Kisah Andi Taru mengembangkan Educa Studio

0
123

Banyak orang sukses meniti karier maupun mengembangkan bisnis berkat cita-cita semasa kecil maupun hobi yang dilakoni sejak belia. Namun, tidak sedikit pula orang yang sukses membangun bisnis di bidang yang sama sekali baru yang jauh dari hobi maupun cita-cita saat kecil.

Andi Taru Nugroho Nur Wismoyo adalah salah satu contohnya. Saat remaja, pendiri sekaligus Chief Executive Officer (CEO) Educa Studio ini tidak pernah membayangkan bakal menggeluti bisnis pengembangan aplikasi permainan (game application).

Maklum, Andi bukanlah pehobi game. Sejak masih kecil, pria kelahiran Tuntang, Kabupaten Semarang, ini justru lebih tertarik dengan dunia musik.

Bahkan, saat masih duduk di bangku sekolah dasar, pria kelahiran 1 April 1987 ini telah belajar memainkan gitar elektrik. Andi pun serius menekuni hobi musik dan bermain gitar bersama kelompok band bernama Pioneer. Ia sering mengikuti festival musik.

Keseriusannya membuahkan hasil. Andi berhasil menyabet gelar pemain gitar terbaik atawa best guitar sebanyak empat kali di festival tingkat daerah.

Namun, dunia musik tampaknya bukan jalan hidup Andi. Selepas menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Texmaco Semarang, putra pasangan Joko Wismono dan Nur Hidayah ini sebetulnya ingin melanjutkan sekolah di bidang musik.

Tapi, orangtua Andi melarang. Kedua orangtuanya justru meminta Andi untuk melanjutkan kuliah di jurusan teknologi informasi.

Padahal, Andi bisa dibilang tidak memahami dunia teknologi informasi pada saat itu. “Saya jarang menyentuh komputer,” tutur Andi.

Dengan sedikit terpaksa, Andi menuruti permintaan orangtuanya. Ia mengambil kuliah TI di Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga, lantaran lokasi kampus yang dekat dengan rumah.

Di awal semester, Andi masih belum benar-benar menerima perintah orangtuanya. Tak heran, nilai kuliah Andi di semester I dan semester II terbilang jelek.

Toh, Andi akhirnya menyadari, menuruti perintah orangtua akan membikin berkah dan rezeki menjadi lancar. Karena itulah, mulai akhir semester II, Andi mulai serius mempelajari bidang TI.

Ia juga mulai meninggalkan dunia musik. Kelompok band Pioneer pun bubar. Sejak itulah, Andi fokus menggeluti dunia teknologi informasi. Hasilnya, ia berhasil lulus dengan nilai memuaskan.

Tanpa modal

Tidak cuma sampai di situ. Kuliah jurusan TI yang awalnya merupakan permintaan orangtua ternyata menjadi titik balik hidup Andi.

Dari sinilah, jalan Andi menuju dunia bisnis pengembangan game terbuka. Selepas lulus kuliah, Andi awalnya bergabung dengan start-up Golden T Studio yang saat itu tengah mengembangkan game engine GTGE yang banyak dipakai oleh pengembang game dengan bahasa pemrograman Java.

Namun, Andi tak menemukan gairah saat bekerja di situ. Tak berapa lama, ia pun mengundurkan diri.

Dibanding membikin program untuk kalangan umum, Andi ingin mengembangkan game yang bermanfaat bagi masyarakat. Ia ingin masyarakat, khususnya anak-anak, bisa menikmati konten pendidikan dari game.

Maklum, Andi memang memiliki gairah di bidang pendidikan. Saat masih kuliah, ia sering ikut mengajar sebagai asisten dosen.

Dari situlah, Andi kembali teringat pada game yang pernah ia bikin saat kuliah bersama sahabatnya, yang juga bernama Andi. Saat itu, tahun 2008, Andi bersama teman kuliahnya membikin game bertajuk Marbel dan Shoot Empire.

Game bikinan Andi saat kuliah itu berhasil memenangkan kontes game Game Development Contest Best AI. Tapi, game ini tidak ditujukan untuk komersial.

Ia membikin program permainan tersebut cuma karena doyan. “Saat itu enggak berpikir game yang bagus seperti apa, yang penting bikin lalu unggah,” kata dia.

