Konten yang Sama Bisa Disukai Gen Milenial Tapi Di-skip oleh Gen Z?

0
129
Konten yang Sama Bisa Disukai Gen Milenial Tapi Di-skip oleh Gen Z?

rumahukm.com Generasi Milenial (1981–1996) dan Gen Z (1997–2012) sama-sama hidup di era digital, tapi cara mereka menyerap konten ternyata sangat berbeda. Memahami perbedaan ini krusial kalau kamu ingin membangun brand yang relevan untuk kedua kelompok tersebut. Ini bukan sekadar soal umur, tapi psikografi, konteks sosial, dan cara mereka berinteraksi dengan media.

  1. Cara Konsumsi Konten Berbeda: Scroll vs Engage

Gen Milenial cenderung masih nyaman dengan konten panjang, artikel mendalam, dan narasi yang bertahap (misalnya blog, video 8–15 menit). Mereka suka belajar secara bertahap dan menghargai konteks. Sementara itu, Gen Z terkenal sebagai short-attention audience:

  • Mereka lebih memilih konten cepat, visual, dan “to the point” seperti Reels, Shorts, TikTok.
  • Menurut data Global Web Index, Gen Z menghabiskan lebih banyak waktu di format video singkat dibanding Milenial.
  • Gen Z tidak hanya menonton, tapi sering berpartisipasi, misalnya lewat komentar, remix, duet, atau tantangan viral.

Dengan kata lain: Milenial membaca. Gen Z ikut bicara.

Ini penting untuk strategi konten karena engagement Gen Z sering lahir dari interaksi dua arah, bukan penyerapan satu arah.

  1. Preferensi Nilai & Konten

Gen Milenial cenderung mencari konten yang mengedukasi, memberi wawasan baru, atau menjelaskan suatu hal secara detail. Mereka menghargai storytelling yang bermakna dan konteks historis.

Sedangkan Gen Z lebih mencari konten yang relevan dengan pengalaman langsung mereka, serta konten yang terasa personal dan nyata. Mereka cepat membedakan antara “narrative yang disusun ulang” dan “narasi yang memang berasal dari orang asli yang mengalami”.

Pak Bi sering mengingatkan bahwa brand hidup dari persepsi yang dibentuk konsisten, bukan dari satu iklan besar. Ketika kontenmu hanya menjual tanpa relevansi dengan kehidupan nyata audiens, baik Milenial maupun Gen Z akan cepat melewatinya.

  1. Aspek Sosial & Komunitas dalam Konten

Gen Z dibesarkan dalam lingkaran sosial online yang kuat, mereka terbiasa dengan feedback instan, komentar real-time, dan konten yang muat untuk dibagikan ke peer group. Sementara itu, Milenial lebih sering menghargai konteks naratif yang panjang dan diskusi mendalam. Gen Z cenderung mengonsumsi konten yang memiliki potensi untuk menjadi pengalaman sosial, bukan sekadar informasi.

Ini berkaitan dengan teori Kevin Lane Keller bahwa brand resonance bukan soal seberapa sering brand muncul, tapi seberapa dalam brand membuat audiens merasa bagian dari sesuatu. Gen Z sering menilai brand lewat pengalaman komunitas, seperti ikut trend, tantangan, atau kontribusi di platform mereka.

  1. Relevansi Teori Branding: Dari Awareness ke Resonance

David Aaker berbicara tentang brand equity yang lahir dari asosiasi kuat dan diferensiasi nilai. Marty Neumeier menyatakan bahwa brand bukan apa yang diklaim, tetapi apa yang dirasakan orang. Dalam konteks konten:

  • Milenial butuh cerita yang memberi makna sebelum mereka percaya.
  • Gen Z butuh pengalaman yang bisa mereka rasakan dan ceritakan kembali.

Pak Bi menekankan bahwa brand yang kuat bukan sekadar dikenal, tetapi dipahami, dirasakan, dan dilibatkan dalam kehidupan sehari-hari. Itu mengapa konten yang hanya fokus pada satu bentuk tanpa mempertimbangkan perbedaan gaya konsumsi, sering gagal mengikat kedua generasi ini secara bersamaan.

  1. Kesimpulan: Konten Bukan Sekadar Dilihat — Tapi Dirasakan

Intinya, Gen Milenial dan Gen Z mengonsumsi konten dengan cara yang berbeda karena latar pengalaman digital mereka berbeda. Milenial menghargai konteks dan narasi panjang, sedangkan Gen Z mencari koneksi cepat dan pengalaman personal yang bisa dibagikan. Kalau brand hanya membuat konten dengan satu gaya, besar kemungkinan ia hanya “dilihat” bukan “dirasakan”.

Kalau kamu ingin membangun strategi konten yang tidak hanya dilihat tetapi dirasakan, diingat, dan diulangi, belajar dasar-dasar branding dari yang benar sangat penting. Pelajari Kitab BBB 1, 2, dan 3 karya Pak Bi, kamu akan diajarkan bagaimana membangun brand yang kuat dengan konten yang tepat untuk era digital ini.

 

 

Penulis: Mayangwangi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here