Manajemen Mutu Pangan Untuk Kelangsungan Ekspor Produk Indonesia

0
1018
Bayu Krisnamurthi mantan Wamentan dan Wamendag RI menjelaskan tempat-tempat yang memiliki otoritas untuk mengeluarkan sertifikasi mutu pangan.

Ternyata media sosial seperti Twitter tidak melulu berkaitan dengan hal negatif dan buang-buang waktu, paling tidak untuk timeline yang admin baca di Rabu pagi tanggal 15 April 2014. Diskusi menarik di Twitter ini bermula ketika Yuyun Anwar seorang konsultan dan trainer UKM kuliner pangan bertanya ke Subiakto seorang pakar Branding “Saya cuma berbagi cara bikin sambel daerah. Mengawetkan.Tapi kok sampai pak @Subiakto dari @Rumah_UKM rela bagi ilmu brand? Why?” Untuk pembaca ketahui, Yuyun Anwar memang ahli dalam hal teknologi pangan termasuk urusan pengawetan. Jawaban Subiakto untuk pertanyaan Yuyun Anwar tersebut sederhana “Sambal harus jadi ICON Indonesia.”

Ketika mulai berbicara ICON Indonesia, maka tidak heran diskusi ini semakin melebar terkait dengan ekspor produk andalan Indonesia. Mario Devys seorang pengusaha UKM pemilik produk nasi liwet instan asli Cianjur pun ikut terjun dalam diskusi ini. Hal ini semakin menarik karena Mario memiliki produk pangan berbasis pertanian yang layak diekspor. Jelas sebuah aksi yang perlu dipertimbangkan, mengingat Malaysia sendiri kata Yuyun telah mengekspor ke kita ketupat instan.

Menangkap ide tersebut Mario pun bertanya terkait persiapan yang dibutuhkan untuk melakukan ekspor. Pertanyaan ini pun diarahkan Subiakto untuk ditanyakan langsung kepada ahlinya terutama dalam hal sertifikasi yaitu mantan Wakil Menteri Pertanian dan Wakil Menteri Perdagangan dalam kabinet Indonesia Bersatu era kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono.

Yuyun pun mengajukan pertanyaan “pak Bayu apa dept pertanian bisa jd kompeten authority manajemen mutu pangan kalo olahan expor? Bukan kopi bulk ya”. Bayu Krisnamurthi menjawab “Kemtan yang punya otoritas untuk identitas geografis (kopi Sidikalang, kopi Gayo dll).”

“Kemtan juga otoritatif untuk keluarkan sertifikat GoodFarmingPractices atau sertifikat organik,” tambah Bayu Krisnamurthi.

Selain sertifikat ada juga istilah HACCP yaitu suatu sistem kontrol dalam upaya pencegahan terjadinya masalah yang didasarkan atas identifikasi titik-titik kritis di dalam tahap penanganan dan proses produksi. Bayu Krisnamurthi pun memberi petunjuk untuk mendapatkan sertifikat HACCP “Untuk HACCCP atau GoodIndustrialPractices (untuk produk pangan olahan) bisa ke Kemperind atau BPOM.”

Mempertegas pernyataan Bayu Krisnamurthi, Mario Devys pun menambahkan informasi terkait HKI IG (Identitas Geografis) “Untuk HKI IG dikeluarkan oleh Kemenkumham, dengan rekomendasi dari Kemtan, Provinsi dan Kab/Kota. HKI IG Juga harus didorong oleh masyarakat wilayah tersebut yang terdiri dari petani, pengusaha, pedagang dan pengguna. Karena kepemilikan HKI IG bukan pemerintah, tapi milik masyarakat wilayah tersebut yang mengusungnya ke Kemenkumham. Contoh padi Pandanwangi diusung HKI IG nya oleh MP3C ke kemenkumham dengan rekomendasi Kementan. MP3C = Masyarakat Pelestari Padi Pandanwangi Cianjur, saya juga salah seorang anggotanya.”

Pentingnya memiliki sertifikasi HACCP, GMP, ISO dsb, ibarat kendaraan untuk melobi, seperti melobi konsumen kakap dgn naik ferrari ujar Mario Devys.

Terkait sertifikat otoritatif, Bayu Krisnamurthi juga memberi informasi bahwa sekarang juga banyak lembaga-lembaga sertifikasi mutu swasta atau perguruan tinggi yang otoritatif. Namun tetap saja menurut Bayu Krisnamurthi untuk ekspor semua itu sering tidak cukup karena yang paling penting buyer maunya sertifikasi apa. “Paling sering, buyer pentingkan produk lolos ketentuan di negara mereka bukan sertifkat dari kita.” ujar Bayu Krisnamurthi.

Bisa dibilang diskusi seru nan informatif ini sangat jarang dibahas para pengusaha UKM pangan di Indonesia. Terima kasih untuk platform media sosial Twitter yang memungkinkan banyaknya informasi yang telah dipaparkan di atas menjadi konsumsi publik.

Jika memang sertifikasi di negara tujuan ekspor yang paling menentukan apakah produk pangan yang kita ekspor diterima atau tidak, maka sudah tentu bagi kita yang melakukan ekspor menjamin, membuat, dan mengemas produk yang kita ekspor dengan kualitas tinggi. Karena bisa jadi di negara-negara tujuan ekspor mereka punya standar tinggi dalam hal itu.

Pengusaha UKM harus optimis dan mau berusaha meningkatkan kualitas produk pangannya, toh jika merujuk twit bayu Krisnamurthi, ternyata sambal dari Indonesia laku keras di Amerika Serikat. Jika demikian maka tidak berlebihan Subiakto mengatakan Sambal adalah ICON Indonesia. Dengan proses branding yang baik, maka semakin membekas di memori negara pengimpor sambal bahwa Indonesia adalah produsen sambal terbaik di dunia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here