Daun Jati Dulu Bikin Masalah Sekarang Manfaatnya Banyak

0
111

BOGOR – Pohon jati merupakan komoditas terbesar di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Karakteristik pohon jati yang menggugurkan daunnya setiap musim kemarau menimbulkan masalah bagi masyarakat sekitar.

Guguran dedaunan kering ini menjadi sampah dan belum termanfaatkan secara baik.

Limbah daun jati kering berwarna coklat mengandung karbon terikat, air, abu, volatile, flavanoid, protein, asam fenolat atau tanin dan serat kasar yang diselimuti lignin.

Berdasarkan komposisi kimia daun jati ini mahasiswa Departemen Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor (FMIPA IPB), Supriyanto melakukan inovasi pemanfaatan potensi daun jati menjadi beberapa produk yang lebih bermanfaat.

Setidaknya ada lima produk olahan limbah daun jati yang dapat dihasilkan diantaranya: arang, arang aktif, asap cair, briket dan biopelet. Arang daun jati dapat digunakan sebagai penambah kesuburan lahan.

Arang aktif daun jati termasuk material baru. Umumnya arang aktif berasal dari material yang cenderung keras.

Arang aktif daun jati berguna untuk menyerap limbah polutan, agar tanah pertanian tidak cepat rusak dan meningkatkan kualitas lahan.

Asap cair dapat digunakan untuk pestisida yang ramah lingkungan dan pengganti formalin. Briket dan biopelet dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif.

Alat yang digunakan dalam proses pembuatan arang aktif terdiri dari dua tong besar.

Tong ini untuk membakar daun jati kering menjadi arang aktif.

“Agar asap pembakaran dapat dimanfaatkan, sebuah bambu besar dibuat sedemikian rupa sehingga dapat mengubah asap pembakaran menjadi asap cair,”kata Supriyanto.

Saat ini sudah 50 orang lebih yang tergabung dalam kelompok tani di Blora mengikuti program ini. Supriyanto mengungkapkan, selama ini produk yang dihasilkan masih sebatas untuk memenuhi kebutuhan sendiri, namun ke depannya akan dipasarkan.

Kemitraan antara Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) IPB dan Departemen Fisika- FMIPA IPB dengan Dinas Kehutanan Blora sedang dibangun untuk mempermudah proses pengembangan lebih lanjut.

Supriyanto dan tim berniat mengembangkan badan usaha legal dan desa percontohan di Blora.

“Harus ada upaya nyata yang dilakukan untuk mengoptimalkan limbah daun jati yang sangat melimpah dalam skala Unit Kecil dan Menengah (UKM). Hal ini berkontribusi dalam menumbuhkan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) agroindustri yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat berkelanjutan di Indonesia,” pungkasnya.

Sumber: Poskotanews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here