Cara Brand Hidup di Masyarakat

0
216
Cara Brand Hidup di Masyarakat

rumahukm.com Menurut ilmu Pak Bi @subiakto, brand tidak lahir dari iklan, tapi dari proses sosial—dari bagaimana nilai (value) yang ditanam bisa tumbuh di hati masyarakat. Ini dikaitkan dengan konsep adoption category (Everett Rogers, “Diffusion of Innovation Theory”) dengan perjalanan hidup sebuah brand di masyarakat Indonesia. Setiap brand, kata Pak Bi, melewati fase yang sama: dari awareness (disadari), menjadi accepted (diterima), hingga believed (diyakini).

 

Di tahap awal, innovators dan early adopters adalah kelompok yang berperan besar. Mereka lebih dari orang pertama yang mencoba produk, tetapi orang yang percaya pada nilai baru yang dibawa brand. Mereka merasa “brand ini bicara buat saya”, lalu menularkan kepercayaannya ke lingkungannya. Dari sinilah percikan awal makna muncul—bukan sekadar fungsi, tapi keyakinan sosial.

 

Ketika early majority ikut percaya, brand mulai menembus batas pasar dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Inilah momen ketika brand tidak lagi sekedar produk, melainkan budaya konsumsi. Seperti yang terlihat pada Teh Botol Sosro, Indomie, atau Gojek— yang bukan hanya merek, tapi simbol perilaku sosial, bagian dari ritual orang Indonesia.

 

Pak Bi menyebut proses ini sebagai perjalanan value creation menuju cultural adoption—nilai yang awalnya ditanam oleh brand, tumbuh menjadi kebiasaan sosial karena maknanya relevan dengan kehidupan banyak orang. Ketika sebuah brand sampai pada tahap ini, tidak perlu lagi berteriak untuk didengar; masyarakatlah yang membicarakannya.

 

Dan jika kamu ingin memahami lebih dalam bagaimana nilai bisa tumbuh menjadi budaya, temukan jawabannya dalam Kitab BBB (Bisa Bikin Brand) karya legenda branding di Indonesia. Kitab ini bukan sekedar buku, tapi kitab yang memandu bisnismu bertransformasi menjadi sebuah brand yang hidup—diyakini, bukan sekadar dibeli.

 

Penulis: Mayangwangi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here