Hasil Riset Ungkap Kendala UMKM Indonesia, Bikin Konten Salah Satunya

0
86
Ilustrasi pegiat UMKM. Foto: shutterstock

Jakarta – Riset MarkPlus menemukan bahwa penurunan daya beli masyarakat jadi kendala terbesar. Selain itu biaya promosi juga semakin membebani. Ini menunjukkan perlunya dukungan untuk memberikan pembelajaran soft skill terutama soal copy writing.

Hal ini diungkapkan di sela acara ‘Obsesi Ninja Xpress: Dengar Suara UKM Negeri’, Jumat (18/12/2020). Nadya dari MarkPlus mengatakan survei ini dilakukan pada 400 UMKM lewat telepon dan secara nasional.

UMKM kebanyakan memiliki pegawai 1-10 dan pendapatan kurang dari Rp 300 juta per tahun,” ucapnya.

Untuk sektor yang paling mendominasi adalah fashion dengan lebih dari 58% dari responden disusul dengan mereka yang bergerak di bidang kuliner.

Dalam survei ditemukan UMKM sudah mulai masuk online sebanyak 97% dan 3% yang masih belum masuk ke online. 4% mengirimkan lebih dari 1.000 paket per bulannya, 6% sebanyak 500 – 1.000 paket, 11% sebanyak 250 – 500 paket per bulan, sementara 79% di bawah 250 paket.

“Penurunan pendapatan seiring berkurangnya buying power, customer-nya nggak beli otomatis pendapatan berkurang. Ada juga mereka yang berjualan offline menurun karena adanya PSBB. Revenue-nya turun jadinya modal untuk diputar kembali menurun. Ini dua masalah UMKM,” jelasnya.

Dari segi marketing, biaya promosi paling menjadi kendala. Biaya bahkan menjadi lebih sering dibandingkan saat normal, sebelum COVID-19 melanda, 32% melaporkan hal tersebut. Sebanyak 31% mengeluh soal aktivitas marketing yang tidak optimal.

Selain itu, meski sudah banyak yang masuk ke online dari mereka yang disurvei, 29% mengaku kesulitan membuat konten. 24% kebingungan untuk menentukan channel marketing yang sesuai. Karenanya bisa dibilang penting sekali untuk memberikan arahan kepada para pegiat UKM mengenai cara promosi yang efisien dengan budget yang sesuai.

Sumber : Detik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here