mengira kalau dagingnya berasal dari hewan reptilia tersebut 😀 Padahal, bangkong berasal dari nama jalan tempat restoran pertama Soto Bangkong. Ternyata, sebelum menjadi Jalan Brigjen Katamso, jalan tersebut sering dikenal dengan Jalan Bangkong.
Pada siang menjelang sore, Pak Bi dan Bu Dwita mengunjungi Tahu Petis Yudhistira di Jalan Yudistira, Semarang. Kali ini, mereka mau ngemil tahu petis dan lumpia Tahu Petis Yudhistira, langsung di kota asalnya.

Toko Tahu Petis Yudhistira yang ini dulunya adalah garasi rumah ibunya Mbak Wieke, pemiliknya. Meskipun kecil, tapi tempatnya nyaman.
Nah, ini Pak Bi dan Bu Dwita sedang makan tahu petis bersama Wendi Hutagaol dan Mas Dodi Zulkifli dari Design Talk, peserta workshop #BisaBikinBrand Jakarta 3.

Sekalian juga reunian bersama teman-teman lama dari Bukan Akademi Semarang. Terima kasih sudah pada mampir ya teman-teman!

Setelah ngemil tahu petis dan lumpia Semarang, Mas Dodi mengajak Pak Bi dan Bu Dwita ke Khoja Resto. Restoran yang terkenal dengan nasi biryani dan kebulinya ini adalah milik omnya Mas Dodi.

Pak Bi dan Bu Dwita sangat menyukai kedua menu khas Timur Tengah ini. Kata mereka, rasa rempahnya berasa tapi nggak ‘nyegrak’. Semuanya terasa pas.

Makan-makan di Semarang nggak berakhir sampai di nasi biryani dan kebuli, karena malamnya mereka berpindah tempat ke Simpang Lima, jantung kota Semarang. Ternyata Simpang Lima yang di tengahnya ada Lapangan Pancasila ini adalah titik pertemuan lima jalan lho! Nama-nama jalannya antara lain: Jl. Pahlawan, Jl. Pandanaran, Jl. Ahmad Yani, Jl. Gajah Mada dan Jl. A. Dahlan. Di sekitar Simpang Lima ada beberapa hotel berbintang dan pusat perbelanjaan.
Nah, Simpang Lima ini juga terkenal sebagai pusat kuliner yang hanya ada pada malam hari. Kalau siang, ini adalah trotoar:

Ada banyak pilihan kuliner di Simpang Lima, mulai dari kuliner khas Semarang hingga daerah lainnya. Gudeg ceker, olahan kambing, hingga roti bakar juga tersedia.

Malam itu, Pak Bi dan Bu Dwita bersama teman-teman lainnya memilih seafood dan sup kaki kambing.

Udah ngiler, belum? 😀

Setiap jalan-jalan ke luar kota memang nggak pernah bisa kurus, tak terkecuali Pak Bi dan Bu Dwita. Tapi, hidup cuma sekali jadi perlu kita nikmati dengan makan enak sesekali 😀 Diet dan olahraga bisa menunggu di rumah.
Sumber:
http://www.kompasiana.com/sarohganik/nikmatnya-soto-bangkong-semarang_551805cfa33311d207b66233
http://www.emakmbolang.com/2015/09/berburu-kuliner-di-simpang-lima-semarang.html


























