Produk Herbal Garci Tea, Kantongi Omzet Rp25 Juta/Bulan

0
947
Sasjunita dan Syafri dengan produk herbalnya

Penggunaan obat dari bahan alami atau herbal, kini kian digandrungi masyarakat, baik dari kalangan bawah, menengah hingga kalangan atas. Selain minim efek samping, obat herbal dipercaya berkhasiat untuk kebugaran tubuh dan mengatasi keluhan penyakit.

Peluang inilah yang mendorong Komunitas Lokal Bioversity, merintis usaha teh daun asam gelugur, yang belakangan diberi merek Garci Tea daun asam gelugur.

Kepada Haluan yang menemuinya di rumah produksi Nagari Latang, Kecamatan Lubuk Tarok, Kabu­paten Sijunjung, akhir pekan lalu, Ketua Komunitas Lokal Bioversity, Syafri didampingi Ketua Sub Unit Pengolahan Hasil, Sasjunita bercerita banyak seputar pengalamannya membangun usaha teh herbal yang dikemas dengan menggunakan kantong teh celup.

“Garci Tea adalah teh herbal dari bahan baku daun asam gelugur. Dulu, daun asam gelugur digunakan untuk bumbu masak dan obat alami yang sangat berkhasiat.,” kata Syafri dan Sasjunita.

Dengan modal awal Rp600 ribu, Komunitas Lokal Bioversity memulai usaha teh herbal daun asam gelugur. Modal sebanyak itu, katanya, hanya cukup untuk membeli satu unit oven kecil untuk pemanas, kantong teh celup dan bahan baku daun asam gelugur.

Setelah jadi, produk hasil olahannya pun dikemas dengan toples berukuran 7 X 15 cm. Selain mempelajari kandungan zat dalam teh herbal melalui internet, Sasjunita, kemudian mem­bawa teh herbal olahannya ke Balai Penelitian Tanaman Buah (Balitbu) Tropika Badan Litbang Kementerian Pertanian yang berada di Kabupaten Solok.

Garci Tea daun asam gelugur hasil olahannya ini, berkhasiat untuk melangsingkan perut, menyembuhkan rematik, menurunkan kolesterol, menurunkan tekanan darah tinggi, menyembuhkan radang gusi, mengatasi masalah pencernaan dan mencegah tumor.

“Produk awal kami tahun 2013. Setelah diteliti Balitbu Tropika ternyata kandungan zat dalam Garci Tea daun asam gelugur memilki khasiat dan minim efek samping,” kata wirausaha Juara I dan Juara Umum Nasional Citi Micro-Entrepreneurship Award (CMA) 2015 itu.

Kendati mendapat angin segar, komunitas ini sempat mengalami kendala dalam hal permodalan. Dengan memanfaatkan modal pinjaman dari pihak ketiga sebesar Rp20 juta, Sas begitu ia disapa, membeli peralatan, membuat kotak kemasan teh herbal dan mengurus seluruh perizinan.

Selain menambah modal, pihaknya juga mendapatkan bantuan oven dan alat seller press dari Balitbu Tropika dan Dinas Koperindag Kabupaten Sijunjung. Komunitas Bioversity ini, kemudian memperkenalkan teh herbal olahannya yang dikemas seperti produk teh celup kepada masyarakat.

Produk herbal itu ditawarkan ke warung-warung, instansi pemerintah, mini market dan juga promosi dengan mengikuti sejumlah pameran. Selain itu juga pemasaran secara online via internet dengan nama garciteablogspot.com, BBM, dan twiter. Dan ternyata, produk tersebut diterima oleh pasar.

Dengan jumlah anggota 14 orang, setiap bulan Komunitas Lokal Bioversity ini mampu memproduksi 1.000 kotak teh herbal daun asam gelugur. Satu kotak, berisi 30 kantong teh celup dibadrol dengan harga Rp 30 ribu. Dari hasil tersebut, Komunitas Lokal Bioversity ini meraup omset Rp25 juta per bulan.

“Keuntungan yang diperoleh belum seberapa. Hanya cukup untuk cicilan ke BPR, dan sedikit bantuan untuk kesejahteraan anggota,” ucapnya.

Kini produk teh herbal olahannya telah menyebar dan menjadi minuman kesukaan banyak orang. Selain dijadikan minum untuk tamu di Pemkab Sijunjung, Garci Tea daun asam ge­lugur ini juga disukai para perantau dari Malaysia, Jakarta dan kota besar lain­nya.

Sumber: Harianhaluan.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here