Mengenal Batik Indonesia: Batik Lasem

0
3127

Pernah dengar tentang kota Lasem? Lasem adalah sebuah kota kecil di pantai utara Jawa yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Kota Lasem dikenal dengan julukan sebagai Tiongkok Kecil (Little Tiongkok). Rumah-rumah tua dengan ciri khas arsitektur Tionghoa yang kental dan juga kelenteng banyak dikumpai di seluruh kota.

Another-example-of-Chinese-heritage-in-Lasem-1024x667
Rumah tua di Lasem yang dijadikan lokasi syuting film Ca Bau Kan (2002) (foto: http://latitudes.nu)

Nah, kota Lasem ini terkenal dengan batiknya. Batik Lasem bergaya pesisiran dengan motif dan warna yang cerah dan berani. Lasem sendiri pada 1350-1375 merupakan sebuah kerajaan kecil di bawah Kerajaan Majapahit dan uniknya selalu dipimpin oleh wanita. Batik Lasem pada awalnya lebih banyak dikenakan oleh wanita keturunan Tionghoa yang berusia lanjut, bahkan sempat dinamai batik encim.

Sejarah Batik Lasem erat hubungannya dengan kedatangan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1413. Dalam Carita Lasem yang menjadi pembuka Kakawin Babad Badrasanti, ada cerita mengenai Pangeran Badranala yang menikah dengan Putri Campa bernama Bi Nang Ti, anak dari Bi Nang Un dan Na Li Ni. Bi Nang Un adalah anak buah kapal Laksamana Cheng Ho. Bi Nang Un dan istrinya Na Li Ni memilih menetap di desa Bonang setelah melihat keindahan wilayah Lasem dan penduduknya yang ramah.

Bi Nang Ti mengajarkan teknik batik kepada anak-anak di daerah Kemendung di Lasem yang dikenal hingga kini. Persilangan budaya Tionghoa dan Jawa terlihat di ciri khas batik Lasem, yaitu identik dengan warna-warna cerah yang identik dengan kultur Tionghoa seperti merah, biru, hijau. Pengaruh Jawa ikut mewarnai corak dan ragam batik Lasem, seperti adanya ornamen kawung dan parang.

Batik Lasem 075
Batik Lasem motif Uang Kepeng

Uniknya, warna merah yang ditemui di batik Lasem tidak bisa ditemui di batik manapun. Nama bekennya adalah abang getih pithik atau warna merah darah ayam. Warna merah ini muncul karena percampuran akar mengkudu dan akar jiruk yang ditambah air yang kandungan mineralnya khusus dari gunung Argopuro.

Warna-warna tersebut dipadukan dengan warna yang biasa muncul di batik Pekalongan atau Solo yaitu soga (warna coklat kekuningan hingga kemerahan yang didapat dari tanaman Soga, Peltophorum pterocarpum). Motif yang banyak dijumpai di batik Lasem juga merupakan pengaruh budaya Tionghoa dengan gambar burung hong (phoenix), liong (naga), ikan mas, ayam hutan, bunga seruni, dan koin uang (uang kepeng).

Batik Lasem 072
Batik Lasem motif liong (naga)

Motif batik tulis Lasem lainnya yang juga terkenal adalah latohan dan watu pecah. Motif latohan berasal dari jenis rumput laut yang banyak ditemukan di kawasan laut Lasem. Latoh termasuk makanan khas Lasem yang bisa dibuat urap sebagai lauk, bentuknya bulat-bulat kecil seperti anggur.

Selain Bang-bangan (warna merah), ada juga warna dan motif khas lainnya yang tidak kalah menarik, yaitu: Tiga Negeri (merah-biru-cokelat), Bang-Biron (merah-biru), es teh atau Sogan (kekuningan), Biron (biru), dan Empat Negeri atau Tiga Negeri Ungon (merah-biru-soga-ungu). Masing-masing warna tersebut memiliki makna dan pemakaian yang berbeda.

Tiga Negeri 1e
Batik Tiga Negeri (foto: http://batiklasemida.blogspot.com/)

Batik Tiga Negeri adalah sebuah masterpiece di dunia batik Indonesia. Batik Tiga Negeri memiliki tiga warna khas yaitu merah, biru, dan soga. Warna merah diproduksi di Lasem, warna biru diproduksi di Pekalongan dan warna soga dikerjakan di Solo. Dengan prosesnya yang rumit dan memakan waktu yang panjang, tidak heran kalau harga Batik Tiga Negeri cukup mahal. Untuk pecinta batik, semakin antik batiknya maka semakin diburu. 

Masa kejayaan batik mulai surut tahun 1950-an. Penyebab utama kemunduran batik Lasem adalah karena terdesak oleh maraknya batik cap di berbagai daerah. Selain itu, juga dikarenakan kondisi politik yang menyudutkan etnis Tionghoa yang merupakan penguasa perdagangan batik Lasem.

Pengrajin batik yang tertua dalah Sigit Witjaksono atau Nyo Tjoen Hian. Sigit Witjaksono lahir pada 1929. Lelaki yang kini berusia 85 tahun itu mewarisi usaha batik dari sang ayah, Nyo Wat Dyiang, yang berdiri pada 1923. Sigit menamakan usaha kerajinan batiknya Sekar Kencana.

Untuk menuju Lasem, dari Semarang jaraknya sekira 130 km atau sekitar 3,5 jam perjalanan. Dari Rembang, Lasem berjarak 12 km arah timur dan berbatasan dengan Laut Jawa Utara. Untuk penginapan di Lasem, terdapat akomodasi dengan harga ekonomis mulai dari Rp100 ribu hingga Rp350 ribu. Kota ini menghadirkan nuansa pengaruh budaya Tiongkok yang kuat.

Sumber:

dgi-indonesia.com/perjalanan-lasem-2-semangat-wiji-soeharto-untuk-lasem/

http://www.indonesia.travel/id/destination/1020/lasem/article/374/batik-laseman-memburu-helaian-kain-cantik-di-tiongkok-kecil

http://life.viva.co.id/style/read/633214/batik-lasem–warisan-anak-buah-laksamana-cheng-ho

http://www.medogh.com/blog/artikel-batik/cerita-dibalik-batik-tiga-negeri/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here