Ini Dia, Tiga Takjil Legendaris Yogyakarta

0
893

RAMADAN menjadi saat tepat untuk mencicipi beraneka hidangan dan jajanan khas daerah. Saat bulan puasa inilah berbagai jenis panganan yang jarang atau bahkan tidak dihidangkan selama hari biasa menjadi lebih mudah dijumpai.
Kehadiran pangan kecil ini bisa menggantikan takjil yang selama ini didominasi oleh anaka kolak, bubur atau sekadar puding. Bahkan, dari jenis itu ada yang hanya dibuat dan dijual saat bulan suci Ramadan. Berikut tiga makanan tradisional yang hadir atau cocok disantap saat Ramadan:

1. Kicak

Kicak boleh dikatakan menjadi takjil legendaris lantaran hanya dibuat dan dijual saat bulan suci Ramadan. Masyarkat mengenal panganan ini sebagai takjil asli Kauman, sebuah kampung legendaris di Jalan Ahmad Dahlan yang. Cita rasa Kicak sangat khas dan mencerminkan selera lidah masyarakat Yogyakarta. Terbuat dari beras ketan atau jadah yang dicampur gula pasir membuat Kicak terasa lembut sekaligus manis di lidah. Taburan kelapa parut yang sedikit asin membuat rasanya semakin gurih.

Yang tak kalah istimewa adalah aromanya yang harum perpaduan dari aroma pandan dan nangka yang khas. Meski sederhana wujud Kicak justru sangat cantik. Warna putih ketan dan kelapa parut ditambah potongan kecil daun pandan yang hijau serta buah nangka yang kuning membuat Kicak semakin menggugah selera. Porsi sajiannya yang kecil memang cocok sebagai takjil pembuka sebelum menikmati hidangan utama berbuka. Rasa manis Kicak terlalu kuat bagi mereka yang kurang menyenangi jajanan manis, tapi mencicipinya tak akan membuat lidah rugi. Dengan harga Rp. 2000-2500 per bungkus kecil, jadilah Kicak menjadi takjil istimewa yang selalu diburu penikmatnya selama bulan puasa ini.

Sudah menjadi rahasia umum bagi masyarakat,jika Kicak adalah sebuah panganan yang lahir dari tangan seorang bernama mbah Wono, seorang penduduk Kauman. Bermula dari tahun 1950, Mbah Wono yang menghendaki takjil Ramadan yang berbeda akhirnya membuat sebuah jajanan dari beras ketan ini. Mbah Wono lalu menjualnya dan semenjak saat itulah Kicak disukai sebagai jajanan. Mbah Wono sendiri tetap mempertahankan Kicak sebagai jajanan bulan puasa dan tidak membuatnya di hari-hari biasa. Meski dikenal sebagai jajanan khas Ramadan dan menjadi buruan banyak penikmatnya, tak banyak orang yang membuat Kicak.

kicak

2. Jadah Manten

Jajanan khas ini layak menjadi hidangan pembuka (takjil) yang orang belum tentu mengenalnya. Makanan berbahan dasar beras ketan ini sekilas memiliki komposisi yang mirip seperti lemper, hanya saja bentuk penyajiannya dibuat berbeda. Jadah manten memiliki komposisi bahan seperti beras ketan, santan, daging ayam/sapi sebagai isian.

Setelah beras ketan dan santan dikukus hingga matang, adonan kemudian diberi isian cacahan daging ayam atau daging sapi yang sudah diberi bumbu-bumbu kemudian dibungkus dengan kulit dadar. Setelah itu kemudian adonan dilipat dilipat dan dijepit dengan tangkai bambu. Pada ujung tangkai bambu tersebut disematkan potongan kacang panjang atau buncis yang berfungsi sebagai pengunci jepitan. Langkah terakhir adalah membakar jadah manten yang sudah dijepit dengan tangkai bambu tersebut di atas bara arang hingga mengeluarkan aroma yang khas. Jadah manten memiliki rasa yang gurih, perpaduan antara campuran santan serta isian daging di dalamnya.

Panganan ini dahulu merupakan cemilan kegemaran Sultan Hamengkubuwono VII. Dalam perkembangannya, tak hanya kalangan yang tinggal di dalam kraton saja yang dapat menikmati makanan bercita rasa gurih ini, masyarakat luas yang berada di luar kraton pun akhirnya dapat menikmatinya pula. Jadah manten biasanya disajikan ketika ada acara pernikahan. Makanan ini biasanya dibawa oleh pihak pengantin laki-laki saat bertemu dengan mempelai perempuan.

Jadah manten sendiri memiliki makna agar kedua mempelai yang melangsungkan pernikahan dapat awet dan senantiasa tetap lengket, seperti sifat dan tekstur dari olahan jadah tersebut. Bagi yang penasaran dengan rasa dari olahan jadah manten ini, tak perlu harus menunggu ada acara pernikahan karena Anda dapat menemukan jajanan tradisional ini di Pasar Kotagede, khususnya di lapak pedagang yang menjual aneka jajanan pasar.

jadah manten

3. Kipo

Di Kotagede ada satu jajanan pasar unik yang barangkali masih asing bagi kebanyakan orang, namanya adalah Kipo. Kipo terbuat dari adonan tepung ketan yang dibentuk bulatan pipih dan diberi isi enten-enten (parutan kelapa yang dimasak dengan gula jawa). Cara memasak Kipo agak lain dengan umumnya kue tradisional Jawa, yakni dengan cara dipanggang.

Sebelum dipanggang, adonan yang sudah terbentuk diberi alas daun pisang terlebih dulu agar tidak lengket. Warna hijau Kipo diperoleh secara alami, yakni dari daun suji yang turut dicampurkan dalam adonan tepung ketan. Daun pandan juga digunakan sehingga Kipo memiliki aroma harum yang menggoda. Karena hanya mengandalkan bahan alami dan tanpa pengawet, Kipo hanya bisa tahan untuk satu malam saja.

Ciri khas lain dari Kipo adalah ukurannya kecil-kecil, cukup untuk sekali gigit. Dalam satu porsi biasanya terdapat 5 buah Kipo. Kipo bisa menjadi alternatif takjil bagi mereka yang menghindari makanan berminyak. Berdasarkan cerita turun temurun camilan ini dibuat kali pertama oleh Bu Djito sejak tahun 1946. Awalnya makanan kecil ini belum memiliki nama dan masih asing bagi kebanyakan orang. Ketika melihat jajanan unik berwarna hijau ini para calon pembeli pun penasaran dan bertanya kepada Bu Djito “Iki opo?” yang artinya dalam Bahasa Indonesia adalah “Ini apa?”. Karena saking seringnya menghadapi pertanyaan serupa, Bu Djito pun lantas memberi nama kue olahannya tersebut Kipo, yang merupakan kependekan dari kalimat “Iki opo?”.

Meskipun memiliki sejarah cukup panjang Kipo baru mulai dikenal luas sejak akhir tahun 1980-an, setelah Bu Djito mengikuti sebuah pameran makanan tradisional. Dari sini Kipo mulai memasuki segmen pasar menengah ke atas dan mulai diperkenalkan di hotel-hotel. Sepeninggal Bu Djito di tahun 1993, usaha Kipo ini lantas diteruskan oleh anaknya dan bertahan hingga kini.

kipo

Sumber: krjogja.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here