Leo Zahar Menggapai Sukses Bersama Tim Solid

0
76
Leo Zahar

JAKARTA – Memiliki bisnis yang tangguh, cepat, tepat, tetapi tetap nyaman merupakan harapan setiap pengusaha. Harapan baik yang terselip dalam setiap doa saat membangun usaha ini ternyata dijadikan pilihan nama perusahaan.

Kata Nozomi, yang dalam bahasa Jepang berarti harapan, dipilih sosok Leo Zahar saat memutuskan untuk fokus mengembangkan bisnis sebagai produsen sepeda motor roda tiga di Tanah Air.

Di bawah bendera PT Nozomi Otomotif Indonesia yang didirikan pada Maret 2003, Leo fokus membidik para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM). Berbekal pengamatan saat berkunjung ke China, Leo mengatakan banyak pedagang di sana yang menggunakan sepeda motor roda tiga untuk mengangkut barang dagangannya.

“Jika mereka membeli colt atau truk kecil, investasinya terlalu mahal. Di China mereka menggunakan sepeda motor roda tiga, di bagian belakang terdapat bak dengan bentuk dan kapasitas yang biasa disesuaikan dengan kebutuhan,” ujarnya.

Pengamatannya yang tajam dengan kondisi di China itu kemudian dia terapkan di Indonesia. Ceruk pasar sepeda motor roda tiga yang masih kecil, di manfaatkan dengan semaksimal mungkin.

Upayanya untuk fokus di bisnis sepeda motor roda tiga bermula dengan bekal pengalaman terjun di dunia industri elektronik pada 1990-an. Waktu itu, Leo terampil merancang dan merakit barang elektronik seperti televisi dan radio. Merasa cukup mendapatkan bekal di bidang elektronik, akhirnya Leo mulai melirik dunia otomotif.

Pada 2003, dia mendirikan PT Nozomi Otomotif Indonesia yang awalnya fokus menjadi produsen motor roda dua. Usaha yang dirintisnya ini menuai hasil dengan dibuktikan jaringan penjualan yang tersebar mulai dari Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Kalimantan, hingga Sulawesi.

Pada perkembangannya, Leo tidak hanya memproduksi sepeda motor roda dua saja, tetapi juga merambah ke alat berat yakni traktor. Penelitian dan pengembangan produk 4WD multiple tractor dimulai sejak September 2009, dan berhasil diluncurkan secara massal pada Januari 2011.

Di tengah persaingan kendaraan roda dua yang cukup ketat dengan buatan Jepang, Leo lantas berpikir untuk mengubah lini bisnisnya. “Akhirnya saya mendapatkan ide setelah mengamati perkembangan sepeda motor roda tiga di China. Memang teknologinya China tetapi kualitasnya tetap Jepang. Banyak yang tidak sadar dengan hal tersebut. Januari 2012 kami mulai merakit sepeda motor roda tiga,” ujarnya.

Motor roda tiga hasil karya Leo ternyata penuh kreativitas. Sepeda motor ini dirancang dengan berbagai fungsi dan keperluan. Tidak hanya puas mengembangkan sepeda motor roda tiga yang dipakai untuk mengangkut sampah dengan teknologi hidrolik, tetapi juga memuat pendingin untuk mengangkut ikan beku, yang memudahkan nelayan untuk mengangkut ke tempat pelelangan ikan.

Kreativitas Leo terlihat dengan keahliannya menyulap sepeda motor roda tiga biasa, yang kemudian dilengkapi dengan kios bakmi di bak belakang, atau menjadikan sepeda motor roda tiga dengan bak roti keliling.

“Saya melihat sendiri bahwa ada penjual roti yang biasanya buka di kantin sekolah. Dia mengajukan pinjaman untuk membeli sepeda motor roda tiga dengan bak roti keliling. Dia kemudian mengubah pola penjualan. Setelah sekolah selesai, dia menutup kantinnya, kemudian dia berkeliling dengan jarak tempuh yang lebih jauh untuk memasarkan rotinya. Omzetnya meningkat, karena pendapatannya tidak hanya berhenti pada kantin sekolah,” katanya.

PRINSIP MANAJEMEN

Kejelian dalam mengamati, dan kepandaian membaca peluang pasar di Indonesia membuat Leo semakin mengibarkan bendera Nozomi. Semua keberhasilan yang dicapainya selama ini ternyata tidak lepas dari dukungan manajemen yang kuat. “Semua tidak dapat dilepaskan dari tim yang solid,” tegasnya.

Dia menyadari bahwa manajemen yang bagus dan tim yang solid merupakan aset dan salah satu kunci keberhasilan perusahaan. Kesadaran ini membuatnya terus memperbaiki sistem manajemennya. Salah satunya dengan membentuk tim inti yang beranggotakan pemimpin setiap divisi usaha.

“Saya lebih banyak mendelegasikan kepada tim ini. Kepercayaan ini juga sebagai upaya saya untuk memberikan kesempatan mereka untuk belajar mandiri, dan membuat keputusan sendiri,” ujarnya.

Semangat dan kerja keras ini diturunkan Leo kepada putrinya, Cindy Leo. Saat ini, Cindy yang berLatar belakang pendidikan Bachelor of Engineering in Mechanical & Manufacturing Engineering, University of New South Wales, Australia, dan Master of Science in Finance dari Simon Graduate School of Business University of Rochester, Amerika Serikat, menjabat posisi sebagai Direktur PT Nozomi Otomotif Indonesia.

Menurutnya, selain bantuan keluarga dan tim, keberhasilan yang digenggamnya selama ini juga tidak luput dari upayanya untuk terus maju dan terus optimistis menghadapi tantangan bisnis.

“Saya tidak ingin bilang perusahaan bertahan, tetapi perusahaan harus maju meski kondisi ekonomi lesu. Tetap harus optimistis karena saya melihat bahwa UKM di Indonesia juga produktif,” tegasnya.

Berpikir dan bertindak optimistis membuatnya tidak ragu dalam berbisnis. Saat ini, lini usaha Leo ini bahkan berhasil meluaskan pabrik dari sebelumnya di Cikupa, ke Subang, Jawa Barat dengan kapasitas lebih besar dari pabrik sebelumnya, yakni 100 unit per hari.

Tingginya kapasitas ini membuatnya mampu mewujudkan kreativitas dalam membuat varian motor roda tiga. Saat ini, terdapat 20 jenis motor roda tiga Nozomi.

“Salah satu yang membuat motor China dulu rontok adalah banyak perusahaan yang tidak menjaga purna jual dan suku cadang. Kami melihat hal itu sebagai tantangan, dan berupaya untuk memuaskan pelanggan dengan memberikan purna jual yan bagus, berikut suku cadangannya. Kemajuan UKM juga sangat penting bagi kami,” katanya.

Sumber: Bisnis.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here