Indonesia Bidik Penggemar Kopi di Korsel

0
52
Ilustrasi kopi hitam (sumber: blackcirclecoffee.com)

Masyarakat Korea Selatan (Korsel) rata-rata menggemari kopi. Melihat peluang itu, Indonesia kini membidik Korsel untuk memasarkan kopi khas nusantara.

“Kami perlu melakukan strategi khusus untuk lebih mempromosikan dan membentuk. positioning kopi Indonesia di pasar Korea Selatan,” kata Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong di Jakarta, dalam keterangan tertulis pada Rabu (9/12/15).

Ia mengatakan hampir seluruh kopi yang ada di Korea Selatan barang impor. Angka impornya mencapai US$5,26 juta per tahun.

Lalu, ada 53 persen orang dewasa memilih minum kopi daripada minum minuman lainnya, seperti minuman cokelat, jus, susu, dan minuman ringan. Diperkirakan setiap orang dewasa Korsel mengonsumsi 2 kg per tahunnya.

“Sekitar 90 persen kopi yang diimpor Korea Selatan adalah green beans yang memiliki harga relatif lebih murah dibandingkan kopi yang dihasilkan Indonesia. Namun, Indonesia masih memiliki peluang memasarkan specialty coffee  dan single-origin. Kebanyakan penikmat kopi di Korea Selatan belum mendapatkan informasi mengenai hal tersebut,” kata dia.

Sekadar informasi, pemasok kopi ke Negeri Gingseng ini adalah Brazil dengan pangsa pasar 16,2 persen, Kolombia 15,6 persen, dan Vietnam 10,3 persen. Indonesia hanya berada di posisi ke-15 dengan pangsa pasar dua persen. Nilai ekspor kopi Indonesia ke Korea Selatan sebesar US$8,4 juta.

Thomas mengatakan produk-produk makanan dan minuman memiliki peluang besar masuk dan menguasai pasar Korea Selatan. Potensi produk makanan olahan di Korea Selatan cukup menjanjikan.

“Kami memiliki peluang cukup besar untuk merebut pangsa impor produk makanan olahan di Korea Selatan dan harus kita manfaatkan sebaik-baiknya,” kata dia.

Menurut data Kementerian Perdagangan, pada tahun 2014 impor Korsel untuk makanan olahan mencapai US$8,1 miliar dengan pertumbuhan 7,55 persen per tahun selama periode 2010-2014.

Negara pemasok utama yaitu Amerika Serikat dengan pangsa 20,4 persen, Tiongkok 16,37 persen, Filipina 6,88 persen, Thailand 6,57 persen, dan Australia 6,11 persen. Sementara Indonesia menduduki urutan ke 15 dengan pangsa 1,8 persen.

Sumber: waspada.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here