Pertanian dan Perikanan Jatim Siap Bersaing Hadapi MEA

0
758

Surabaya (beritajatim.com) – Persaingan menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 akan dimulai akhir tahun ini. Asisten II Sekdaprov Jatim Hadi Prasetyo menekankan produk pertanian dan perikanan Jatim agar bisa bersaing dengan negara-negara lain di Asia Tenggara.

“Kalau melihat peta perdagangan Asia Tenggara, cuma produk UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) kita yang eksklusif saja yang bisa bersaing. Sebutlah di bidang pertanian seperti buah-buahan atau produk-produk perikanan yang di negara-negara lain tidak punya,” katanya, Kamis (12/2/2015).

Sedangkan untuk produk UMKM jenis lainnya, Hadi memastikan Jatim susah bersaing. “Sebenarnya, dibilang siap atau tidak siap, kita harus siap,” tegasnya.

Hadi menyebut Indonesia berada di peringkat keenam di bidang perdagangan tingkat negara-negara Asia Tenggara. “Secara umum kita kalah dengan Singapura, Thailand, Malaysia, Vietnam dan Filipina. Kalau bersaing dengan Kamboja, Myanmar, Brunei Darusalam, kita menang,” imbuhnya.

Menurut Hadi, hanya produk-produk pertanian dan perikanan saja yang masih bisa bersaing. “Produk kelapa sawit kita sudah disaingi Malaysia. Otomotif kita nomor buncit. Perdagangan juga kalah. Jasa pendidikan pun lewat meski kita punya kampus hebat seperti ITB dan UI,” paparnya.

Diakui Hadi selama ini negara Indonesia tidak pernah secara khusus fokus memikirkan pengembangan produk-produk UMKM. “Kita tidak punya kementerian yang secara khusus menangani UMKM. Dampaknya pemerintah di daerah juga luput memikirkan pengembangan UMKM. Selama ini yang kita lakukan cuma sebatas pembinaan,” jelasnya.

Dibandingkan dengan Malaysia, Hadi mencontohkan, pemerintahnya sudah melakukan inovasi UMKM. “UMKM di Malaysia dibimbing negara, disubsidi, dan kini sudah sampai tahap inovatif,” tuturnya.

Dalam kunjungan pemprov Jatim ke Amerika Serikat belum lama lalu, Hadi menyaksikan Malaysia sudah menitipkan DNA bibit kelapa sawit di sebuah perusahaan Amerika Serikat. “Itu bayarnya mahal sekali. Saya jadi bertanya-tanya apakah Malaysia yang tidak punya lahan perkebunan akan ngotot bersaing kelapa sawit dengan Indonesia,” katanya.

Ternyata, setelah ditelusuri, hasil penelitian DNA kelapa sawit Malaysia yang dititipkan di perusahaan Amerika Serikat ini nantinya untuk mengembangkan pembibitannya saja.

“Tampaknya Malaysia paham betul kalau mau bersaing kelapa sawit dengan Indonesia, mereka bakal kalah karena tidak punya lahan. Jadi mereka nanti cuma mau menjual bibitnya saja. Orang-orang pasti beli bibit dari Malaysia sebab kualitasnya sudah terukur,” ungkapnya.

Keuntungannya tentu diraup Malaysia sebab tidak perlu macul, mupuk, dan bayari pegawai. “Itu namanya inovasi. Indonesia belum sampai ke situ. Padahal dari dulu, semisal dari 10 hektare lahan kelapa sawit yang kita miliki, 30 persennya kebanyakan rusak. Makanya nanti orang-orang Indonesia pun pasti pilih beli bibit (Biogenetik) kelapa sawit dari Malaysia yang kualitasnya sudah terukur dan dijamin tidak bakal gagal panen,” jelas Hadi.

Dari kenyataan itu, Hadi menambahkan, pemprov Jatim tidak mau ambil pusing dalam menghadapi persaingan MEA 2015. “Kita bersaing dengan produk-produk UMKM yang ekslusif saja, seperti produk-produk dari bidang pertanian dan perikanan, yang tidak dimiliki oleh negara-negara lain,” pungkasnya.

Sumber: beritajatim.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here