Berikut Kendala UKM Sulsel Untuk Tembus Pasar Internasional

0
135

MAKASSAR – Sejumlah pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Sulsel kesulitan mengekspor produk. Dari sembilan ratus ribu UMKM yang terdaftar, hanya sebagian kecil mampu memasarkan produk ke luar negeri.

Kepala Bidang Pemberdayaan UMKM, Dinas Koperasi dan UMKM Sulsel, Aryanti Aruji mengatakan, hanya sedikit pelaku UMKM yang paham tentang pemasaran produk. Terutama memasarkan produk ke luar negeri. Padahal, produk mereka sudah bisa disejajarkan buatan luar negeri.

“Kami terus mendorong mereka untuk bisa berkembang, khususnya memperbaiki kualitas produknya supaya layak ekspor dan memiliki daya saing di tengah era Masyarakat Ekonomi ASEAN,” kata Aryanti kepada Rakyatku.com, Rabu (27/1/2016).

Menurutnya, kendala UMKM memasarkan produk ke luar negeri tidak signifikan, karena melalui pihak ketiga. Hanya satu atau dua saja yang mengekspor produknya secara mandiri.

“Tahun ini, kami upayakan terus memberikan pelatihan dan pendampingan bagi UMKM yang memiliki produk unggulan. Kemudian terus menggenjot jumlah pelaku usaha melalui program pelatihan wirausaha baru yang telah digagas Pemprov Sulsel sejak 2014,” ujar Aryanti.

Program itu diharapkan mampu menciptakan 100 wirausahawan dari setiap desa. Dengan jumlah desa di Sulsel mencapai tiga ribuan, diharapkan bisa tercipta 300 ribu entrepreneur dalam lima tahun.

Para peserta pelatihan akan diarahkan untuk bisa mengoptimalkan sumber daya di daerah sebagai modal untuk berwirausaha.

Adapun produk UMKM yang menjadi unggulan Provinsi Sulsel dan telah banyak diekspor adalah produk kain sutra dari daerah Sengkang, produk cokelat dari Bantaeng dan produk Kopi dari daerah Toraja.

Terpisah, Pengamat Ekonomi Unhas, Hamid Paddu menilai bahwa produk Usaha Kecil Menengah (UKM) Indonesia sulit untuk menembus pasar ekspor. Terlebih dengan situasi ekonomi global yang sedang melemah.

Sehingga ikut menambah beban produk UKM ke pasar ekspor. Menurutnya, beberapa masalah yang dihadapi oleh UKM untuk menembus pasar ekspor antara lain masalah pembiayaan, standarisasi produk di negara tujuan ekspor, dan pemasaran produk.

“Misalnya dari sisi pembiayaan, perbankan masih enggan membiayai produk UKM meskipun berorintasi ekspor. Hal itu dikarenakan sebagian besar UKM masih belum layak diberikan kredit,” ungkap Hamid.

Meskipun pemerintah lewat Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) siap untuk memberikan penjaminan, asuransi, serta kredit ekspor bagi pengusaha yang berorientasi ekspor, namun porsi bagi UKM masih kecil.

“Akses kredit LPEI yang mencapai Rp42 triliun diberikan kepada pengusaha-pengusaha besar. Sementara UKM selalu dianaktirikan,” ujarnya.

Padahal, menurut dia, banyak produk UKM yang mempunyai potensi besar di pasar ekspor seperti produk handycraft atau kerajinan, aksesoris dan mutiara.

“Kalau memang pemerintah serius, maka keberpihakan terhadap UKM harus ditingkatkan. Karena produk UKM adalah produk yang tak akan pernah habis. Karena selalu diperbaharui,” ulasnya.

Sumber: Rakyatku.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here