Nisa dan Tepung Bebas Gluten

0
1108

GLUTEN adalah protein menyerupai lem yang memberikan efek pengikat pada makanan. Senyawa itu terdapat dalam gandum dan terigu. “Kalau kita mengonsumsi makanan berbahan gluten, sistem pencernaan harus tiga kali bekerja lebih keras untuk membuang makanan,” jelas Annisa Pratiwi, pemilih usaha Ladang Lima.

Memulai suatu bisnis tentu tidak mudah. Wanita yang biasa dipanggil Nisa ini melakukan riset bahan tepung gluten-free (bebas gluten) ini, yaitu singkong. Untuk itu, Nisa getol berburu singkong terbaik agar sesuai dengan apa yang diharapkannya.

Ketika pertama kali berhasil membuat tepung, Nisa memberanikan diri untuk ikut pameran bisnis di Surabaya. Dia lantas mendapat seorang pelanggan yang membuatnya bertambah semangat dalam berbisnis. Pelanggan tersebut adalah seorang ibu yang dikaruniai anak berkebutuhan khusus (ABK). Karena kondisi anaknya, ia memerlukan tepung produksi Nisa untuk makanan anaknya. ”Ibu itu bercerita, sebelumnya dia harus membeli tepung jenis ini di Australia. Saya sangat senang karena kini beliau dapat membeli tepung di saya,” ungkap Nisa.

Nisa terus memberikan inovasi pada produknya. Tidak hanya berbentuk tepung, perempuan berambut panjang ini juga turut menciptakan produk turunan seperti mie dan kue kering. Agar lebih menarik, Nisa memberikan variasi rasa antara lain basil and garlic (daun kemangi dan bawang putih), coffee and ginger (kopi dan jahe), serta green tea and cheese (teh hijau dan keju). ”Rasanya enak, namun tetap sehat,” tegasnya.

Dalam berbisnis, Nisa menggunakan dua tempat berbeda. Pemasaran berpusat di Surabaya sedangkan produksi tepung bertempat di Pasuruan. Menurut Nisa, konsumen terbanyak malah berasal dari luar Surabaya dan Pasuruan yaitu Bali dan Jakarta. Nisa juga sering mendapatkan order dari luar negeri seperti Kanada, Singapura, dan Hongkong.

Pemasaran melalui media sosial dan pameran sangat berperan penting untuk mengikat konsumen dari luar negeri. Pada tahun 2013, Nisa mengikuti pameran di Makau (Tiongkok), Singapura, dan Korea Selatan. Dari kegiatan itulah, sedikit demi sedikit, Nisa mampu membangun jaringan pemasaran di luar Indonesia.

Nisa menjelaskan, masyarakat di luar negeri terutama di negara maju, banyak menerapkan makanan bebas kandungan gluten. Karena itu, mereka sangat membutuhkan tepung sejenis produk Nisa. ”Pasaran saya lebih dapat memang di luar negeri. Target konsumen ada, tapi pesaing bisnis juga lebih banyak di sana,” kata istri Raka Bagus itu.

Hanya saja pengiriman ke luar negeri memiliki kendala: ongkos kirim yang mahal. Untuk itu, Nisa menjelaskan sebelumnya kepada konsumen yang akan membeli produk. Satu kilogram tepung dihargai Rp 22,000. Satu kaleng kue kering dengan berat 125 gram seharga Rp 25,000 dan mie seharga Rp 15,000 per bungkus. Harga tersebut tidak termasuk biaya kirim ke masing-masing daerah tujuan.

Semakin hari semakin banyak order yang diterima Nisa. Untuk menyanggupi order yang masuk, ia memproduksi tepung bebas gluten sekitar 20 ton dalam sehari. Setelah produksi, Nisa menjual tepung tersebut kepada konsumen. Tidak dijual eceran, ia memasok produk ke toko dan swalayan bahan makanan di Surabaya, Jakarta, dan Bali. ”Dalam waktu dekat saya ingin punya reseller di luar negeri. Di sana saya sudah menemukan pasarannya,” ucap ibu satu anak tersebut.

Resep-Resep untuk Tarik Konsumen

Konsumen merupakan kunci utama dalam mengumpulkan pundi-pundi keuntungan bagi produsen. Karena itu, Annisa Pratiwi serius dalam melayani para pelanggannya. Misalnya, tiap bungkus produk tepung bebas gluten pasti dilengkapi dengan resep olahannya.

Selain dalam packaging, Nisa memberikan resep dalam brosur dan media sosial Ladang Lima. ”Saya hanya ingin mempermudah konsumen. Tepung bebas gluten tetap enak dijadikan olahan masakan apa pun,” ungkap alumnus Jurusan Ilmu Komunikasi Unair Surabaya itu. Pemberian resep tersebut terbilang ampuh. Sejak menyertakan resep di produk tepungnya, jumlah konsumen Nisa meningkat drastis, terutama konsumen yang alergi gluten (gluten intolerance) atau yang menjalani pola hidup bebas gluten (gluten-free).

Melalui Ladang Lima, Nisa bertemu dengan banyak jenis konsumen. Ada anak speech-delay yang berangsur sembuh sejak mengonsumsi tepung produk Nisa. Ada pula konsumen berusia 10 tahun yang secara terus-menerus mengeluarkan cairan melalui hidung karena alergi terhadap makanan yang mengandung gluten. Nisa bersyukur bahwa produknya membuat hidup konsumennya lebih baik.

Meski demikian, Nisa tidak berpuas diri. Masih banyak target yang ingin dipenuhinya dengan Ladang Lima. Dalam waktu dekat, Nisa ingin mendapatkan sertifikasi produk bertaraf internasional, salah satunya sertifikasi dari ISO. Tidak hanya itu, Nisa juga ingin melebarkan sayap pemasaran dalam jangkauan internasional. ”Saya ingin menjadi salah satu produsen yang dapat mengekspor tepung asli Indonesia secara rutin,” tegasnya.

Dalam berbisnis, Nisa tidak menjalankannya seorang diri. Suaminya, Raka Bagus, menjadi partner utama dalam berbisnis. Pasangan ini berbagi tugas; Nisa menguasai bagian pemasaran, sedangkan Raka bertugas dalam tahap produksi. Mereka bertukar pikiran dan ide dalam masing-masing tugas. ”Sering beda pendapat sih. Tapi, selalu bisa dipecahkan dan tidak sampai terbawa dalam urusan keluarga,” tutup wanita yang hobi traveling itu sambil tersenyum.

Sumber: jawapos.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here