LKM Muncul, Rentenir Minggir

1
70
Ilustrasi Rentenir

Kurangnya modal usaha dan tidak adanya jaminan untuk meminjam modal ke perbankan membuat pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) menjadi sasaran empuk lintah darat (rentenir). Salah satu pelaku UKM yang harus berurusan dengan rentenir ini adalah Taufik.

Pinjaman yang diperoleh oleh pedagang sayuran ini dijadikan modal usaha. Namun bukannya semakin maju usaha yang dijalankannya justru tidak mendapatkan untung. Karena hasil yang tidak seberapa dari penjualan hanya untuk membayar cicilan yang disertai dengan bunga yang mencekik leher para pengusaha kecil ini.

“Boro-boro dapat untung, hasil penjualan cuma cukup untuk membayar hutang dengan rentenir. Hal ini kami lakukan karena susahnya proses untuk mendapatkan pinjaman dari lembaga resmi. Jadi sangat terpaksa kami pinjam uang panas ini,” ujar Taufik.

Keadaan ini berubah setelah, adanya Lembaga Keuangan Mikro Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Sriwijaya yang berlokasi di Jl Dwikora. Melalui BMT Sriwijaya ini, dirinya bisa terlepas dari jeratan rentenir.

“Jika meminjam uang di rentenir pinjaman Rp 1 juta, harus mengembalikan menjadi Rp 1.3 juta plus potongan pinjaman Rp 50 ribu, sehinga dana pinjaman bersih yang di peroleh hanya Rp 950 ribu. Sedangkan jangka waktu yang untuk melunasi pinjaman hanya satu bulan. Berbeda halnya jika meminjam di Koperasi BMT Sriwijaya ini kami hanya membayar bunga sebesar 2.5 persen dari dana yang dipinjam,” ujarnya.

Hal yang sama juga pernah dialami oleh Yuliana, pedagang kerupuk di kawasan Abihasan. Dia mengakui, uang yang diperoleh dari hasil pinjaman rentenir tidak sepenuhnya didapat.

“Seingat saya meminjam uang Rp 1 juta. Yang saya terima hanya Rp 950 ribu dengan dalih 50 ribu merupakan biaya administrasi dengangan pengembalian 1,2 juta. Alhamdulillah sekarang kami tidak perlu repot lagi meminjam dengan rentenir karena saat ini sudah ada LKM BMT Sriwijaya. BMT Sriwijaya memberikan pijaman dengan bunga sangat ringan dan kami juga diberikan pelatihan dan pengarahan,” ujarnya.

Sementara itu, Nurman Apandi mengatakan Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Sriwijaya didirikan bersama rekan LSMnya. BMT Sriwijaya ini awalnya diarahkan sebagai pusat latihan enterprenuer dan saat ini berkembang menjadi sebuah lembaga pembiayaan dengan sistem syariah.

BMT Sriwijaya ini awalnya berlokasi di Kawasan KM 7 dan saat ini pindah di Jl Dwikora menyewa sebuah rumah pribadi. “Awalnya penggurusan dari LKM ini merupakan anggota penggurus LSM yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan. Namun ketika mendapatkan dana bantuan sosial dari pemerintah Rp 250 juta, 40 persenya ia gunakan untuk modal mendirikan Koperasi BMT Sriwijaya,” ujarnya.

Modal awal Koperasi BMT Sriwijaya ini Rp 98 juta dan saat ini dana yang ada sudah menjadi Rp 200 juta. Awalnya Koperasi BMT ini hanya beranggotakan 20 orang dan saat ini sudah beranggotakan 60 orang. Anggota tersebut kebanyakan dari nasabah rentenir, namun dengan adanya Koperasi BMT Sriwijaya perlahan tapi pasti mereka beralih meminjam dana di Koperasi BMT Sriwijaya.

Di Koperasi BMT Sriwijaya ada tim survei lapangan yang hampir setiap hari mendapati masyarakat yang meminjam uang di rentenir. Dari tim survei ini, pihaknya mulai melakukan pendekatan kepada para pedagang yang terlibat urusan dengan rentenir ini.

Dengan adanya tim survei lapangan, Koperasi BMT Sriwijaya saat ini mempunyai binaan mulai dari pedagang kecil, seperti pedagang sayur, kerupuk, keripik, ikan salai, es krim dan lain-lain.

Untuk bisa meminjam dana harus menjadi anggota di Koperasi BMT Sriwijaya. Setiap anggota menyetorkan dana wajib Rp 10 ribu per bulan dan simpanan pokok Rp 20 ribu per bulan. Dana yang bisa dipinjam mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 10 juta dengan masa pengembalian lima bulan hingga 20 bulan.

“Harapan kami kedepanya akan ada bantuan dana dari pemerintah untuk mengembangkan Koperasi BMT Sriwijaya ini. Apa lagi sekarang LKM wajib berbadan hukum dan dikukuhkan OJK. Saat ini kami sedang melakukan proses pendaftaran pengukuhan ke OJK. Kalau Koperasi BMT Sriwijaya bisa menjadi LKM yang pertama di kukuhkan dan ingin dijadikan contoh kami sangat senang dan terbuka untuk berbagi pengalaman atau ilmu,” ujarnya.

Sejak tanggal 8 Januari 2015 LKM yang beroperasi wajib memperoleh izin usaha dari OJK melalui pengukuhan dan pada tanggal 8 Januari 2016 merupakan batas waktu kewajiban memperoleh izin usaha tersebut. Jika LKM belum berbadan hukum maka akan dikenakan sangsi pidana. Bentuk badan hukum LKM bisa berbentuk koperasi atau perseroan terbatas (PT).

Pemerintah memberikan payung hukum kepada lembaga keuangan mikro (LKM). Sesuai dengan Undang-undang Nomor 1 Tahun 2013 tentang LKM, otoritas jasa keuangan (OJK) diberikan mandat untuk melaksanakan pembinaan, pengaturan, dan pengawasan LKM mulai tahun 2015. Dalam rangka melaksanakan pembinaan, pengaturan, dan pengawasan LKM, OJK melakukan koordinasi yang erat dengan pemerintah daerah, Kementerian Dalam Negeri, dan Kementerian Negara Koperasi dan Usaha Kecil Menengah.

“Saat ini sudah ada 19.334 LKM di Indonesia yang diinventarisasi, namun belum satupun yang di kukuhkan. Untuk di Palembang ada 623 LKM yang sudah diinventarisasi, data tersebut fluktuatif karena untuk data keseluruhanya masih belum bisa didata,” ujar Naomi Tri Yuliani Kepala Bagian Pengaturan LKM, Direktorat LKM OJK Pusat beberapa waktu lalu.

Naomi mengatakan, LKM merupakan lembaga keuangan yang khusus didirikan untuk memberikan jasa pengembangan usaha dan pemberdayaan masyarakat. Pengembangan usaha bisa melalui pinjaman atau pembiayaan dalam usaha skala mikro kepada anggota dan masyarakat.

Dalam mengelolaan simpanan, maupun pemberian jasa konsultasi pengembangan usaha LKM tidak semata-mata hanya mencari keuntungan, namun keuntunganya LKM tersebut digunakan untuk keberlangsungan LKM.
Simpanan atau dana yang dipercayakan oleh masyarakat kepada LKM bisa dalam bentuk tabungan dan deposito berdasarkan perjanjian penyimpanan dana. Penyediaan dana pinjaman oleh LKM kepada masyarakat harus dikembalikan sesuai dengan yang diperjanjikan sesuai dengan prinsip syariah.

Sumber: Tribunnews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here