Terus terang, saya lebih nyaman menyebut diri praktisi. Bukan pakar.
Karena sepanjang hidup saya, saya bukan sibuk bicara teori saja. Saya menjalani, mengerjakan, merasakan, dan membuktikan sendiri bagaimana sebuah brand dibangun lewat proses yang nyata.
Kalau hari ini orang melihat daftar tagline yang begitu panjang, dari Rancak Bana, Sarapan Kedua, TV Eropa Harga Jepang, Renyahnya No. 1, Gantinya Ngopi, Hari ini kita puasa, Ini biangnya, buat apa botolnya, Manalagi selain di McD, sampai Bersama Kita Bisa…
Itu bukan sekadar kumpulan kalimat. Itu adalah jejak perjalanan saya lebih dari 50 tahun.
Saya mempraktikkan dan menyaksikan bahwa tagline yang baik bukan cuma enak didengar. Tagline yang baik itu harus masuk ke memori orang. Tinggal di ingatan mereka, mengubah cara orang melihat produk, bahkan mengubah perilaku mereka.
Saya bersyukur,
banyak orang masih ingat, masih mengulang, bahkan masih merasakan pengaruhnya sampai hari ini.
Biar karya yang bicara.
Biar hasil yang membuktikan.
Biar masyarakat yang menilai.
Dan ini belum selesai.
Sampai hari ini saya masih berkarya, masih belajar, masih berbagi.
Karena buat saya, membangun brand itu bukan pekerjaan sesaat.
Itu adalah proses panjang. Proses memahami manusia.
Memahami memori.
Memahami perilaku.
Dan selama saya masih bisa, saya akan terus berkarya.
Karena saya seorang praktisi. Gak cuma bicara
Tagline saya terbaru?
“Satu suapan demi masa depan” – Sporky Maxi,
Subiakto, CBS
Praktisi Branding 50 tahun



























