Pak Bi dan Bu Dwita berkenalan dengan Ibu Tri Sukemi pada Workshop #BisaBikinBrand Batch 5 di Yogyakarta, 26 Maret 2016 lalu. Beliau membawakan oleh-oleh berupa peyek pegagan, gula kelapa, gula kelapa kunyit, beras dan lainnya yang merupakan produk dari UKM Kulonprogo. Bu Emi, seperti biasa beliau dipanggil, ternyata memulai semuanya dari kemahirannya berbahasa Inggris.
Ketika Bu Emi berusia 15 tahun, beliau rutin menumpang kereta dari Stasiun Wates ke Stasiun Tugu, Yogyakarta untuk menyalurkan hobinya jalan-jalan sekaligus mengasah kemampuannya berbahasa Inggris. Di Yogya, beliau mengajak bicara turis mancanegara. Setelah mengobrol, barulah Bu Emi menawarkan jasa sebagai pemandu wisata, sesuai dengan minat mereka. Tidak hanya menambah teman dari berbagai benua, bekerja sebagai pemandu wisata membuat Bu Emi bisa membayar uang SPP dan uang jajannya sendiri selama SMA.

Di masa-masa sepi kunjungan wisata, Bu Emi bekerja sebagai pengajar kursus bahasa Inggris untuk calon pemandu wisata. Di rumahnya, ia kerap diminta mengajar privat anak-anak yang akan mengikuti ujian nasional.
Di luar aktivitasnya sebagai pemandu wisata dan guru privat bahasa Inggris, Bu Emi aktif terlibat dalam UKM Kulonprogo. Kegiatannya ini bermula dari pergaulannya di berbagai komunitas, salah satunya adalah Komunitas Aku Cinta Kulonprogo (ACKP). Dari grup itu, Bu Emi berbagi pengalaman dengan warga Kulonprogo di luar daerah. Kekangenan anggota grup dengan oleh-oleh khas Kulonprogo membuat Bu Emi kerap mendapat pesanan dari mereka, hingga akhirnya membawa beliau bertemu dengan kurang lebih 35 UKM. Dari pesanan teman-teman di grup, Bu Emi membangun jaringan dagang, membantu UKM se-Kulonprogo menjajakan produknya.

Tidak hanya membantu UKM, Bu Emi akhirnya memberanikan diri untuk ikut berusaha. Ia membuka kios mini di rumahnya yang menjual peyek pegagan, peyek seser, kopi, cabai bubuk, dan beras organik. Dalam produksinya, Bu Emi melibatkan 20 orang ibu rumah tangga. Mereka diajari caranya mengolah peyek pegagan dan peyek seser, hasil produksi diambil dan dijual lagi. Keuntungannya dibagi bersama. Kata Bu Emi, peyek pegagan dan peyek seser dikirim ke sejumlah obyek wisata di Kulonprogo dan juga luar kota dengan pesanan mencapai 50 kg per minggu.

Kalau dulu bolak-balik Wates-Yogyakarta dengan kereta, kini Bu Emi menjalankannya dengan sepeda motor. Hampir setiap hari Bu Emi ke kota untuk mengajar, bertemu relasi maupun rekan organisasi serta berbagi. Bu Emi bergabung dengan komunitas Sedekah Ilmu, berbagi untuk orang-orang yang kurang beruntung seperti penghuni lapas. Bersama suaminya, Agus Hasanudin, Bu Emi mengangkat dan menyekolahkan anak yatim piatu hingga sarjana.
Bu Emi berpedoman untuk terus mengembangkan diri dan menggali potensi melalui berbagai komunitas, agar lebih bermanfaat bagi orang lain. Semangat dan kerja keras Bu Emi patut kita contoh nih, teman-teman 🙂
Sumber: Koran Minggu Pagi, No. 48 Th 68 Minggu IV Februari 2016

























