Brand Bukan Tentang Apa yang Kita Katakan, Tapi Apa yang Orang Ingat

0
14
Brand Bukan Tentang Apa yang Kita Katakan, Tapi Apa yang Orang Ingat

rumahukm.com Pernah ketemu business owner dan bertanya,Brand-mu mau dikenal sebagai apa?” Jawabannya bisa bermacam-macam. Contohnya, “profesional”, “terpercaya”, “berkualitas”, “inovatif”, “customer-oriented”, “berpengalaman lebih dari 20 tahun”, dll.

Oke. Coba lanjutkan dengan pertanyaan: “Lantas, apa yang mau kamu tinggalkan di benak customer?”

Di titik ini, biasanya orang yang kamu tanya akan mulai terlihat bingung dan sibuk berpikir. Karena ternyata menjelaskan siapa diri kita dan berhasil dikenali sebagai siapa oleh orang lain itu dua pekerjaan yang berbeda. Ini menarik dari cara Pak Bi @subiakto membicarakan branding.

Brand hidup di benak manusia. Jadi, sebanyak apa pun kita menulis tentang diri sendiri, pada akhirnya orang lain yang akan membuat kesimpulannya sendiri dari apa yang mereka lihat, dengar, rasakan, dan alami. Kita bilang premium, konsumen melihat harga, kemasan, tempat, pelayanan, sampai cara orang di dalam brand itu memperlakukannya. Kita bilang terpercaya, konsumen melihat apakah janji kita ditepati. Kita bilang dekat dengan konsumen, tapi saat konsumen komplain, siapa yang menjawab? Di situ brand sebenarnya sedang bicara.

David Aaker bicara tentang brand associations, yaitu berbagai asosiasi yang muncul di benak seseorang ketika memikirkan sebuah brand. Keller juga membahas bagaimana pengetahuan dan pengalaman terhadap brand akhirnya memengaruhi respons customer. Bahasa sederhananya: orang punya versi mereka sendiri tentang brand kita. Dan versi itu tidak selalu sama dengan versi yang kita tulis di brand guideline.

Coba ganti pertanyaannya jadi, “Kalau nama brand ini disebut di depan lima orang, kira-kira apa yang spontan mereka bilang?”

“… yang kopinya enak.”

“,,, yang pelayanannya cepat.”

“… yang produknya mahal, tapi bagus.”

“… yang owner-nya sering sharing.”

Setelah kata “yang” itu keluar, kita bisa belajar banyak. Itulah asosiasi. Itulah hasil dari branding yang bekerja. Karena sebenarnya manusia tidak mungkin menyimpan semua informasi tentang sebuah brand. Kita cuma menyimpan shortcut. Dan shortcut itulah yang kemudian memengaruhi pilihan.

Mau beli kopi, ingat siapa. Mau cari skincare, ingat siapa. Mau cari konsultan, ingat siapa. Mau makan bareng anak, ingat siapa. Brand yang kuat akhirnya menjadi semacam jawaban otomatis di kepala manusia. Jadi kalau sekarang brand kamu sedang sibuk membuat konten setiap hari, coba sesekali berpikir, setelah melihat semua ini, orang akan mengingat kita sebagai siapa?

Likes, reach, algoritma bisa berubah, namun ketika sebuah makna sudah benar-benar tinggal di kepala orang, di situlah brand mulai punya aset yang jauh lebih mahal.

 

Penulis: Mayangwangi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here