Meraup Laba dari Bisnis Tas Kamera

0
993

JAKARTA – Kendati booming pengguna kamera DSLR mulai mereda seiring dengan perkembangan teknologi kamera pada smartphone, usaha pembuatan tas kamera masih tetap berprospek cerah hingga beberapa tahun ke depan. Tak percaya?

Tas kamera merupakan salah satu benda wajib untuk menjaga kamera agar tidak cepat rusak. Berbeda dengan tas pada umumnya, tas kamera dilengkapi dengan sekat-sekat dari busa tebal yang bisa dibongkar pasang. Keberadaan sekat ini melindungi bagian-bagian kamera dari benturan. Nah, tas kamera keluaran merek terkenal relatif mahal. Harganya bahkan bisa sampai jutaan rupiah.

Bagi kalangan pelajar, mahasiswa atau fotografer amatir, harga tersebut tentunya tidak ramah di kantong. Lagipula, mereka biasanya lebih memilih untuk mengalokasikan biaya untuk meng-upgrade kamera dan perlengkapan penunjangnya.

“Tas kamera lebih mahal karena pembuatannya lebih rumit dari tas biasa. Bisa saja saya membeli tas kamera merek terkenal dengan harga jutaan rupiah itu, tetapi saya mungkin tidak makan dua bulan karena uang saya sebagai mahasiswa saat itu pas-pasan,” kenang Dwi Agus Toni, pemilik merek tas kamera Banrun Junior.

Pengalaman pribadi mencari tas kamera yang berkualitas tetapi dengan harga terjangkau pada 2013 itulah yang kemudian mendorongnya terjun ke bisnis ini.

Kala itu, tuturnya, dia mencari pembuat tas kamera custom. Dengan biaya Rp300.000, Dwi memesan satu tas dari pelaku usaha di Bandung, Jawa Barat. Tas tersebut dipakainya ke kampus dan ternyata ditaksir oleh dosen fotografi yang kemudian langsung membelinya.

Dari situ, timbullah niat untuk men-jalani bisnis tas kamera. Hasil penjualan satu tas pertama dijadikan modal kembali untuk membuat dua tas berikutnya. Begitu seterusnya sampai kini usahanya menjadi bisnis yang serius.

“Awalnya sistem produksinya pakai jasa maklun, tetapi sekarang saya sudah punya karyawan dan galeri sendiri di Cirebon,” kata Dwi yang kini mampu memproduksi sekitar 30-50 tas kamera dalam sebulan.

Bertumbuhnya kalangan segmen pasar pencinta fotografi di Tanah Air membuat bisnis pembuatan tas kamera dianggap masih menarik untuk digeluti.

Misbachul Munir, pemilik Bose Tas Kamera, yang berlokasi di Kudus, Jawa Tengah, menyadari hal tersebut. “Bisnis ini masih bisa sustain. Apalagi yang punya kamera bisa dibilang bertambah setiap hari. Sekarang siswa SMP dan SMA pun sudah punya kamera SLR untuk kelas ekstrakurikuler fotografi di sekolahnya,” kata Misbach.

Misbach memutuskan terjun ke bisnis tas kamera sejak tiga tahun lalu karena melihat persaingan di bisnis tersebut masih belum terlalu ketat.

Pelaku usahanya masih bisa dihitung jari, berbeda halnya dengan bisnis tas kantor atau tas sehari-hari yang sudah banyak dimasuki pelaku usaha tas lokal. Agar lebih mudah melakukan pemasaran, Misbach terlebih dulu menentukan segmen pasar yang dibidik, yakni para pehobi fotografi, para pelajar, serta mahasiswa.

Segmentasi tersebut selanjutnya mempermudah pengambilan strategi dalam bisnis, termasuk sistem produksi dan penentuan harga. Sistem produksi yang dia jalankan saat ini adalah ready stock. Dia tidak melayani pesanan custom demi efisiensi waktu dan tenaga kerja.

Jika membuat pesanan custom, harganya akan cenderung lebih mahal karena jumlah tenaga kerjanya masih terbatas.“Pasar yang saya masuki masih di dalam negeri, di seluruh daerah di Indonesia. Sebenarnya banyak permintaan dari luar negeri, tetapi terkendala karena ongkos kirim untuk pembelian eceran cukup mahal,” kata pria yang mampu memproduksi 200-300 tas dalam sebulan ini.

