Kementerian UMKM Perkuat Kemitraan dan Rantai Pasok Usaha Menengah pada 2026

0
21
ilustrasi oleh admin

rumahukm.com Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) memastikan penguatan skema kemitraan dan rantai pasok melalui program Holding UMKM. Program tersebut akan dioptimalkan dan diperluas pada 2026 sebagai upaya memperkuat struktur usaha nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM Bagus Rahman mengatakan akan mengembangkan sedikitnya lima klaster strategis pada 2025. Kelimanya yaitu sepak bola, pariwisata, pertanian, makan bergizi gratis, serta kesehatan dan kecantikan.

“Untuk klaster sepak bola, pada awal Desember telah dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Kementerian UMKM, Kementerian Pemuda dan Olahraga, serta Kementerian Dalam Negeri. Kami sepakat memperkuat ekosistem sepak bola melalui pemberdayaan UMKM. Sepak bola dipilih sebagai proyek percontohan dan selanjutnya akan dikembangkan ke cabang olahraga lainnya,” ujar Bagus di Jakarta, pada Selasa, 16 Desember 2025.

Sepanjang 2025, ujar Bagus, Kementerian UMKM telah menjalankan program Holding UMKM melalui sejumlah klaster, seperti fesyen, kriya (handicraft), serta kelautan dan perikanan. Pada klaster kelautan dan perikanan, program ini melibatkan sebanyak 600 pemindang ikan.

“Sementara itu, pada klaster fesyen terdapat 550 pengrajin dan reseller yang terlibat, serta 150 pengrajin pada klaster kriya,” kata Bagus.

Melalui program Holding UMKM, Bagus mengatakan bahwa pengusaha menengah diharapkan dapat menjadi poros penghubung bagi usaha mikro dan kecil dalam klaster yang sama. Hal ini bertujuan menciptakan akses pembiayaan, pendampingan, dan pemasaran yang lebih kuat untuk mendorong pertumbuhan usaha secara berkelanjutan.

“Usaha menengah diharapkan mampu membantu menyelesaikan berbagai tantangan yang kerap dihadapi usaha mikro dan kecil, seperti kendala produksi, keterbatasan akses pembiayaan, belum optimalnya standardisasi mutu, serta lemahnya integrasi rantai pasok,” ujarnya.

Kementerian UMKM juga akan mengoptimalkan pembiayaan inovatif bagi usaha menengah melalui skema yang terstruktur, terkurasi, serta berbasis pada kesiapan finansial dan potensi usaha pada 2026.

“Pada tahun sebelumnya, terdapat 56 usaha menengah yang terpilih dalam skema pembiayaan ini. Program tersebut merupakan hasil kolaborasi dengan sejumlah lembaga keuangan perbankan dan nonperbankan,” kata Bagus.

Selain itu, Bagus juga mengatakan bahwa program RISE to IPO, yang bertujuan memberikan kesempatan bagi usaha menengah untuk melantai di bursa, juga akan kembali diselenggarakan pada 2026 di Surabaya, Bandung, dan Makassar. “Pada tahun sebelumnya, program RISE to IPO telah dilaksanakan di Jakarta dan Semarang dengan total 128 perusahaan yang lolos proses kurasi dan mengikuti rangkaian seminar,” tuturnya.

Menurut Bagus, program RISE to IPO menjadi jembatan strategis bagi pengusaha menengah untuk naik kelas, dari perusahaan tertutup menjadi perusahaan terbuka yang lebih tertata, transparan, dan kompetitif. Selain itu, program ini juga berperan sebagai jangkar penting dalam memperkuat ekosistem jutaan usaha mikro dan kecil di seluruh Indonesia.

Sumber: tempo.co

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here