Di era digitalisasi ini, membuat konten terasa semakin mudah. Tools semakin banyak, proses makin cepat, hasilnya juga terlihat rapi. Dalam beberapa menit saja, satu ide bisa langsung jadi caption, script, bahkan konsep campaign. Semua terasa efisien. Tapi, di saat yang sama, feed jadi pasat dengan konten yang mirip. Konten-konten tersebut mungkin terasa baik-baik saja, namun jika diamati lebih dalam, semua terasa tanpa “nyawa”.
Di titik ini, yang akan terasa berbeda justru konten yang punya sudut pandang. Konten yang datang dari pengalaman, dari hal yang pernah dirasakan, biasanya lebih hidup. Ada emosi kecil yang ikut terasa. Audiens bisa merasakannya, bukan cuma membaca.
Seperti yang dibahas Marty Neumeier, orang menyimpan feeling lebih lama daripada kata. Maka, ketika konten punya rasa, peluangnya akan lebih besar untuk diingat. Kita tidak lagi bicara soal viralitas, namun nilai emosi di baliknya.
Banyak bisnis masih sibuk mengejar konsistensi posting. Content plan tertata rapi, terjadwal, terorganisir. Tapi tanpa arah yang jelas, semua itu cuma jadi aktivitas. Tidak ada makna yang benar-benar diulang. Audiens melihat, lalu melewatkannya karena merasa tidak ada yang istimewa. Di sini, konten autentik lebih penting di atas segalanya, bukan konten yang “sempurna” tanpa cela. Konten autentik perlu value, makna, dan sudut pandang yang humanis.
Kamu sudah membuat konten tapi rasanya belum benar-benar engaged dengan target audiens? Kamu butuh mengubah mindset-mu tentang branding, marketing, dan selling yang relevan di masa kini. Di Workshop BBB, semua akan dibedah dari dasar, supaya bisnismu punya arah yang jelas. Tunggu update jadwal workshop BBB selanjutnya dari Pak Bi @subiakto!
Penulis: Mayangwangi


