Berbekal hasrat mengajar dan pengalaman membikin game saat kuliah, Andi akhirnya memutuskan membangun Educa Studio pada 1 April 2011. Bersama sang istri, Idawati, yang kebetulan juga lulusan TI, Andi meluncurkan game Marbel, yang merupakan singkatan dari Mari Belajar Sambil Bermain.

Saat itu, Andi merilis game tersebut secara gratis. Aplikasi permainan tersebut terbilang sederhana dan ditujukan bagi pengguna komputer.

Saat itu, banyak pengguna komputer yang meminta untuk mengunduh. Tidak sedikit pula pengguna yang memberi masukan. “Dalam sepekan, game tersebut diunduh 4.000 kali,” kata Andi.

Modal membangun Educa Studio bisa dikatakan hampir nol. Maklum, Andi dan sang istri hanya membutuhkan perangkat komputer dan perangkat internet yang kebetulan sudah mereka miliki sejak kuliah. Mereka pun bekerja di rumah karena tak memiliki kantor.

Meski terbilang cukup laris, game perdana besutan Educa Studio belum mendatangkan pendapatan lantaran disebarluaskan secara gratis. Otomatis, Andi dan istri pun tak memiliki penghasilan dari bisnis tersebut.

Tak pelak, Andi dan istri seringkali dianggap sebagai pengangguran lantaran tak memiliki penghasilan dan hanya bekerja di rumah. Toh, Andi tak patah arang.

Respons pengguna yang cukup positif memperkuat keyakinan Andi untuk menjalankan bisnis Educa Studio. Ia yakin, bisnis pengembangan game edukasi merupakan jalan hidupnya.

Kebetulan, pada tahun 2012, booming Android mulai masuk ke Indonesia. Saat itu, Andi melihat peluang untuk mengembangkan game edukasi menggunakan platform Android.

Di luar negeri, game edukasi berbasis Android dengan kualitas bagus saat itu sudah cukup marak. Namun, belum ada pengembang game di Indonesia yang membikin game edukasi dengan platform Android.

Karena itulah, Andi memilih menghentikan pengembangan game untuk personal computer (PC). Andi memutuskan untuk mulai belajar hal baru, yakni game untuk perangkat mobile.

“Insting saya tepat, tren saat itu memang mengarah ke aplikasi mobil, terutama untuk game edukasi,” ujar Andi.

Terus inovasi

Tahun 2012 merupakan titik balik sejarah Educa Studio. Educa Studio yang awalnya mengembangkan game untuk platform PC bermigrasi ke pengembangan game untuk platform mobile phone.

Pada saat itu pula, Andi mengajak dua orang temannya untuk bergabung dan membikin game yang lebih serius dan lebih bagus.

Di tahun 2013, Andi makin serius menjalankan bisnisnya. Enggak tanggung-tanggung, Andi menargetkan membikin 100 game edukasi seri Marbel sepanjang 2013. Target ini tercapai dalam waktu satu tahun.

Tentu, banyak hal yang harus Andi dan istri korbankan untuk meraih target tadi. Andi dan istri harus kerja lembur. Saban hari, mereka berdua harus bekerja hingga 14 jam–16 jam.

Bukan tanpa alasan Andi membikin 100 judul game edukasi dalam waktu satu tahun di masa-masa awal Educa Studio. Lantaran berasal dari daerah, Andi bilang, tidak ada orang yang mengenal nama Educa Studio.

Saat itu, media juga tidak mengenal Educa Studio maupun produknya, Marbel. Untuk mengatasi kendala tersebut, Andi membikin 100 seri Marbel dalam setahun.

Setelah itu, ia mengikutkan game bikinannya ke berbagai kompetisi game. Berkat riset yang serius dan mendalam selama proses pengembangan, game bikinan Educa Studio berhasil menjuarai beberapa kompetisi.

Salah satunya juara pertama kompetisi Rock Star Developer Intel & TeknoJurnal pada tahun 2013. Penghargaan lainnya adalah juara pertama Game Contest Polban Bandung pada tahun yang sama.

Lewat berbagai kemenangan di beberapa kompetisi itu, media mulai mengenal Educa Studio. Begitu pula, masyarakat mulai mengenal game Marbel. Tujuan Andi memperkenalkan produk Marbel lewat kompetisi pun tercapai.

Upaya Andi mulai membuahkan hasil. Pada tahun 2014, jumlah pengguna game Marbel meningkat pesat.

