Kolaborasi Terpadu Ala Desa Wisata Jawa Tengah

0
38
Mahasiswa asing menabuh gamelan di Desa Wanurejo. Salah satu bentuk aktivitas kebudayaan yang ditawarkan desa wisata penyangga Candi Borobudur. (suaramerdeka.com/ Eka Handriana)

TIINA Jaksman (27), mengoyang-goyangkan tubuhnya beriringan gending gamelan yang dimainkan di sebuah joglo di Desa Wanurejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang.

“Lagu apa ini? Ini Bahasa Jawa? Artinya apa?” gadis asal Estonia itu memberondong pertanyaan kepada pemandunya. Maklum, saat itu Tiina memang sedang mempelajari budaya Jawa di Universitas Negeri Semarang, lewat program pertukaran mahasiswa Darmasiswa.

Tiina manggut-manggut saat mendapat penjelasan. Ia lalu mengerti bahwa tembang yang baru didengarnya bertajuk “Sluku Sluku Bathok“. Biasa ditembangkan untuk melepas lelah. “Pak jentit lolobah, artinya hidup itu harus bekerja, bergerak. Karena kalau sudah tidak bergerak, berarti mati. Hidup harus berkarya, bukan hanya untuk kita sendiri, tapi untuk orang lain. Namun dalam bekerja juga harus mengingat istirahat, melepas lelah. Istirahat, sluku-sluku bathok, mengendurkan badan,” papar Noeryanto panjang lebar.

Tapi Tiina belum puas, ia ingin tahu bagaimana memainkan sluku-sluku bathok dengan gamelan. Girang bukan kepalang, senyum lebar di wajahnya saat Noeryanto mempersilakan rombongan Tiina memainkan gamelan. Selesai nggamel, 15 mahasiswa asing rombongan Tiina berkeliling Wanurejo menggunakan sepeda onthel.

Melewati rumah-rumah penduduk, mereka melihat beberapa stupa di halamannya. Mereka juga mampir melihat pembuatan ceriping di pabrik rumahan, hingga pembuatan bulu mata palsu. Mampir membeli jamu di dekat Candi Pawon sambil mendapat penjelasan tentang Tari Kinara Kinari yang dilakukan di candi tersebut tiap bulan purnama.

Setelahnya mereka lalu kembali ke pendopo di dekat joglo gamelan, untuk makan siang. Makanan yang disediakan adalah makanan lokal yang keseharian disantap penduduk setempat.

Desa Wisata

Wanurejo dikenal sebagai desa tua tempat para pemahat batu Candi Borobudur yang dibangun pada abad VIII. Letaknya bersebelahan dengan kawasan Candi Borobudur. Dalam peta pariwisata Jawa Tengah, Wanurejo merupakan kawasan desa wisata yang menyangga pusat tujuan wisata Candi Borobudur.

Noeryanto yang juga mengelola Koperasi Wisata Daerah (Koparda) Kabupaten Magelang mengatakan, pihaknya juga menyediakan berbagai paket wisata. Mulai dari yang singkat, menengah, dan paket panjang yang dilengkapi dengan bermalam. Jika pelancong ingin menginap, tersedia sekurangnya 400 kamar di rumah-rumah penduduk.

“Konsepnya homestay, ada 80 rumah yang bisa ditinggali. Kami menggarap konsep wisata tilik ndeso. Pelancong yang mengunjungi Borobudur ditawari untuk keliling desa. Mereka bisa melihat kehidupan masyarakat, bahkan memiliki pengalaman hidup di desa. Bisa ikut ke sawah, membatik dan makan makanan desa,” terangnya.

Menurut Noeryanto, pengelolaan wisata tersebut mampu menggerakkan ekonomi Desa Wanurejo. Dikelola serius sejak 2009, jumlah kunjungan ke Wanurejo terus meningkat. Tahun 2012, pengunjung ke Wanurejo yang dicatat Koparda yang masuk lewat Dusun Jowahan mencapai 3.700. Tahun 2014 meningkat menjadi 4.000-an pengunjung. Belum termasuk catatan yang masuk lewat pengelola lain.

Berdasar catatan Koparda, kunjungan tersebut bisa mendatangkan pendapatan Rp 350 juta hingga Rp 400 juta per tahun yang terbagi ke seluruh masyarakat yang terlibat. “Kami merangkul semuanya. Tukang ngarit, tukang ani-ani, tukang andong, perajin, tukang masak. Karena seluruh sisi kehidupan desa kami secara rinci perlu ditampilkan untuk memberikan pengalaman yang baik kepada wisatawan,” demikian Noeryanto.

Selain Wanurejo, desa wisata penyangga Candi Borobudur yang lain adalah Candirejo. Kunjungan ke desa ini lebih tinggi dibanding Wanurejo. Mencapai lebih dari 8.000 pengunjung di tahun 2014. Tahun ini hingga bulan Oktober, kunjungan telah mencapai 7.000.

“Didominasi wisatawan asing, sampai 90 persen,” kata Tatak Sariawan yang memimpin pengelolaan desa wisata Candirejo. Tak kurang dari Rp 650 juta, pendapatan masuk ke desa itu, terbagi ke seluruh sektor pendukung. Candirejo menawarkan konsep pariwisata berbasis masyarakat. Melibatkan masyarakat petani dan perajin di Candirejo.

