Bisnis Angkringan Kian Tokcer

0
1973
Ilustrasi angkringan.

Warung angkringan saat ini sudah mendapatkan tempat tersendiri dari berbagai kalangan.

Di Yogyakarta dan beberapa kota di luar Jakarta, keberadaan angkringan mungkin bisa dikaitkan dengan kesederhanaan. Namun, di Jakarta, angkringan merupakan sebuah peluang usaha yang “diam-diam” mendatangkan omzet besar.

Puluhan tahun lalu, dalam masa kesederhanaan, memilih makan di angkringan bisa menjadi solusi. Harganya yang murah menjadikan angkringan cocok untuk kantong bokek para pemuda. Wajar jika warung-warung nasi murah itu banyak terdapat di sekitar kampus-kampus.
Di Yogyakarta, angkringan bertebaran di berbagai tempat. Bahkan, Tono, seorang pemilik angkringan di Jalan Diponegoro mengatakan, bisnis angkringan di Yogyakarta saat ini sudah terlalu padat.

Di jalan tersebut, sekitar delapan tahun lalu, hanya dia yang berjualan. Namun, saat ini ada sekitar lima angkringan yang nangkring di sepanjang jalan itu. Warung nasi itu menjadi incaran para mahasiswa yang punya uang pas-pasan.

Di Yogyakarta, warung angkringan hanya berisi nasi dalam bungkus-bungkus kecil, berisi ikan teri atau tempe iris. Tambahan lauk biasanya berbagai sate tusuk, mulai dari usus, jeroan ayam, tempe goreng, ceker, dan kepala ayam. Semuanya murah dan setengah-setengah mengenyangkan perut.

Fenomena itu kini juga muncul di Jakarta. Beban hidup yang tinggi di kota besar membuat pilihan nasi angkringan mendapat tempat untuk dihampiri, tapi di Jakarta berbeda. Meskipun jenis makanan masih sama, warung angkringan lebih digunakan untuk sarana aktualisasi diri. Makan di angkringan seperti menjadi ikon yang harus dilakukan pemuda perkotaan agar sah dianggap sebagai anak tongkrongan.

Fenomena ini bisa dilihat di angkringan yang terletak di daerah Fatmawati, Jakarta Selatan. Kebanyakan orang yang datang hanya ingin dianggap sebagai anak gaul sejati. Mereka rela mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan sedikit tempat duduk. Bahkan ada yang sudah datang, sebelum warung resmi dibuka tiap menjelang malam.

Yulaika Widhiastuti mengatakan, ia harus berputar-putar dulu untuk sampai ke tempat itu. Apesnya, saat ia menemukan angkringan itu, orang-orang telanjur sudah antre ingin makan juga. “Bisa lebih dari 15 menit mengantre. Lebih baik langsung pilih saja semua yang ingin dimakan, daripada nanti mengantre lagi dari awal,” kata Widhi.

Ia terlihat menenteng sebuah piring kecil berisi sate telur puyuh, usus, dan sayap ayam goreng. Tangan satunya membawa dua bungkus kecil nasi teri. Pemandangan yang sama juga terlihat di warung angkringan di Jalan Margonda, Depok. Saat ini sudah ada tiga warung angkringan di seputar kawasan itu. Padahal, satu dekade sebelumnya tak ada angkringan di sana.

Salah satu warung angkringan di Depok yang menjadi sasaran untuk nongkrong adalah Pak Kumis. Ada dua warung angkringan Pak Kumis yang posisinya berhadap-hadapan. Satu warung mencari sasaran pembeli yang ingin ke Depok, satu lagi menuju arah Jakarta.

Menurut Ade, salah satu penjual di angkringan itu, metode penjualan angkringan Pak Kumis agak berbeda. Mereka tidak memilih membuka warung angkringan seperti normalnya menggunakan gerobak kecil. Mereka justru mencari lahan luas di pinggir Jalan Margonda, seperti parkir bengkel yang tidak dipergunakan saat malam hari. “Kebanyakan yang beli mahasiswa yang tidak bisa tidur dan ingin nongkrong saja,” katanya.

Masalah harga sepertinya tidak terlalu merisaukan pembeli. Kebanyakan pembeli yang datang ke angkringan di Margonda berasal dari kalangan menengah ke atas. Mereka datang dengan mobil-mobil atau minimal membawa kendaraan roda dua.
Bernuansa Mewah

Menyadari daya beli yang lebih tinggi, warung angkringan Pak Kumis menawarkan jenis makanan yang berbeda, seperti nasi sambel belut yang jarang ada di warung angkringan mana pun di Jakarta. Ternyata banyak yang membeli jenis makanan itu, meskipun harganya terhitung paling mahal hingga Rp 20.000 per porsi. “Kalau makan nasi belut, ditambah sate lima tusuk dan minum dua jenis totalnya bisa mendekati Rp 50.000 sekali makan,” ujar Ade.

Uniknya, di daerah Utan Kayu, Jakarta Timur, warung angkringan dirombak lebih bernuansa mewah. Gerobak angkringan itu dipanjang di dalam sebuah kafe yang bersih dan memiliki tempat duduk sofa tebal. Konsumen juga bisa tetap memilih gaya lesehan dengan gazebo kayu berkualitas ekspor.

Para pembelinya difasilitasi dengan sambungan internet gratis berbasis wifi. Lengkap juga dengan toilet yang bisa dipergunakan kapan saja layaknya makan di restoran-restoran mahal. Jenis makanan juga lebih disepadankan dengan kebutuhan modern, seperti nasi berbahan organik yang ramah lingkungan. “Hebatnya lagi makanan di sini tidak mengandung MSG (vetsin-red) yang tidak baik untuk kesehatan,” kata seorang pengunjung.

Masalah harga jangan ditanya. Menurut penjualnya, harga makanan di angkringan itu masih bisa bersaing dengan angkringan model klasik di sekitaran Jakarta yang lain. Tidak dapat dimungkiri, angkringan kini sudah mendapat tempat tersendiri dari berbagai kalangan. Bahkan kelas berduit, yang tidak pusing harus membayar untuk kenyamanan dan rasa yang diinginkan, tak segan-segan untuk nongkrong di angkringan.

Sumber: Sinar Harapan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here