Respons masyarakat juga semakin bagus. Pada tahun ini pula, Educa Studio mulai menghasilkan pendapatan yang stabil.

Padahal, sepanjang tiga tahun sebelumnya, pendapatan Educa Studio bisa dikatakan seadanya. “Saya beruntung menemukan teman-teman yang mau diajak susah,” ujar Andi.

Upaya memperoleh pendapatan stabil tentu enggak mudah. Selain kerja keras, Andi juga harus mengucurkan invetasi untuk menambah karyawan maupun peralatan yang mumpuni.

Ia pun memberanikan diri meminjam sertifikat rumah orangtuanya untuk dijadikan jaminan utang ke bank. Saat itu, Andi mengatakan, mengajukan pinjaman ke sebuah bank BUMN sebesar Rp 600 juta.

Namun, bank hanya menyetujui pinjaman sebesar Rp 300 juta. Setelah dipotong biaya administrasi dan lain sebagainya, Andi mendapatkan dana segar Rp 200 juta. “Alhamdulilah, utang lunas pada tahun 2015,” kata Andi.

Seiring pendapatan yang stabil dan meningkat, Andi tak hanya mampu melunasi utang. Pada tahun 2015, Andi berhasil membangun kantor Educa Studio.

Tempat kerja yang semula hanya di rumah berpindah ke kantor baru. Andi juga mengganti berbagai peralatan yang ada. Seluruh dana pembiayaan itu bersumber dari pendapatan yang Andi tabung saban bulan.

Selain membangun kantor, Andi juga menciptakan berbagai inovasi. Selain game Marbel, Andi meluncurkan berbagai aplikasi edukasi lain, seperti aplikasi cerita anak bertajuk Riri, aplikasi buku islami bertajuk Kabi, serta aplikasi Kolak alias koleksi lagu anak.

“Inovasi dibutuhkan karena semakin banyak kompetitor,” ujar Andi.

Hingga saat ini, Andi bersama Educa Studio telah menelurkan sekitar 250 produk aplikasi edukasi. Aplikasi edukasi bikinan Educa Studio telah diunduh lebih dari 20 juta kali.

Jumlah karyawan juga telah bertambah. Dari semula hanya dua orang, karyawan Educa Studio kini sebanyak 10 orang.

Dalam setahun, Andi bersama Educa Studio kini bisa meraup pendapatan miliaran rupiah. Pendapatan Educa Studio bersumber dari iklan Google Advertising Mobile (Admob).

Saat aplikasi Educa Studio dijalankan oleh pengguna, iklan akan muncul. Educa Studio akan memperoleh pendapatan saat pengguna melihat iklan tersebut atau meng-klik iklan yang muncul di aplikasi.

Andi bilang, pendapatan iklan per klik agak sulit bagi game edukasi. Lain halnya dengan game umum.

Itu sebabnya, pendapatan Educa Studio lebih banyak berasal dari iklan per view. Untuk 1.000 view, Educa Studio akan memperoleh pendapatan US$ 0,1–US$ 0,5.

Meski pendapatan stabil dan makin besar, bukan berarti Andi berpuas diri. Agar bisnis makin berkembang, Andi tetap fokus untuk melakukan maintenance produk yang sudah ada.

Selain itu, Andi juga terus melakukan inovasi ke berbagai hal baru. Tahun ini, Andi mulai mencoba membikin produk dengan kualitas high definition (HD).

Ia pun mulai mengimplementasikan teknologi baru. Upaya ini dilakukan agar tetap menjadi yang terdepan dibanding kompetitornya. Saat ini, Andi juga tengah mengadakan riset untuk membuat game virtual reality.

Dengan keuntungan yang terus meningkat, ia berharap bisa menabung untuk memenuhi biaya investasi riset dan teknologi. “Kami tidak ingin menjadi bubble, valuasi tinggi tapi tidak ada profit,” ujar Andi.

Meski begitu, laba sejatinya merupakan urusan ke sekian. Bagi Andi, ada tiga hal yang memberikan kepuasan dari bisnis Educa Studio.

Pertama, saat produknya digunakan masyarakat.

Kedua, saat produknya benar-benar memberi manfaat bagi orang lain.

Ketiga, saat orang lain memberi apresiasi. “Itu hal yang tidak bisa digantikan oleh apa pun,” ujar Andi.

Nah, tidak ada salahnya Anda mengikuti jejak laki-laki berusia 29 tahun tersebut.

Sumber: kontan.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here