Akhir pekan lalu, Pak Bi dan Bu Dwita menghabiskan akhir pekan di Batam dalam rangka kelas Digital Branding 2 Miliar yang diselenggarakan oleh AsiaPro Center. Sebelum membagi ilmu brandingnya di seminar yang diadakan di Hotel PIH, Kota Batam Center itu, Pak Bi dan Bu Dwita berkesempatan untuk berkenalan dengan teman-teman UKM Batam sambil mencicipi kuliner khasnya.

Tidak lama setelah landing di Bandara Internasional Hang Nadim, Pak Bi dan Bu Dwita dijemput oleh Mas Muji dari AsiaPro Center menuju Teh Tarek Raja yang bertempat di Jalan Engku Putri/Komp. Orchids Mas. Disana, mereka bertemu dengan pemiliknya yaitu Bu Rita yang menyuguhkan Roti Manis Goreng isi kelapa dan Cumi Bumbu Hitam yang enak banget.

Menurut teman-teman Batam, Teh Tarek Raja adalah pilihan utama mereka kalau mau minum teh tarik. Lebih lanjut lagi, Bu Dwita bilang kalau brand “Teh Tarek Raja” sangat sesuai karena benar-benar menjadi “rajanya” teh tarik di Kota Batam. Ternyata, asal-usul nama Raja adalah dari namanya Bu Rita sendiri yang keturunan bangsawan lho.
Di Teh Tarek Raja, Pak Bi dan Bu Dwita bertemu dengan Bu Mei Jayanti yang memiliki rumah makan Bakso Tenis Argo Lawu. Bu Dwita sempat heran dengan namanya, jauh-jauh ke Batam kok ketemunya sepur jurusan Gambir-Solo? Ternyata, Bu Mei dan suami memang orang Jawa dan ingin menjadikan nama Argo Lawu sebagai tribute. Agar menjadi lebih Batam, Bu Dwita dan Pak Bi menyarankan untuk membuat bakso dari gonggong, yaitu siput laut yang hanya bisa ditemukan di perairan sekitar Batam, Bintan, dan Belitung.
Beranjak dari Teh Tarek Raja, Pak Bi dan Bu Dwita mengunjungi pameran seni di depan Carrefour Kepri Mall. Disana, mereka berkenalan dengan Bu Elviana, pemilik Rumah Kreatif yang mengkhususkan kerajinan tangan dari cangkang gonggong.

Malamnya, Pak Bi dan Bu Dwita mencoba Mie Tarempa dan Luti Gendang. Tarempa adalah nama pulau yang masih termasuk dalam gugusan Kepulauan Riau. Mie Tarempa tersedia dalam pilihan kering, lembab, dan basah sedangkan Luti Gendang mirip dengan Roti Manis Goreng, namun berisi ikan dengan bumbu pedas khas Melayu yang menggugah selera.
Keesokan harinya, Digital Branding 2 Miliar dimulai pukul 9 pagi, dibuka dengan sambutan dari Mas Muji selaku penyelenggara. Selanjutnya, ke-17 peserta memperkenalkan diri dan juga menyatakan maksud mereka mengikuti seminar ini. Seperti biasa, Pak Bi mengenalkan konsep Tumpeng Kehidupan sebelum materi dimulai.

Kelas berlangsung seru karena materi yang diajarkan adalah hasil dari pengalaman Pak Bi selama 40 tahun sebagai praktisi branding; misalnya brand yang kuat berasal dari positioning yang kuat, dan positioning itu lahir dari brand DNA. Membangun brand memerlukan keberanian karena brand dibangun dalam jangka panjang untuk intangible asset.
Iklan-iklan besutan Pak Bi seperti McDonald’s (“Manalagi Selain di McD”), Xonce (“Xoncenya Mana?”) dan Kopiko (“Kopiko, Gantinya Ngopi”) terkenal karena slogan yang catchy. Nah, menurut Pak Bi, slogan yang Call to Action adalah syarat untuk brand campaign.

Pada sesi kedua setelah makan siang, Pak Bi dan semua peserta Digital Branding 2 Miliar menyiapkan City Branding untuk Batam. Kira-kira apa sih keunikan Batam yang bisa diangkat? Jawabannya tak lain dan tak bukan adalah gonggong!

Uniknya, dari semua kelas yang pernah diadakan, baru kali ini ada kelas yang menghasilkan sebuah keputusan kolektif. Mbak Dee ingin membuat event Sejuta Gonggong dan Mas Deny akan menyiapkan website khusus mengenai gonggong. Mas Heru dari Ayam Panggang Bumbu Rujak Bude Ari akan membuat menu gonggong juga 😀 Nah, semua peserta Digital Branding 2 Miliar ini akhirnya membuat grup Whatsapp City Branding Batam dengan Mas Muji sebagai koordinatornya.

Di akhir kelas, Bu Mei dari Argo Lawu datang membawa bakso tenis berisi gonggong. Wah, padahal baru kemarinnya mendapat ide bakso gonggong! 😀 Setelah seharian penuh ngebul belajar branding hingga ngomongin gonggong, Pak Bi dan Bu Dwita harus segera bergegas menuju bandara untuk penerbangan kembali ka Jakarta. Terima kasih Batam atas dua hari yang berkesan!

























