MENGELOLA “BRAND EQUITY” UMKM

0
145

“Brand Equity has the Potential to Add Value  for the Firm by Generating Marginal Cash Flow.” (David Aaker, 1991)

“Rencana Strategis Kementerian Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah Tahun 2020 – 2024” menyebutkan pengembangan Koperasi dan UMKM ke depan untuk memperkuat ketahanan ekonomi dalam rangka mendukung pertumbuhan yang berkualitas dengan sasaran utama peningkatan nilai tambah, daya saing, investasi, ekspor, substitusi impor dan perluasan lapangan kerja melalui penguatan Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan Kewirausahaan.

Arah kebijakan Kementerian Koperasi dan UKM ini sejalan dengan misi organisasi yaitu “Koperasi yang Modern dan UKM Naik Kelas”.

Indikator yang dipergunakanuntuk mengukur “UKM Naik Kelas” dengan memperhatikan bentuk usaha menjadi formal, adanya sistem keuangan serta total penjualan dan aset meningkat. Indikator ini merujuk Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah, menyebutkan struktur UMKM di bagi menjadi 4 (empat) kriteria, yaitu :

  1. Usaha Besar, merupakan usaha yang memiliki aset lebih besar dari Rp. 10 miliar Rupiah dan omset diatas Rp. 50 miliar.
  2. Usaha Menengah, merupakan usaha yang memiliki aset lebih besar dari Rp. 500 juta hingga Rp. 10 miliar dan omset diatas Rp. 2,5 miliar hingga Rp. 5 miliar
  3. Usaha Kecil , merupakan usaha yang memiliki aset lebih besar dari Rp. 50 juta hingga Rp. 500 juta dan omset diatas Rp. 300 juta hingga Rp. 2,5 miliar.
  4. Usaha Mikro, merupakan usaha yang memiliki aset maksimum Rp. 50 juta dan omset maksimum sebesar Rp. 300 juta.

Dalam upaya mengembangkan “UKM Naik Kelas”, salah satu poin yang belum menjadi perhatian Kementerian Koperasi Dan Usaha Kecil Dan Menengah  berhubungan dengan mengelola Brand yang merupakan intangible asset UMKM.

Selengkapnya, kunjungi www.indonesiaspicingtheworld.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here