Soal promosi, keduanya sama-sama memadukan promosi pemasaran online dan offline sekaligus. Dwi lebih memilih membuat galeri yang berpotensi memancing peminat fotografi untuk datang berkumpul. Selain menjual tas kamera, galeri tersebut dipadukan dengan studio foto serta art batik.

“Akhir Februari ini akan ada opening galeri baru,” kata Dwi yang juga berpromosi lewat aplikasi chatting BBM serta media sosial Twitter dan Instagram dengan akun @TasKamera . Selain itu, dia juga kerap melakukan strategi direct marketing dengan membuka lapak pada saat acara car free day .

Adapun Misbach lebih menggencarkan promosi pemasaran lewat situs bosetaskamera.com, kendati dia juga membuat akun Instagram @Bosetaskamera.

Untuk membuat mereknya lebih dikenal dan mudah diterima publik, Misbach aktif melakukan promosi below the line. Misalnya, dia merancang kegiatan lomba yang melibatkan komunitas-komunitas fotografi skala provinsi Jawa Tengah atau se-Kota Semarang.

“Acara seperti itu pasti banyak diikuti pehobi fotografi. Kita bisa memberikan doorprize produk tas sendiri, sehingga brand kita akan lebih dikenal. Jika bisa merancang event skala nasional, efeknya akan lebih besar lagi.

Setiap jenis bisnis tentunya tak lepas dari kendala. Dalam bisnis tas kamera, salah satu kendala yang dihadapi adalah susahnya mencari tenaga kerja yang berpengalaman dalam menjahit dan membuat pola desain.

Seperti diketahui, bentuk tas kamera lebih rumit dibandingkan dengan tas biasa. Untuk itu, diperlukan tenaga penjahit yang memiliki spesialisasi dalam memproduksi tas. Kualitas tenaga kerja akan mempengaruhi bentuk dan kualitas akhir produk.

Dari pengalaman Eibag, produsen tas kamera yang berpusat di Bandung, tenaga kerja yang dapat direkrut pada masa awal sebaiknya yang sudah ahli. “Kami lebih memilih merekrut tenaga kerja yang belum bisa menjahit sama sekali, lalu dididik sampai menjadi spesialis,” kata Jaka, salah satu perintis Eibag yang saat ini menangani bagian produksi dan customer service.

Saat ini, Eibag telah memiliki 25 tenaga kerja pria, dan mayoritas masih berusia muda. Beberapa pertim-bangan sebelum mengontrak karyawan antara lain soal keterbukaan untuk dibina, daya kreativitas, dan inovasi.

Eibag yang sudah berdiri sejak 2007 juga melakukan pengembangan SDM. Karyawan baru dilatih agar mampu menjahit, membuat pola, hingga mengelola anak buah. Tujuan akhirnya adalah membuat tenaga penjahit mampu mentransfer ilmu. Tenaga kerja yang dinilai sudah ahli dan mampu mandiri akan didorong menjadi entrepreneur baru yang dapat diajak kerja sama.

Untuk menghindari keluar masuknya tenaga kerja yang sudah ahli, Eibag secara konsisten memperhatikan kesejahteraan pekerjanya dengan menaikkan gaji setiap tahun. “Kami juga mendidik agar mereka bisa mandiri hingga punya anak buah sendiri. Sebenarnya mereka berhak kalau ingin pindah, tetapi sejauh ini belum pernah ada kejadian seperti itu,” tuturnya.

Kendala lain yang dihadapi pelaku usaha pembuatan tas kamera adalah soal ketersediaan bahan baku. Kebanyakan bahan baku yang digunakan dapat dibeli dari pemasok atau importir tetapi biasanya akan dikenai minimal pembelian dalam jumlah besar.

Sebagai solusi, Jaka menyarankan untuk memasok bahan baku secara ritel dari toko-toko bahan atau membeli bahan sisa dari perusahaan konveksi besar di dalam negeri. Untuk mengantisipasi kelangkaan bahan baku, idealnya pelaku usaha menjalin network dengan beberapa pemasok sekaligus.

Tantangan lain dalam bisnis tas kamera adalah dalam hal permodalan. Pada awalnya, Eibag bergerak di bidang pembuatan aneka produk fesyen dengan sistem preorder tanpa uang muka. Akan tetapi, sistem ini ternyata justru membuatnya kesulitan bahkan sampai kolaps.

Ketika mendapat order dengan nilai sampai ratusan juta rupiah, modal tambahan pun diajukan ke bank. Padahal pembayaran dari klien tidak selalu lancar. Pelunasannya pun biasanya beberapa pekan setelah barang diterima.

