rumahukm.com Brand activation adalah momen ketika brand tidak lagi cuma numpang lewat di timeline, melainkan hadir dan dirasakan langsung. Ini proses mengubah komunikasi dari cuma “lihat dan lupa” menjadi “alami dan ingat.” Pak Bi @subiakto selalu bilang: brand harus turun ke lapangan, hidup di keseharian orang, bukan cuma diam di baligo atau feed. Activation inilah yang menjadi jembatan ketika awareness mulai berubah jadi kebiasaan.
Kalau kata Kevin Lane Keller, activation adalah level di mana konsumen mulai ikut terlibat, bukan cuma kenal. Di sinilah pengalaman emosional dan sentuhan fisik memainkan peran penting. Karena, seperti yang disampaikan David Aaker, manusia tidak membangun ikatan hanya dengan logika, tapi dengan rasa. Kita mengingat apa yang tubuh dan hati kita alami, bukan apa yang hanya lewat di depan mata.
Yes, aktivasi tidak harus heboh. Tidak selalu berupa event besar dengan panggung megah. Bisa sesederhana: bagi-bagi tester ke ibu-ibu komplek, live demo di TikTok, kelas mini bareng komunitas, atau loyalty program yang bikin orang balik lagi tanpa disuruh. Ketika Nike bikin pop-up running kecil di sebuah kota, mereka jelas bukan jualan sepatu, namun justru mengaktifkan identitas “You are runner. You can do it.”
Jadi pertanyaan paling penting bukan “aktivasi apa yang lagi viral?”, tapi aktivasi apa yang bikin orang mengulang pengalaman itu besok, lusa, dan minggu depan? Karena seperti kata Pak Bi, brand baru benar-benar kuat saat sudah bertransformasi menjadi perilaku.
Buat kamu yang ingin belajar lebih jauh tentang branding, jangan lewatkan Workshop Offline BBB edisi Bandung di tanggal 22 Januari 2026!
Penulis: Mayangwangi


























