Tahan Banting di Tengah Kontraksi Ekonomi, UMKM Kian Agresif

0
862
TAMBAH PANGSA: Meski terus tumbuh, risiko kredit di segmen UMKM masih relatif tinggi. Terlihat dari angka NPL yang masih di level 7,23 persen.(Foto: paksi sandang prabowo/kp)

BALIKPAPAN – Diwarnai perlambatan perekonomian, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tetap agresif menyerap kucuran kredit perbankan di Kaltim hingga akhir tahun lalu. Selain menjaga tren pertumbuhan positif, pangsanya juga terus membesar.

Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw-BI) Kaltim mencatat, kucuran kredit untuk usaha segmen menengah ke bawah mencapai Rp 22,89 triliun pada triwulan IV 2015. Nilai tersebut lebih tinggi 5,62 persen dari realisasi yang sama pada tahun 2014.

“Kredit UMKM terus mengalami peningkatan. Hal ini mengindikasikan bahwa segmen usaha ini mampu bertahan di tengah kondisi perekonomian Kaltim yang sedang terkontraksi,” jelas Kepala KPw-BI Kaltim Mawardi BH Ritonga, dalam laporan resminya.

Terhadap keseluruhan kredit perbankan di Kaltim, UMKM juga memperbesar andilnya. Pada periode laporan tercatat, pangsa kredit UMKM bertambah menjadi 21,9 persen pada triwulan IV 2015. Lebih besar dari triwulan sebelumnya yang sudah mencapai 20,6 persen dari kredit keseluruhan.

“Capaian ini lebih baik dibandingkan ketentuan BI yang mewajibkan rasio kredit atau pembiayaan UMKM terhadap total kredit, yang dipatok paling rendah 10 persen pada tahun ini. Itu berdasarkan Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/12/PBI/2015,” terangnya.

Melihat komposisinya, kredit UMKM di Kaltim masih didominasi jenis modal kerja, dengan pangsa sebesar 62,9 persen. Atau senilai Rp 14,39 triliun. Sedangkan jenis lainnya, yakni investasi, di angka Rp 8,50 triliun, atau sebanyak 37,1 persen. “Baik kredit modal kerja maupun investasi, pada UMKM mengalami pertumbuhan positif, masing-masing 4 dan 7,97 persen (year on year).

Berdasarkan sektor bisnisnya, aliran kredit untuk UMKM di Kaltim didominasi sektor perdagangan, hotel, dan restoran (PHR). Lapangan usaha ini menyerap 44,3 persen pembiayaan perbankan untuk kelas menengah ke bawah, dengan nominal mencapai Rp 10,13 triliun.

“Sebagian besar kredit UMKM sektoral mencatat pertumbuhan positif. Bahkan pada sektor pertanian lajunya signifikan, mencapai 11,33 persen (year on year). Ini ditengarai sebagai bagian dari langkah ekspansi usaha segmen ini di perkebunan kelapa sawit,” paparnya.

Diketahui, sektor tersebut memang masih memiliki potensi karena pasar yang semakin berkembang. Itu seiring penambahan jumlah pabrik CPO di Kaltim, yang akan membutuhkan pasokan bahan baku mentah, kelapa sawit.

Meski terus mengalir positif, risiko kredit UMKM masih relatif tinggi. Itu terlihat dari angka kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) yang pada triwulan laporan masih mencapai 7,23 persen. Walaupun, angka itu memang lebih rendah dari triwulan III 2015 yang sempat menyentuh 8,11 persen.

“NPL Gross kredit UMKM memang masih di atas batas indikatif NPL perbankan sebesar 5 persen. Tingginya NPL kredit UMKM ini terutama berasal dari sektor pertambangan dan konstruksi, yang terkena dampak langsung dari kontraksi perekonomian Kalimantan Timur,” pungkasnya.

Sumber: Kaltim.prokal.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here