Mengukur Nilai Brand UKM Dengan Customer-Based Brand Equity

0
60
Mengukur Nilai Brand Ukm Dengan Customer-Based Brand Equity

rumahukm.com. Saat ini pelaku UKM sudah biasa memanfaatkan digital marketing untuk meningkatkan pendapatan bisnis mereka. Selama ini ukuran keberhasilan lebih berorientasi pada jumlah prospek terpapar iklan, dan jumlah penjualan.

 

Namun, masih jarang pelaku UKM yang mengukur berapa nilai brand mereka dari sudut pandang konsumen. Salah satu cara untuk mengukur nilai brand dengan menggunakan Customer-Based Brand Equity.

 

Keller (1993) memperkenalkan konsep Customer-Based Brand Equity (CBBE) yang merupakan ukuran respons konsumen terhadap pemasaran merek berdasarkan tingkat perbedaan pengetahuan merek (brand knowledge) di benak konsumen.

 

CBBE menunjukkan bahwa konsumen bereaksi secara berbeda terhadap strategi pemasaran merek bergantung pada pengetahuan merek tersebut di benak mereka.

 

Umumnya konsumen bereaksi positif terhadap merek yang mereka kenal. Jadi, CBBE menekankan bahwa  pengetahuan merek yang kuat dan positif yang tersimpan dalam ingatan konsumen akan mempengaruhi perilaku konsumtif konsumen.

 

Lebih lanjut, Keller menyebutkan pengetahuan merek merupakan gabungan dari Brand Awareness dan Brand Image. Brand Awareness merupakan keadaan yang menggambarkan sejauhmana konsumen mengenali (brand recognition) dan mengingat (brand recall) sebuah brand dalam berbagai situasi. Sedangkan, Brand Image merupakan  serangkaian asosiasi yang terkait dengan merek yang diingat konsumen (Keller, 1993).

 

Oleh karena itu, pelaku UKM mesti menyadari bahwa upaya pemasaran jangka pendek yang dilakukan saat ini akan berkontribusi pada pembentukan pengetahuan merek dalam jangka panjang yang akan memengaruhi kesuksesan merek di masa depan.

 

Misalnya, jika saat ini merek diperkenalkan sebagai produk murah dengan harga diskon, maka dalam jangka panjang akan terbentuk pengetahuan merek bahwa “Merek ini adalah produk murah”.  Jadi, akan sulit mengubahnya di masa mendatang, sebagai “Merek Premium Price”

 

Oleh sebab itu, Keller menyampaikan bahwa pelaku usaha mesti memahami CBBE untuk meningkatkan efisiensi biaya pemasaran. Pemahaman tentang CBBE membantu pelaku usaha untuk mengarahkan strategi pemasaran untuk fokus pada brand recognition (bagaimana brand dikenali), brand recall (bagaimana brand diingat) dan brand image (brand menciptakan asosiasi yang bermakna bagi konsumen).

 

Sederhananya, pengetahuan merek itu seperti ungkapan pak Bi di Kitab Bisa Bikin Brand:

“Ingat Merek Ingat Maknanya, Ingat Maknanya Ingat Merek”

 

Jadi, mulai sekarang ciptakan Makna bagi konsumen, agar mereka mengingat Brand Anda.

 

Mau menciptakan makna untuk nama merek?

Yuk, belajar bareng pak Bi di di workshop “Bisa Bikin Brand” tanggal  23-24 Juli 2024

Info pendaftaran di biolink @subiakto

 

Bagi yang berminat untuk mendapatkan inspirasi dan insight membangun bisnis yang sustainable dan profitable bisa langsung ke website subiakto.com dan rumahukm.com  serta  subscribe channel Youtube pak Subiakto di Subiakto Official.

Ini saatnya Indonesia “Membumbui Dunia dengan Produk Lokal Indonesia

Kreasi Anak Bangsa, Cita rasa untuk Dunia

Cita Rasa Dunia … Indonesia

 

Penulis: JF Sebayang

@jfsebayang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here