Februari, Ekspor Jatim Naik 41,75%

0
198

SURABAYA – Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur (Jatim) mencatat, selama Februari, nilai ekspor Jatim mencapai USD1,86 miliar atau naik 41,75 persen dibanding Januari sebesar USD1,31 miliar.

Kenaikan ini dipicu kenaikan angka ekspor minyak dan gas (migas), ditambah sejumlah komoditas nonmigas, termasuk perhiasan dan permata yang mengalami kenaikan dengan nilai USD753,19 juta. Kepala BPS Jatim Teguh Pramono mengatakan, secara kumulatif nilai ekspor Januari- Februari mencapai USD3,17 miliar atau turun 3,10 persen dibanding ekspor periode yang sama tahun 2015 yang mencapai USD3,27 miliar.

Ekspor migas pada Februari sebesar USD66,61 juta atau naik 102,89 persen dibanding Januari yang mencapai USD32,83 juta. Sementara ekspor nonmigas selama Februari sebesar USD1,79 miliar atau naik 40,18 persen dibanding Januari yang mencapai USD1,28 miliar. “Ekspor nonmigas di antaranya perhiasan atau emas, diikuti lemak dan minyak hewan/nabati, kemudian kayu dan barang dari kayu, ikan, dan udang,” katanya.

BPS juga mencatat, komoditas utama kelompok barang dan perhiasan adalah perhiasan logam mulia lainnya senilai USD668,24 juta atau naik 251,67 persen dibanding bulan sebelumnya. Sedangkan, pada kelompok lemak dan minyak nabati, komoditas utamanya adalah minyak kelapa sawit dan fraksinya dimurnikan maupun tidak, tetapi tidak dimodifikasi secara kimia lainnya adalah sebesar USD44,66 juta, naik 49,46 persen dari bulan sebelumnya.

Kelompok kayu dan barang dari kayu komoditi utamanya adalah kayu termasuk strip dan frieze dari non-konifer untuk lantai papan senilai USD34,07 juta atau naik 18,88 persen dibanding pada Januari. Negara tujuan ekspor produk nonmigas terbesar adalah Swiss dengan nilai USD405,85 juta, diikuti Jepang USD223,03 juta, berikutnya Singapura senilai USD198,93 juta.

Sedangkan untuk negara ASEAN, ekspor Jatim tertinggi adalah ke Singapura dengan nilai ekspor mencapai USD198,93 juta, diikuti Malaysia USD65,49 juta, dan Thailand USD31,46 juta. Sementara untuk negara Uni Eropa tujuan utama ekspor adalah Belanda senilai USD28,84 juta, turun 16,59 persen dibanding bulan sebelumnya, Jerman 21,25 juta, dan Inggris USD15,47 juta.

Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekdaprov Jatim Hadi Prasetyo berharap para pelaku usaha, terutama yang masuk kategori usaha kecil menengah (UKM) di Jatim makin meningkatkan kualitas produknya. Namun, yang paling mendasar adalah terkait kemampuan untuk memenuhi permintaan pasar.

Terkadang permintaan akan produk ekspor cukup tinggi. Di sisi lain, pelaku usaha dalam negeri tidak mampu memenuhi permintaan tersebut. “Selain itu, kita jangan hanya berpikir ekspor. Investasi maupun wisatawan asing juga harus dipikirkan bagaimana caranya bisa terus naik. Makanya, kami tengah menyiapkan konsep komunikasi yang tepat dengan luar negeri,” katanya.

Sumber: Okezone.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here