ArtikelBeritaFeatured

Catatan Alumni Workshop Bisa Bikin Brand: Menentukan DNA Bisnis

Bulan lalu saya mengikuti workshop BISA BIKIN BRAND yg dipandu langsung oleh praktisi sekaligus pakar branding, bapak Subiakto Priosoedarsono. Dari workshop yang memakan waktu 9 jam di DiLo Telkom Malang, kesimpulan saya, setiap bisnis harus memiliki DNA yang akan menentukan ke arah mana bisnis bergerak, segmentasi, kompetitor, serta bagaimana menentukan barrier to entry yang tepat. Dari DNA bisnis yang tepat pula yang akan menentukan tepat atau tidaknya BRAND IDENTITY dan BRAND ACTIVATION yang dilakukan. Pak Subiakto menyebut langkah awal dari 4 rangkaian workshop ini sebagai BRAND STRATEGY. Saya akan coba menggambarkan bagaimana saya menentukan DNA dari warung @satehotplet yang saat ini saya kelola.

Warung Sate Hotplet yang telah dimulai oleh keluarga besar kami sejak tahun 1989 awalnya menjual menu yang sangat sederhana, Sate dan Gule Kambing. Seiring perjalanan waktu, bisnis yang terletak di Kota Wisata Batu ini berkembang menjadi warung sate kambing yang memiliki lebih dari 30 menu yang ditawarkan mulai dari sate, steak, soup, tongseng dan berbagai olahan daging kambing, sapi dan ayam. Pada awalnya pelanggan kami adalah orang dewasa saja, seiring berkembangnya warung ini, saat ini pelanggan kami 90% adalah keluarga.

Tahap pertama penentuan DNA adalah dengan kembali lagi ke awal dibentuknya perusahaan ini. Ya, SATE KAMBING adalah penarik dari pelanggan kami pada awalnya. Dengan penyajian di atas baja panas (hot plate) saat itu menjadi hal yang sangat menarik buat wisatawan yang datang ke Kota Wisata Batu.

Tahap kedua yaitu meningkatkan market category dari perusahaan ini. Kompetitor pada market Sate Kambing sangat banyak sehingga hal ini perlu di lakukan. Pada tahap ini kami meningkatkan category kami pada Warung Sate Kambing yang penyajiannya diatas baja panas. Di kategori ini kami masih memiliki kompetitor. Maka dengan meningkatkan satu level kategori lagi di Warung Sate Kambing yang memiliki menu hingga 30 macam sehingga kami memasukkan Warung Sate Hotplet di kelas Warung Sate Kambing Keluarga.

Di Jawa Timur akan sangat sulit, hingga saat ini, menemukan warung sate kambing yang mampu memenuhi keinginan keluarga. Dengan penentuan market category ini, kami membenahi setiap fasilitas untuk keluarga. Dari orang tua hingga bayi > 1 tahun. Ini pula yang menjadi barrier to entry untuk para kompetitor yang kami rasa menjadi pain point selain kolesterol dari daging kambing.

Saya kira, apabila teori ini mampu kita terapkan dalam bisnis, akan menempatkan bisnis yang kita kelola dalam pasar tersendiri yang akan sulit dikejar oleh kompetitor.

Ditulis oleh Dzulfikar pemilik Sate Hotplet Batu – Malang (Alumni Workshop Bisa Bikin Brand ke-16)

Previous post

Pria Ini Banting Setir, dari Asisten Direktur Jadi Penjual Roti Beromzet Rp 270 Juta/Bulan

Next post

Bisnis Aneka Gelang, Perempuan Ini Raup Omzet Rp 10 Juta/Bulan

Admin

Admin

No Comment

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *