Tour de Flores Andalkan Sport Tourism Dongkrak Wisatawan

0
79
Tour de Flores 2016 (tourdeflores.id)

Jakarta – Kegiatan olahraga internasional perlu banyak digelar untuk mendorong pengembangan dunia pariwisata di Tanah Air. Melalui kegiatan seperti itu, target kedatangan 12 juta wisatawan mancanegara pada 2016 dengan pendapatan devisa sebesar Rp 172 triliun bukan perkara sulit untuk dicapai.

Seluruh kementerian terkait harus bersinergi untuk mewujudkan itu, seperti pada pagelaran balap sepeda internasional Tour de Flores (TdF), 16-26 Mei 2016, yang didukung penuh oleh delapan kementerian.

Ekonom Indef Enny Sri Hartati mengatakan, acara seperti TdF maupun ajang olahraga lain yang dibalut wisata merupakan kegiatan yang pasti akanmemberikan dampak positif bagi perekonomian. Untuk bisa memaksimalkannya, sinergitas seluruh kementerian dan lembaga negara di perlukan, seperti Kementerian Pemuda dan Olahraga serta Kementerian Pariwisata, sehingga ajang itu bisa berfungsi sebagai promosi destinasi pariwisata.

“Dampaknya tidak hanya ke kegiatannya, tapi Flores akan terkenal, karena ternyata mempunyai destinasi wisata yang sangat menarik. Apalagi jika disinergikan lagi ke Kementerian UKM dan disambungkan dengan ekonomi kreatif, maka akan memberikan multiplier effect yang luas,” ujar Enny kepada SP di Jakarta, Sabtu (27/2).

Dia mengingatkan, yang harus menjadi perhatian pemerintah dan pihak panitia adalah persoalan infrastruktur pendukung.

“Bagaimana peserta dan wisatawan bisa mendapatkan kemudahan dari ketersediaan fasilitas penunjang. Karena, ini akan diceritakan para wisatawan ketika mereka pulang nanti,” ujarnya.

Hal senada dikatakan ekonom dari Universitas Indonesia (UI) Berly Martawardaya. Dia menilai positif kegiatan olahraga internasional, seperti Tour de Flores 2016. Menurutnya, ajang seperti itu bisa masuk agenda internasional, di mana wisatawan bisa memesan tiket jauh-jauh hari untuk menonton atau ikut sebagai peserta.

“Bagus (Tour de Flores, Red). Turis mancanegara waktunya sempit. Jadi, mereka ingin datang pas ada acara, seperti karnaval di Venice atau Rio de Janeiro. Acara Tour de Flores bisa seperti itu,” ucapnya.

Dia menambahkan, ajang olahraga berskala internasional akan mendongkrak perekonomian di negara tuan rumah. Kegiatan seperti itu juga diselenggarakan oleh negara yang perekonomiannya sedang baik. Seperti, Olimpiade Beijing di Tiongkok pada 2000, yang digelar setelah pertumbuhan ekonomi Tiongkok 9% hingga 10% beberapa tahun sebelumnya.

“Potensi multiplier effect dari ajang olahraga ada asal project design, bidding, dan pengerjaannya benar. Namun, pengerjaannya juga harus diawasi KPK dan BPK supaya tidak menjadi lahan korupsi,” katanya.

Seperti diketahui, saat ini pemerintah memang tengah menggenjot sektor pariwisata untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional. Ada beberapa varian pariwisata yang menjadi sasaran pemerintah untuk dikembangkan, yakni eco tourism yang mengandalkan kekayaan alam, religious tourism yang mengandalkan tempat-tempat keagamaan di Tanah Air, serta sport tourism berupa kegiatan-kegiatan olahraga berskala internasional.

Untuk itu, pemerintah telah menetapkan 10 destinasi wisata prioritas.

Salah satu destinasi prioritas itu, Candi Borobudur (Jawa Tengah), misalnya, merupakan bentuk religious tourism. Saat ini ada lebih dari 300 juta umat Buddha di dunia. Jika 10% dari seluruh umat Buddha itu berkunjung ke Borobudur setiap tahun, tentu akan menjadi keuntungan yang besar bagi Indonesia.

Tulang Punggung Asisten Deputi Pengembangan Komunikasi Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata, Noviendi Makalam mengatakan, sport tourism merupakan salah satu produk tulang punggung wisata Indonesia untuk menggaet wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Maka, saat ini banyak sekali agenda sport tourism yang kami dorong dan promosikan, seperti Tour de Singkarak, Musi Triboathon, dan Tour de Flores,” ujarnya kepada SP di Jakarta, Sabtu (27/2).

