Pada tanggal 18-20 November lalu, penulis yang tergabung dalam tim Rumah UKM berkesempatan mengunjungi Cirebon. Kami menumpang kereta Cirebon Ekspres yang berangkat pukul 6 pagi dari Stasiun Gambir, Jakarta. Dengan sengaja kami mengambil kereta paling pagi agar bisa memaksimalkan waktu kami di Cirebon yang cukup singkat.
Setelah perjalanan kereta yang memakan waktu sekitar tiga jam, sekitar pukul sembilan pagi kami sampai di Cirebon. Kami dijemput oleh Sally dan tim Batik Trusmi di stasiun dan diantar ke Nasi Jamblang Bu Nur di Jl. Cangkring II. setelah sebelumnya menaruh bawaan kami di hotel. Karena lapar, banyak di antara kami yang kalap mengambil berbagai macam lauk yang disajikan secara prasmanan seperti perkedel kentang goreng, cumi hitam, pepes ayam, dan lainnya. Tak lupa dengan sirup Tjampolay dicampur susu kental manis yang entah mengapa menurut saya sangat klop dengan Nasi Jamblang!

Setelah kenyang brunch dengan Nasi Jamblang Bu Nur, rombongan menuju Pesona Batik yang terletak di ujung kawasan Trusmi. Pesona Batik menempati gedung kantor pos peninggalan Belanda dan dihiasi oleh berbagai perabot antik dan unik. Untuk masuk ke dalam Pesona Batik, pengunjung harus melepas sepatu yang diletakkan di rak yang telah disediakan. Kaki terasa dingin menyentuh lantai semen, memberi kesan teduh di dalam butik yang kontras dengan cuaca panas Cirebon siang itu.
Menurut Sally, koleksi di Pesona Batik lebih eksklusif dibandingkan yang ada di Pusat Grosir Batik Trusmi. Butik berkonsep heritage (budaya) ini juga menjual kain batik kuno. Tidak heran, harga kain batik disini dibanderol dari kisaran Rp 100,000 hingga Rp 2,000,000. Tidak hanya kain, berbagai blazer, kemeja, dan dress batik juga bisa anda pilih disini.
Dari Pesona Batik, Sally membawa rombongan Rumah UKM menuju Pusat Grosir Batik Trusmi. Kami disambut dengan ritual pengalungan bunga di pintu masuk toko. Puas melihat-lihat dan belanja, kami disuguhi Tahu Gejrot dan berbagai minuman dingin sambil lesehan. Di penghujung kunjungan kami siang itu, Pak @BudiIsman ikut menari bersama Sally dan pegawai Pusat Grosir Batik Trusmi diiringi lagu “Sakitnya Tuh Disini”. Lumayan, dapat hadiah kain batik…
Tak terasa sudah tengah hari, kami yang masih kenyang pun dibawa ke Empal Gentong Hj. Dian di kawasan Plered. Saya memutuskan untuk mencoba Empal Asem, versi kuah bening dari Empal Gentong yang bersantan. Enak!
Setelah makan, Pak @Subiakto dan Pak @BudiIsman bersiap-siap untuk memberikan seminar di Islamic Convention Centre At-Taqwa. Keduanya hadir mendukung Mas @JayaYEA dalam seminar yang bertajuk “Buka Toko Online Langsung Laris”. Tepat pukul empat sore, Pak @Subiakto membuka sesi “Branding untuk UKM”, dilanjutkan dengan Pak @BudiIsman dengan “Program 1in20 Movement. Dalam kesempatan ini, kami juga bertemu dengan pelaku UKM lokal seperti Banana Keraton (@aji_omlet) dan Choco Hut @ChocoHut1 dari Tegal. Peserta seminar yang diadakan gratis ini juga banyak, sekitar 300 orang!
Ketika break, saya dan beberapa rekan minum kopi di café depan venue. Sayangnya yang saya minum malah terasa seperti susu kopi kebanyakan air.
Setelah sarapan di hotel esok paginya, kami mengunjungi Gua Sunyaragi yang tengah dipugar. Saya terkesima dengan letaknya yang berada di tengah pemukiman padat penduduk. Gua Sunyaragi, yang berarti raga yang sunyi, dulu digunakan sebagai tempat bertapa Sultan Cirebon. Dengan bentuk yang unik dan sejarah yang mengesankan, semoga Gua Sunyaragi mengundang turis baik lokal maupun mancanegara.
Pada tengah hari, kami bergerak menuju Keraton Kasepuhan Cirebon. Rombongan dibagi dua, Pak @Subiakto dan Bu @DwitaSoewarno bertemu dengan Sultan Cirebon, dan lainnya berjalan-jalan di Keraton. Saya berkesempatan melihat kereta kencana Keraton Kasepuhan yang bernama Singa Barong yang telah diakui oleh ilmuwan Belanda sebagai kereta kencana tercantik di dunia. Selesai dibuat pada tahun 1600-an, kereta Singa Barong sudah memiliki teknologi suspensi layaknya mobil masa kini.
Ada juga lukisan Prabu Siliwangi yang seakan bisa bergerak apabila kita bergeser dari kiri ke kanan. Kaki Prabu Siliwangi dan mata harimau seakan mengikuti gerak kita. Menurut pemandu keraton, sang pelukis mendapat ilham lukisan tersebut dari mimpinya. Unsur magis yang kental membuat saya mengurungkan niat untuk memotret lukisan tersebut.
Setelah jalan-jalan di kedua lokasi wisata Cirebon tersebut, kami makan siang di Nasi Lengko H. Barno di Jl. Bahagia. Hampir semua anggota rombongan minum jus jeruk karena panasnya cuaca Cirebon hari itu. Kami terkejut dengan banyaknya porsi Nasi Lengko, lengkap dengan sate kambingnya. Ternyata sambal kacangnya jauh lebih pedas dari dugaan kami! Di tengah acara makan siang, Mas @JayaYEA dan @masmono08 menyusul kami bersama Sally dan Mas Ibnu, suaminya. Setelah foto-foto, kami kembali menuju hotel hingga malamnya wisata kuliner di depan Gedung BAT (British American Tobacco).
Di hotel, saya memesan Kopi Rempah dari café Omah Kebun. Saya iseng bertanya kepada pelayan tentang kopi yang digunakan. Ternyata salah satu merk kopi instan kesukaan orang Indonesia yang mereka sediakan. Alhasil, demi mengatasi ngidam kopi yang teramat sangat, saya dan teman sekamar saya membuat kopi di kamar hotel. Tanggal 20 November, kami pulang dari Cirebon dengan kereta Cirebon Ekspres pukul 10 pagi.
Perjalanan ke Cirebon ini berkesan bagi kami karena Cirebon menyimpan potensi wisata dan UKM yang besar. Motif batik yang khas, makanan yang lezat, serta anak muda yang semangat berwirausaha membuat kami yakin bahwa hanya dalam hitungan tahun Cirebon akan menyusul kota-kota besar lainnya. Hanya saja, masih dibutuhkan edukasi untuk masyarakat lokal agar lebih sadar dengan potensi yang dimilikinya.
Ditulis oleh: Nadia Vetta


























