“Gak Ada Modal Gak Bisa Bisnis, Siapa Bilang?”

0
715

BATAM- Modal bukan menjadi faktor utama bagi seseorang berwirausaha.

Ungkapan tersebut seperti yang diucapkan oleh Kepala Bank Indonesia Kantor perwakilan Kepri, Gusti Raiza Eka Putra dalam memotivasi puluhan pelaku usaha kecil dan mikro (UKM) di temu koordinasi dalam rangka peningkatan kualitas usaha produktif perempuan provinsi Kepri, di lantai tiga Gedung BI di Batam Centre, Senin (27/4/2015) pagi.

Menurut Gusti, jika pelaku UKM mampu meningkatkan kapasitas produknya, serta mendapatkan pembeli yang berkomitmen maka itu dapat menjadi sebuah jaminan bernilai tinggi bagi bank untuk melirik dan membantu pengembangan usahanya.

“Tidak harus bankable. Kalau produknya sudah distandar, pelaku UKM-nya bisa menjual dengan kontrak besar. Seperti di ekspor dan sebagainya, maka itu bisa jaminan buat bank,” ucap Gusti.

Maka penting bagi pelaku UKM untuk meningkatkan kapasitas produk serta akses penjualannya.

Peningkatan kapasitas seperti pembungkusan yang baik, adanya sertifikasi produk, dan lainnya.

“Banyak yang bilang kalau nggak ada modal, usaha nggak bisa jalan. Padahal bukan itu, yang penting peningkatan kapasitas, kemudian tingkatkan akses penjualan, itu yang bisa dijual ke Bank. Modal memang perlu, tapi kalau sudah ada buyer yang berkomitmen, itu bisa jadi modal,” tutur Gusti.

Sayangnya, kebanyakan ukm di Kepri belum memiliki produk-produk yang kapasitasnya meningkat.

Rata-rata produk yang dijual oleh ukm perempuan masih berbentuk barang setengah jadi.

“Terakhir kita melihat lebih dalam lagi, ternyata banyak ibu-ibu di sini yang mempunyai produk kuliner. Utamanya ikan. Cuma mereka menjual lebih banyak berbentuk barang setengah jadi. Belum di packing dengan baik, belum disertifikasi,” tutur Gusti.

Padahal, menurutnya jika produk olahan ikan dijual tanpa ada sertifikasi maupun cara bungkus yang baik, perbandingan harganya bisa lima kali lipat.

“Sangat besar gap harganya. Ini menjadi tantangan buat kita, dan yang perlu kita bantu. Seluruh stake holder,” ujar Gusti.

Apalagi, dari data ukm Kepri yang hampir 13 ribu, sedikit saja yang bankable.

Maka perlu bantuan serta pembinaan dari stake holder terkait. Bantuan pun, menurut Gusti tidak semerta-merta selalu berbentuk uang.

“Saya nggak punya data itu, tapi dari 13 ribu ukm kita yang bankable belum banyak. Saya nggak hafal angka pastinya. Oleh sebab itu kita perlu membantu, tahun lalu BI sudah memulai dengan kegiatan-kegiatan seminar,” kata Gusti.

BI berupaya memberikan pemahaman mengenai produk-produk keuangan kepada pelaku ukm, dengan melibatkan beberapa bank. BI juga pernah memberikan beberapa bantuan sarana prasarana bagi pelaku ukm tersebut.

“kita coba menghubungkan keduanya, tinggal lagi pelaku ukm itu melakukan pendekataan,” ujar Gusti.

Sementara itu, Kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BPPPA) Kepri, Puji Astuti mengatakan ukm perempuan tidak akan maju jika hanya dengan bantuan BPPPA.

“Kalau hanya badan perempuan yang melakukan ini, non sense bisa banyak merangkul pelaku-pelaku usaha perempuan. Semua harus berkoordinasi, badan pemberdayaan perempuan, BKKBN, Dinsos, koperasi, semuanya harus jalan. Bantuan bisa bersifat banyak, bukan uang saja,” kata Puji Astuti.

Sumber: Tribunnews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here