Kondisi itu membuat Eibag sempat terjerat utang pinjaman di bank. Belakangan, sistem bisnisnya diganti menjadi ready stock dan dijual secara ritel dan tunai. Transaksi pembelian bahan baku dan penjualan produk jadi harus dilakukan secara tunai.

Produksinya difokuskan dalam pembuatan tas, terdiri dari tas kamera, tas sepeda, tas gadget, tas handphone dan tas travel. Pemasaran pun hanya dilakukan secara online lewat puluhan situs website, antara lain taskamera.com.

“Dengan sistem tanpa utang ini, kami justru menjadi lebih berkembang,” kata Jaka yang saat ini rata-rata memproduksi 50 tas dalam sehari.

Berbisnis dengan hanya mengandalkan modal sendiri tanpa pinjaman bank memang memiliki plus minus tersendiri. Kelebihannya, pelaku usaha tidak perlu memikirkan bunga pinjaman sehingga dapat menawarkan harga produk yang lebih rendah.

Eibag sendiri mematok harga tas kamera sekitar Rp155.000–Rp430.000. Tarif tersebut, menurutnya, sangat kompetitif dibandingkan dengan produk berkualitas sama.

Kekurangannya yakni dalam hal pengembangan kapasitas produksi. “Memang kebanyakan orang ingin yang instan, logikanya supaya bisa berkembang harus ada pinjaman bank. Padahal tidak mesti seperti itu, justru pelaku usaha pemula bisa memaksimalkan potensi dengan modal sendiri.”

Saat ini, produk impor dari China semakin membanjiri pasar, tak terkecuali produk tas kamera. Untuk mengatasi persaingan tersebut, pelaku usaha harus pandai-pandai melakukan strategi. Berikut ini sejumlah strategi yang disaring dari pengalaman pelaku usaha:

1. INOVASI.

Inovasi bisa ditempuh lewat berbagai cara. “Inovasi sangat penting. Harus terus jaga kreativitas. Kalau enggak, ya bakal ketendang,” kata Dwi, pendiri Banrun Junior.

Inovasi ini, antara lain, dari segi model tas. Dwi kini telah merilis enam model tas, baik yang berbentuk selempang maupun ransel. Begitu juga dengan motif bahan kain kanvas yang digunakan, selalu diupayakannya agar mengikuti tren terkini.

Saat pasar sedang gemar dengan motif shabby atau bunga-bunga, dia pun merilis tas kamera motif bunga yang lebih feminin.

2. HARGA.

Mengingat konsumen yang dibidik amat sensitif pada harga, produk yang dibuat harus terjangkau di kantong pelajar, mahasiswa, atau fotografer amatir. “Tas kamera yang kami produksi adalah versi murah tetapi dengan kualitas bersaing,” kata Misbach, pemilik Bose Tas Kamera.

Dia menjual produk dengan harga mulai dari Rp195.000–Rp200.000 untuk model ransel, serta Rp125.000 untuk model selempang.

Adapun, Dwi mematok harga mulai dari Rp170.000–Rp500.000. Harga ini jauh di bawah tas merek terkenal yang berkisar Rp500.000 untuk model selempang dan Rp1 juta untuk model ransel.

3. LAYANAN KUSTOMISASI.

Bersaing dari segi harga memang tak selalu bisa jadi senjata andalan. Apalagi barang produksi China kerap lebih murah karena biaya tenaga kerja yang rendah. Oleh karena itu, pelaku usaha perlu mengambil taktik lain, yakni menyediakan jasa kustomisasi.

Strategi ini membuat pelaku usaha dapat menggarap permintaan konsumen yang mencari produk unik, eksklusif, dan tidak pasaran. “Kami menyediakan jasa custom mulai dari bahan baku, bentuk, model, warna dengan masa preorder cukup singkat, sekitar dua minggu,” tutur Dwi.

4. GIATKAN KERJA SAMA.

Pasar ritel yang membeli dengan sistem satuan memang membuat pelaku usaha dapat mengambil margin profit lebih tinggi. Akan tetapi, perputaran modalnya menjadi lebih lambat.

Untuk mempercepat penetrasi pasar, pelaku usaha dapat menempuh jalur pemasaran lewat reseller hingga menjalin kerja sama dengan toko kamera. “Saat ini, kami lebih banyak menjual ke reseller. Cara ini lebih efektif daripada menjual dengan sistem satu-an,” kata Misbach.

Sumber: Bisnis.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here