Pertanian lahan kering, pengetahuan tentang palawija, tumpang sari, konservasi, teknik cabut singkong hingga menanam buah ditawarkan pada pengunjung. Pembuatan slondok dan anyaman bambu tak ketinggalan. Dalam sekali kunjungan, maksimal Desa Candirejo bisa menampung 200 pelancong dengan paket menginap atau 600 pelancong tanpa menginap.

Kepala Bidang Promosi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah, Trenggono mengatakan Wanurejo dan Candirejo merupakan salah satu desa wisata di Jawa Tengah yang layak jual, termasuk kategori andalan. Data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah menunjukkan, Jawa Tengah memiliki 126 desa wisata. Terdiri dari 20 desa wisata andalan, 85 desa wisata unggulan dan 21 desa yang memiliki potensi untuk dikembangkan.

Saat ini, dinas terus melakukan pendataan ulang untuk mengetahui desa yang berkembang dalam rintisan, dan desa wisata yang justru mati. Faktanya, meski ada penggolongan kategori andalan dan unggulan dengan ukuran potensi daya tarik, namun hanya 25 desa wisata di Jawa Tengah yang layak jual. Sebab, kelayakan jual tak cukup bermodalkan daya tarik.

“Masih butuh aksesibilitas yang mudah, fasilitas yang tersedia dan kelembagaan. Aksesibilitas dan fasilitas biasanya sedikit melekat dengan daya tarik. Yang harus benar-benar dibangun adalah kelembagaan, banyak desa wisata yang mati kerena kelembagaannya tidak jalan,” demikian Trenggono.

Kelembagaan

Menurut Trenggono, kelembagaan yang baik adalah kunci untuk mengolah berbagai potensi dan mengemasnya hingga memiliki nilai jual. Senada, Tatak Sariawan yang mengetuai Forum Desa Wisata Jawa Tengah mengatakan persoalan utama dalam pengembangan desa wisata adalah kelembagaan.

“Potensi banyak. Masing-masing desa memiliki kekhasan dan keunikannya masing-masing. Tapi banyak pula desa wisata yang hanya nama, tapi pengelolanya tidak ada, tidak terlembagakan. Akhirnya, kegiatannya ya masih secara umum,” kata Tatak.

Menurutnya, untuk menjadi desa wisata yang bisa menjual keunikan yang sebetulnya sudah biasa bagi penduduk desa tersebut, perlu proses bertahap dan tentunya waktu. Seperti Candirejo yang butuh tujuh tahun untuk bisa menjadi sekarang. Tahapan yang dilalui Candirejo, pertama menyinergikan pandangan pemerintah desa dan masyarakat.

“Tokoh pemuda, masyarakat, kyai, pelaku kesenian diajak berkumpul menyamakan visi misi membentuk sebuah desa yang menjadi tujuan wisata berbasis masyarakat,” kata Tatak. Kemudian dilanjutkan dengan pembentukan kelompok kerja, tim dan pembagian tugasnya jelas.

Kedua, dilakukan sosialisasi ke tingkat bawah, ke beberapa dusun. “Harus memilih orang-orang yang memiliki komitmen untuk berjuang dan berkorban, bagian ini yang tersulit,” ujar Tatak. Ketiga, penggalian potensi gambaran umum desa, mengelompokkan sumber daya dan hal lain secara rinci.

Keempat, melakukan sosialisasi kepada pemuda di desa tersebut. Anak-anak muda dididik menjadi pemandu lokal. Karenanya harus ditingkatkan kapasitasnya, baik tentang pengetahuan tentang desanya sendiri maupun tentang bagaimana cara melayani pengunjung. Tatak dan timnya mengatakan, sosialisasi harus sabar.

Dilakukan melalui forum-forum warga, sehingga tak menjadikannya seperti indoktrinasi yang dipaksakan. Kelima, dilakukan uji coba dan setelah itu diluncurkan. “Setiap desa yang memiliki potensi perlu didorong untuk menjualnya. Namun harus siap lebih dulu,” tandas Tatak.

Hal yang sama juga dilakukan di Wanurejo. Noeryanto mengatakan, sejarah desa yang dulunya bernama Vanuarejan harus dimengerti dengan baik oleh pemandu. Harapannya, pulang dari Wanurejo tak hanya membawa pengalaman, namun juga pengetahuan dan kearifan budaya lokal. Sehingga desa wisata tidak hanya berhenti pada wisata alam, cinderamata dan usaha kecil masyarakat desa saja.

Pelaku kesenian di Lasem, Kabupaten Rembang yang dikenal dengan Day Milovich menggarisbawahi, istilah menjual jangan menjadikan “kekayaan” desa sebagai komoditi semata. Masyarakat desa setempat seharusnya mengetahui dan mempraktikkan secara natural kebudayaan turun-temurun, keseharian, yang sering dibahasakan sebagai kearifan lokal.

“Masyarakat harus mencintai dulu kebudayaannya sendiri. Baru mengemasnya dengan dikawal oleh pengetahuan, lalu menjualnya,” kata Day. Jadi, bukan karena desa menjadi tujuan wisata lalu masyarakat baru bersedia menjalani budaya pendahulunya. Desa wisata sebaiknya bukan sekadar menjual tur domestik. Melainkan merangkai mozaik kelokalan, lalu membungkusnya untuk dipertunjukkan kepada masyarakat global sebagai kebudayaan yang setara.

Sumber: Suaramerdeka.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here