Kisah Imam, Jualan Kopi Luwak via Online Hingga ke Negeri Paman Sam

0
88
(Foto: Detik)

Banyuwangi – Desa Telemung, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi merupakan salah satu sentra kopi rakyat. Salah satu petani yang mengolah kopinya dan dipasarkan melalui media sosial adalah Imam Mukhlisin (26).

“Jualan kopi sejak Agustus 2012. Sedari awal memang sudah jualan kopi dan spesialnya kopi luwak,” terang Imam saat ditemui di rumahnya Dusun Krajan RT 02/02, Desa Telemung, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, Rabu (10/8/2016).

Imam menjual kopi beraneka jenis dari arabica, robusta dan excelsa dengan nama Kimmy Omah Kopi. Nama Kimmy diambil dari binatang luwak Lombok peliharaannya yang berwarna hitam.

“Nama Kimmy ini karena isteri suka film Korea dan ada salah satu tokoh yang menggunakan nama itu. Kimmy ini jadi favorit turis asing yang datang kemari,” terangnya.

Imam menerangkan Kimmy tidak mengkonsumsi biji kopi melainkan makanan khusus kucing. Dia mengaku untuk bahan kopi luwak didapat dari warga yang menyetorkan kopi luwak basah. Binatang luwak memang masih jamak dijumpai di wilayahnya.

Luwak penghasil biji kopi (Foto: Detik)
Luwak penghasil biji kopi (Foto: Detik)

“Di sini kopi luwaknya berasal dari luwak liar bukan penangkaran. Ada juga yang dapat setoran dari warga dengan berat sekitar 5-10 kg,” katanya.

Imam membeli kopi luwak basah dari warga seharga Rp 40.000- Rp 50.000/kg. “Dari bobot timbangan dikurangi satu kilo karena masih banyak kotorannya dan basah. Nanti ketika diproses pun beratnya juga masih akan menyusut lagi,” kata pria asal Sumenep ini.

Suami dari Ida Rosika (26) ini menjual kopi luwak mulai dari Rp 75.000-Rp 200.000u/ons. Dia juga menjual kopi lanang dengan harga Rp 15.000/ons.

“Pemasaran lewat online, pusat oleh-oleh ada, cafe juga sudah ada. Paling favorit di sini kopi lanang kalau luwak itu peminatnya turis,” bebernya.

Imam sengaja menjual kopi luwak produksinya melalui media sosial dan toko online. Pesanan pun tak hanya datang dari nusantara, dia pernah melayani permintaan 10 kg kopi untuk dikirim ke Amerika.

“Dia itu temen Kimmy di Facebook, awalnya chating, suka dan tanya soal Kimmy lalu datang kesini langsung. Setelah pulang dia menghubungi dan minta dikirim kopi 10 kg ke Amerika,” bebernya.

Berbicara soal omzet Imam mengaku belum mendapat penghasilan yang menentu. “Omzet kita enggak menentu paling sedikit tiap minggu Rp 400.000-Rp 500.000,” bebernya.

Buka homestay

Bersama keluarganya, Imam tak hanya berbisnis kopi. Dia juga membuka rumah singgah (homestay) di rumahnya yang dikelilingi dengan kebun kopi seluas 2 hektare.

“Tahun 2015 buka homestay karena permintaan tamu soalnya banyak turis yang penasaran dengan jenis kopi Luwak. Kebetulan Telemung juga dekat dengan Ijen,” bebernya.

Homestay (Foto: Detik)
Homestay (Foto: Detik)

Imam dan keluarganya baru menyediakan satu kamar di rumahnya. Meski begitu karena dipasarkan melalui media sosial sudah banyak turis asing yang menjadi tamunya.

“Kalau ada tamu rombongan lebih dari 2 orang sering ditolak sama kita, kadang ada rombongan itu 6-25 orang itu ditolak. Paling banyak Asia dan dari Eropa tiga kali,” bebernya.

“Rata-rata turis penasaran sama Kimmy, karena di sana kan enggak ada luwak. Nah kalau turis Jerman itu dua kali rombongan datang yang ditanyain malah Kimmy,” imbuhnya.

Paket wisata

Tak hanya itu Imam juga menawarkan paket wisata ‘field trip’ berkeliling desanya. Dia juga mempromosikan kopinya mulai dari menggiling biji kopi sampai menyeduh kopi.

“Kopi pertama gratis, kalau mau tambah atau praktek Rp 50 ribu/ orang. Kalau mau jalan-jalan ke kebun-kebun di rumah warga dan pengenalan tanaman Rp 50 ribu/orang. Malah kemarin ada orang Jerman yang praktik naik pohon kelapa,” tuturnya.

Untuk promosi Imam menggandeng agen wisata dari Malang, Banyuwangi dan Bali. Dia menyebut musim ramai kedatangan turis pada Juli- Desember.

Perkebunan Kopi (Foto: Detik)
Perkebunan Kopi (Foto: Detik)

Kimmy Omah Kopi pun diapresiasi dan akan dijadikan proyek percontohan untuk mengembangkan Industri Kecil Menengah (IKM) di desa Telemung. Kepala Bidang Industri Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Pertambangan I Komang Dedi menjelaskan nantinya produk Kimmy Omah Kopi akan diintegrasikan dengan pengembangan pariwisata di daerahnya.

“Sebenarnya dia jadi pilot project kita karena dia mampu selain memproduksi kopi luwaknya, dia bermain homestay dan memasarkan lewat IT. Ada tamu dari Australia, Swiss yang masuk kesana,” bebernya.

“Nanti ada pariwisatanya juga, jadi semua SKPD tumplek blek di sana bagaimana sesuai dengan tupoksinya masing-masing menata pilot project bisa dikemas bagus,” imbuhnya.

Komang pun mendorong produk Kimmy Kopi Luwak bisa dipasarkan ke Banyuwangimall.com. Pihaknya akan terus memfasilitasi agar produk kopi itu layak dipasarkan secara luas sebagai produk khas Banyuwangi.

“Kita fasilitasi karena dari segi kemasan kurang kita kasih masukan-masukan. Sudah ada komunikasi dengan kita juga untuk izin-izinnya sehingga layak dipasarkan umum,” bebernya.

Komang menyebut Disperindagtam Banyuwangi terus memberikan pelatihan yang dibutuhkan IKM untuk penguatan daya saing produk. Dia juga memengapresiasi kreatifitas Imam mengolah potensi di daerahnya menjadi paket wisata.

“Dari proses kesana proses sendiri, giling kopinya pakai tangan (manual) bagus. Tempatnya juga bagus, kita nggak nyangka tempatnya di desa begitu dia bisa menata. Anak muda desanya kreatif, kita salut,” katanya.

Sumber: Detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here