“The Power of Kepepet”, dari Kardus Hufron Pun Jadi Pengusaha Topeng

0
73
Hufron (kaos hitan) sedang membuat topeng tradisional dibantu karyawannya di Dusun Dogaten, Sukorejo, RT 5 RW I Mertoyudan Kabupaten Magelang. (Kompas.com/Ika Fitriana)

MAGELANG – “The power of kepepet” benar-benar dirasakan oleh Muhammad Hufron Safi’i, seorang wirausaha topeng tradisional asal Dusun Dogaten, Sukorejo, RT 5 RW I Mertoyudan Kabupaten Magelang.

Kondisi keuangan yang minim membuat pria 37 tahun itu harus memutar otak agar dapurnya terus mengepul dengan cara yang halal. Terlebih lagi, pada 2007 silam, ia memiliki anak bayi yang masih membutuhkan susu.

Tumpukan kardus bekas susu formula anaknya itulah yang kemudian mengantarkan Hufron menjadi pengusaha. Kala itu ia berpikir bagaimana kardus-kardus itu layak jual dan uangnya bisa untuk membeli susu lagi.

“Saya iseng bikin topeng, semula hanya untuk mainan anak, lalu saya coba kreasikan ternyata ada yang suka dan membeli topeng itu,” ujar Hufron kepada Kompas.com, Sabtu (13/2/2016).

Pria kelahiran 10 Maret 1979 ini memberanikan diri untuk memproduksi topeng dengan jumlah lebih banyak. Berbekal uang Rp 16.000 untuk membeli cat kecil, lem, gunting, tali rafia, spon, dan lain sebagainya, ia lalu membuat topeng yang disukai anak-anak, seperti topeng Leak, Macan, Buto Cakil, Bujang Ganong, dan Reog.

“Saya jual keliling dari kampung ke kampung, ada juga yang saya titipkan pada pedagang yang berjualan di gang depan kampung,” kata Hufron.

Lambat laun, topeng buatan Hufron makin diminati konsumen. Banyak pesanan yang mengalir.

Pekerjaannya sebagai buruh serabutan dan kernet angkutan umum mulai ditinggalkan. Ia kemudian fokus memmproduksi topeng tradisional bersama istri tercinta, Agustina.

Dipasarkan ke berbagai daerah

Meski hanya terbuat dari kardus bekas, tetapi ia cukup inovatif menciptakan topeng yang menarik minat, terutama anak-anak. Topeng buatannya dipatok harga terjangkau berkisar Rp 10.000-Rp 30.000 per buah. Segmen pasarannya memang untuk kalangan menengah ke bawah.

Kini dalam sehari ia mampu memproduksi topeng berbagai jenis hingga 500 buah. Ia pun mempekerjakan tidak kurang dari 50 orang pemuda dan warga sekitar untuk membantunya. Semua topengnya sudah dipasarkan di berbagai daerah, termasuk daerah di Jawa dan luar Jawa.

“Ada pengepul yang sudah rutin membeli topeng-topeng saya, ada juga pedagang eceran,” kata pria alumnus SMP Tempuran Kabupaten Magelang itu.

Agar topengnya semakin diminati, ia terus berkreasi menciptakan topeng dengan beragam karakter tokoh. Hufron mengaku belajar sendiri membuat topeng dengan banyak membaca buku dan internet.

“Prosesnya memang agak lama, kesulitannya kalau musim hujan proses pengecatannya lebih lama. Semuanya memang butuh ketelitian dan ketekunan,” jelas dia.

Kini, usahanya memiliki omset setiap bulannya sekitar Rp 80 juta. Dari hasil itu, ia tidak mengambil keuntungan terlalu banyak. Yang penting baginya adalah bisa membayar karyawan tepat waktu.

“Saya berprinsip harus tepat waktu dalam memberikan upah bagi seluruh karyawan. Saya berkaca pada diri sendiri, bagaimana rasanya kalau tidak punya uang,” ungkap dia.

Merk Nibrenzie

Hufron sudah memberikan merek untuk produksi topengnya, yaitu “Nibrendzie”. Nama itu diambil dari singkatan nama ketiga anaknya, yakni Nibras (13), Rendra (11), dan Kenzie (13 bulan). Hasil jerih payah yang digeluti itu, Hufron pernah menjadi finalis Citi Microentreprenuership Award (CMA) yang diselenggarakan oleh Citi Indonesia dan UKM Center – FE Universitas Indonesia.

Sumber: Kompas.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here