Adoption Category dalam Branding: From Innovation to Trust

0
153
Adoption Category dalam Branding: From Innovation to Trust

rumahukm.com Dalam membangun brand, penting memahami bahwa tidak semua orang langsung menerima hal baru pada waktu yang sama. Konsep ini dijelaskan oleh Everett M. Rogers dalam teori “Diffusion of Innovation” yang membagi proses penerimaan inovasi ke dalam lima kategori: innovators, early adopters, early majority, late majority, dan laggards. Setiap kelompok memiliki peran berbeda dalam menentukan seberapa cepat sebuah produk atau brand diterima masyarakat.

 

Dalam dunia branding modern, teori ini membantu kita memahami bagaimana kepercayaan terhadap sebuah brand menyebar. Philip Kotler menekankan pentingnya komunikasi yang tepat di setiap tahap adopsi—misalnya, innovators perlu diberi ruang untuk bereksperimen, sedangkan early majority perlu diyakinkan melalui bukti sosial. Sementara Marty Neumeier menyebut bahwa brand tidak dibangun oleh perusahaan, melainkan oleh percakapan dan persepsi publik yang tersebar melalui komunitas pengguna awal.

 

David Aaker, pakar lain di bidang brand equity, melihat bahwa loyalitas tumbuh seiring meluasnya adopsi. Saat nilai emosional brand menguat, konsumen tidak lagi sekadar membeli produk, tetapi mulai percaya dan menjadikannya bagian dari identitas mereka. Di titik inilah brand berkembang dari sekadar inovasi menjadi keyakinan sosial.

 

Dalam konteks Indonesia, Pak Bi @subiakto menafsirkan konsep ini dengan cara yang lebih budaya. Menurutnya, perjalanan brand dimulai dari tahap awareness, berkembang menjadi acceptance, lalu berujung pada belief. Innovators dan early adopters adalah orang-orang pertama yang percaya pada nilai baru yang diciptakan brand. Mereka bukan hanya mencoba produk, tetapi juga menularkan makna kepada lingkungannya hingga brand menjadi bagian dari budaya—seperti yang terjadi pada Teh Botol Sosro, Gojek, dan Indomie.

 

Menurut Pak Bi, branding sejati bukan sekadar membuat orang tahu dan membeli, tapi membuat orang percaya dan hidup bersama nilai brand itu. Jika kamu ingin memahami lebih dalam bagaimana menciptakan makna, membangun kepercayaan, dan menumbuhkan brand yang berakar kuat di masyarakat, baca Kitab BBB segera. Bukan cuma buku biasa, Kitab BBB adalah panduan penting untuk siapa pun yang ingin membangun brand yang tidak hanya laris-manis, tapi juga hidup di hati audiens.

 

Penulis: Mayangwangi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here