WTO Sepakat Hapus Subsidi Pertanian, Siapkah Indonesia?

0
34
Ilustrasi pertanian

Jakarta – Indonesia masih membutuhkan subsidi (ekspor) pertanian untuk mendongkrak produksi sekaligus melindungi produk pertanian lokal. Subsidi diperlukan karena skala usaha pertanian di Indonesia relatif kecil, di sisi lain para petani di Indonesia adalah net consumer produk pertanian itu sendiri.

Seperti diketahui, organisasi Perdagangan Dunia, WTO, berhasil mencapai kesepakatan untuk menghapuskan subsidi ekspor pertanian. Negara-negara maju anggota WTO akan menghentikan subsidi dengan segera sementara negara-negara berkembang melakukannya pada akhir 2018. Ini merupakan hasil utama dari pertemuan lima hari tingkat menteri di Nairobi, Kenya, Sabtu (19/12) waktu setempat.

Pengamat pertanian dari IPB Dwi Andreas Santosa mengungkapkan, sejatinya negara di belahan dunia manapun yang masih mengembangkan sektor pertanian tetap memberikan subsidi untuk sektor tersebut. Begitupun dengan Indonesia yang mayoritas penduduknya masih mengandalkan sektor pertanian sebagai penghidupannya. “Subsidi pertanian harus tetap ada di Indonesia, jangan sampa dihapus,” ungkap dia kepada Investor Daily di Jakarta, Minggu (20/12) malam.

Andreas mengungkapkan, memang harus diperjelas subsidi pertanian mana yang akan dihapus. Namun apapun bentuknya, subsidi pertanian tetap diperlukan. Alasannya, selama ini, skala usaha pertanian di Indonesia sangat kecil, akibatnya tidak mampu bersaing dengan sistem pertanian di negara maju yang berskala menengah-besar. “Itu dari skala usaha, di negara maju penguasaaan lahan tiap petani di atas 500 hektare (ha), di Indonesia tak sampai 2-3 ha. Jadi dari sisi skala usaha sudah tidak sebanding,” kata dia.

Menurut dia, di negara maju subsidi pertanian memang tidak diberikan dalam bentuk subsidi harga untuk pupuk, benih, atau bantuan alsintan seperti di Indonesia. Pada 2014 misalnya, Amerika Serikat (AS) memberikan subsidi pertanian miliaran dolar melalui program pengembangan pangan. “Jadi tidak mungkin negara maju tidak memberikan subsidi, tidak akan subsidi dihapus,” kata dia.

Dwi Andreas menyatakan, negara-negara maju memberikan subsidi pertanian tapi seolah bukan subsidi, misalnya bisa saja dengan subsidi asuransi. “Contohnya, lahan di-bero-kan (tidak ditanami untuk mengendalikan produksi) saja ada uang jaminan yang dibayar oleh pemerintah, padahal petani sudah kaya raya, jadi pada kenyataannya subsidi pertanian itu tidak akan dihapus,” ungkap dia.

Sumber: Beritasatu.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here