Menurut Noviensi, sport tourism adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan olahraga itu sendiri. Pariwisata pun dapat mengisi agenda olahraga, baik sebelum, saat berlangsung, maupun akhir kegiatan olahraga tersebut.

“Kami memberikan opsi orang untuk bisa berwisata saat dia mengikuti pertandingan atau sebelum maupun sesudah pertandingan. Itu potensi besar sekali. Selain itu, dampak penyelenggaraan agenda olahraga juga bisa mempromosikan tempat tersebut sebagai destinasi wisata,” lanjutnya.

Noviendi mengatakan bahwa, Kementerian Pariwisata juga memberikan pelatihan kepada masyarakat di tempat penyelenggaraan acara agar dapat menjadi tuan rumah yang baik bagi para peserta kegiatan olahraga maupun wisatawan.

“Kami memberikan pelatihan berupa pengetahuan dasar mengenai potensi wisata serta fasilitas wisata. Itu selalu kami lakukan setiap ada acara besar,” ujarnya.

Sementara itu tokoh nasional asal Flores, NTT, Melchias Marcus Mekeng menyambut baik rencana kegiatan TdF 2016 yang akan digelar Mei mendatang. Kegiatan itu sangat bagus untuk menarik dan meningkatkan jumlah wisatawan datang ke Flores.

“Kegiatan itu sangat bagus, karena mempromosikan Flores khususnya dan NTT pada umumnya. Ada banyak kekayaan dan keindahan di Flores maupun NTT. Ada banyak objek wisata di sana. Flores memiliki banyak budaya dan suku yang unik-unik. Dengan kegiatan tersebut, orang luar bisa mengetahui itu semua,” kata Mekeng kepada SP di Jakarta, Sabtu (27/2).

Dijelaskan, berbagai keunikan dan keindahan tersebut selama ini tidak terpublikasikan dengan baik. Flores dan NTT jauh dari pantauan hiruk-pikuk pariwisata nasional dan internasional, padahal banyak objek wisata yang bisa dijual.

Dengan kegiatan TdF diharapkan semua potensi wisata yang ada bisa tergarap serius. Namun, Mekeng yang saat ini menjadi anggota DPR mengingatkan, jika ingin TdF berhasil harus melibatkan pihak profesional dalam pelaksanaannya. Panitia kegiatan hanya sebatas fasilitasi, bukan pelaksana.

Pelaksana harus diserahkan kepada orang-orang profesional yang sehari-hari bergerak dalam kegiatan pariwisata dan kegiatan event organizer (EO).

Menurut pengamat olahraga Rayana Djakasurya mengatakan, kegiatan olahraga internasional yang banyak digelar di Indonesia seharusnya dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh pemerintah pusat dan daerah. Berbagai kegiatan olahraga berskala internasional itu akan menggenjot pariwisata di Tanah Air. Dikatakan, pemerintah daerah harus memanfaatkan kegiatan seperti itu untuk mendatangkan wisatawan, terutama dari luar negeri, ke lokasi-lokasi wisata yang ada di daerah masing-masing.

Dampak kegiatan seperti itu cukup besar bagi negara, seperti perekonomian di daerah dapat bertumbuh dan secara otomatis akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

“Dalam waktu dekat ini ada beberapa kegiatan olahraga yang bersifat internasional digelar di Indonesia, antara lain Tour de Flores 2016, TAFISA World Games 2016, dan Asian Games 2018. Multi event itu harus dimanfaatkan, banyak atlet dan keluarga dari berbagai negara datang ke Indonesia. Selain bertanding, mereka pasti juga ingin mengenal pariwisata setempat sekaligus menikmatinya,” katanya.

Dikatakan, pemerintah pusat dan pemerintah daerah bisa bekerja sama dengan EO internasional dengan memanfaatkan momentum untuk menarik wisatawan ke daerah masing-masing.

Faktor alam, kuliner, dan wisata buatan bisa menjadi andalan untuk diperkenalkan para olahragawan beserta staf dan keluarganya saat pulang ke negara masing-masing. Rayana mengatakan, selama ini kegiatan olahraga di Tanah Air memang kurang dimanfaatkan oleh pemerintah pusat maupun daerah sebagai ajang untuk mempromosikan wisata, bahkan cenderung dipandang sebelah mata.

“Pariwisata dapat memengaruhi olahraga, begitu pun sebaliknya. Misalnya olahraga voli pantai dan balap sepeda yang dapat dimanfaatkan untuk melihat keindahan alam Indonesia. Dengan begitu, olahraga berjalan, pariwisata kita juga dikenal. Sebenarnya pariwisata setempat di lokasi digelarnya kegiatan olahraga itu menjadi daya tarik sendiri,” ujarnya.

Sumber: Suara Pembaruan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here